Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 97. Bikin Kacau



Sarah adalah orang yang tidak disangka-sangka oleh Leo yang tiba-tiba saja datang malah di pagi hari seperti ini rasa-rasanya tidak sopan sekali datang ke tempat kerjaan orang tapi sudah memintanya untuk mengobrol sebentar gila sekali Leo menolak karena chatting dan juga telepon tadi malam saja tidak digubris apalagi pertemuannya sekarang.


Hari ini Leo bener-bener tidak bisa membendung rasa kangen yang terlalu mendalam tapi ia berpura-pura untuk biasa saja karena ego dan juga hatinya sangat yakin apabila kembali ke masa lalu maka akan merusak sebuah mimpi-mimpi yang terjadi di masa depan, ya walaupun tidak semua manusia bakalan berpikir seperti itu tapi ada sebagian orang yang bener-bener ngerasain apa yang kita lakukan dan apa yang kita jalani itu pasti ada namanya pro dan kontra.


"Kamu ngapain tiba-tiba saja datang ke sini terus malah mau ngobrol sama aku ini udah jam kerja ini baru pagi jangan bikin aku emosi jadi aku harap kamu mendingan pulang kerumah atau kamu mendingan lanjut aja kerja karena ini baru pagi aku nggak mau lah bikin masalah sama kamu! Dan Kamu sendiri yang bilang mau tinggalin aku soalnya aku banyak waktu yang enggak bisa aku berikan sama kamu, udahlah aku males banget buat membahas apa yang terjadi di masa lalu mendingan kamu kerja aja dan kamu fokus sama masa depan kamu!" Sarah sama sekali tidak peduli dengan ucapan Leo ia tetap saja memaksa agar bisa mengobrol berdua satu persatu para karyawan yang ada di kantor ini berdatangan bahkan melihat sesuatu yang selama ini ia sembunyikan dan mereka perlahan-lahan berbisik-bisik karena apa yang terjadi hari ini benar-benar sangat wow banget.


Leo sedikit merasa malu dan di bawahnya berkurang dikarenakan kedatangan Sarah yang tidak diundang ini dengan cepat ia pun menarik tangan Sarah ke pinggiran agar bisa mengobrol berdua mengikuti atas kemauannya tersebut.


Dari kejauhan Tania baru saja turun dari mobil tapi sebelumnya Mario memberitahukan kalau misalkan bos yang kemarin itu sedang asyik mengobrol dengan seorang perempuan di pagi hari ia mengompor-kompori agar tidak dekat dengan siapapun. "Ya udah kalau gitu aku berangkat dulu ya soalnya aku pengen kerja udahlah biarin aja itu urusan mereka kamu hati-hati pulangnya ya dan kamu kuliahnya jangan sampai bolos dan kamu harus bisa menyimak pelajaran yang nanti diberikan sama dosen!"


Tania melihat obrolan mereka benar-benar sangat serius sepertinya mereka membahas tentang masalah pribadi mereka ya walaupun tidak bermaksud untuk mendengarkan tapi sangat jelas sekali obrolan itu terpampang nyata bahkan karyawan lain pun juga melihat dan mendengarkan. "Sudahlah Kamu kenapa sih tiba-tiba saja ngomong kayak begini terus kamu curhat tentang masalah pacar kamu itu bukan masalah aku lagi dan aku bukan siapa-siapa kamu jadi kamu stop membuat berharap aku bakalan balik lagi sama kamu!"


Sarah meneteskan air mata yang sangat deras ia benar-benar tidak mau kehilangan Leo dalam hidupnya seakan-akan ia merasa tersakiti padahal jelas-jelas ia meninggalkan Leo di saat Leo masih ingin memperjuangkan hubungan mereka dan bahkan ia rencananya pengen menikah dengan Sarah tapi ternyata semua itu sia-sia dipatahkan oleh ucapan Sarah yang benar-benar menyakitkan perasaan Leo dan sampai saat ini. "Sudah mending kamu pulang atau kamu kerja ngapain sih kamu cerita sama aku dan nggak akan pernah guna nggak akan pernah ngefek kok sama aku aku sama sekali nggak mau membuka hati aku sama kamu!"


Leo di dalam hati yang paling dalam tidak tega meninggalkan Sarah menangis seperti itu rasanya pengen memeluk dan menenangkannya agar tidak menangis lagi, tapi karena rasa kecewa yang sangat mendalam ia pun berusaha untuk tegar agar Sarah tidak seenaknya saja menganggap kalau misalkan Leo memang benar-benar membutuhkannya.


Dengan cepat ia pun membubarkan karyawan yang berdiri begitupun dengan Tania dengan cepat pula ia masuk ke dalam ruangannya padahal baru pagi hari seperti ini sudah mendapatkan mood yang sangat buruk.


"Gimana dia udah diusir belum sama satpam gue males banget melihat wajah dia tahu nggak sih, gara-gara dia gue enggak mau buat pacaran gue trauma sama perempuan gue udah punya rencana buat menikah dan gue juga ngumpulin uang buat acara resepsi kita berdua. Tapi kenapa dia kayak begitu sama gue jelas-jelas gue ini bukan laki-laki yang yang playboy atau kayak gimana mempermainkan wanita."


"Udah makanya gue kasih tahu lo cari perempuan yang benar-benar bisa menghandle hidup lo dan juga menerima kekurangan yang ada di diri lo gue yakin kok semua bayang-bayang salah itu bakalan hilang secara perlahan-lahan."


"Lo ngomongnya gampang banget sih gue tahu apa yang lo maksud tapi tidak semudah itu mendapatkan perempuan yang bener-bener sayang dan cinta sama gue! Tidak semudah itu bahkan pekerjaan gue yang menutup gue buat kerja hampir 24 jam dan gue juga nggak punya waktu buat bisa bareng sama pasangan terus ya walaupun mungkin 1 atau 2 hari itu pun 1 bulan mana mungkin sih perempuan mau kayak begitu?" Leo benar-benar merasa gusar dengan masalah pekerjaan ditambah juga pasangan yang tidak pernah mengerti di dalam hidupnya bahkan sampai sekarang ia belum pernah menemukan perempuan yang benar-benar menerimanya apa adanya.


Roni memberikan semangat kepada Leo agar Leo bisa mendapatkan seorang perempuan yang benar-benar menjalani hidup bareng beserta kekurangan-kekurangan yang sudah ditetapkan yang gak akan pernah berubah. "Makasih banyak ya udah kasih masukan sama gue. Ya udah kalau gitu gue kerja dulu ya!" Roni dengan cepat keluar dari ruangannya dan Tania pun bergantian untuk masuk ke dalam ruangan le untuk memberikan berkas yang ia bawa dan ia taruh di atas meja.


"Ya makasih banyak ya udah kalau dia sebentar lagi bakalan meeting kita dan ya udah kamu bisa keluar sekarang!"


"Ngapain lagi maksudnya kamu berdiri situ kamu mau ngelihatin saya sedih ya?"


"Itu belum ditandatangan Pak?"


"Oh, iya nanti saya bakalan tanda tangan. Ya udah kalau gitu kamu keluar aja deh sebelum saya marah-marah!"