Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 12. Pertemuan Giska & Juan



Mama menerima telepon dari seseorang yaitu temannya mengajaknya untuk bersilaturahmi hari ini secara mendadak. Mama pun terkejut sekali dengan ajakannya tapi akhirnya ia mengiyakan juga karena mama tipe orang yang suka yang namanya ngumpul-ngumpul. "Ya udah kalau gitu setengah jam lagi saya akan ke sana. Kenapa sih suka banget yang namanya mendadak?"


"Ya udah kalau gitu saya ganti baju dulu dan siap-siap ya!" Setelah mama menutup sambungan telepon tersebut ternyata nggak cuma mama aja yang ke sana mama pun mengajak Giska untuk ikut kesana acara silaturahmi antar ibu-ibu yang sudah lama tidak bertemu ya kalau bisa dibilang si reunian. Awalnya Giska menolak karena ia tidak mau ikut dengan mama, tapi karena mama membujuk terus-menerus dan memaksanya untuk ikut agar mereka tahu kalau mama punya anak sepertinya maka dari itu akhirnya sebagai anak yang baik Giska pun menurut. "Ya mah aku ikut sama mama tapi aku pakaiannya biasa aja ya nggak usah yang menor."


Giska adalah cewek yang sangat males banget untuk kumpul-kumpul apalagi dengan keluarga besar. Ia harus berdandan sangat sederhana sekali padahal banyak sekali baju-baju yang ada di dalam lemarinya. Mama setiap kali mau jalan atau acara yang resmi ia selalu saja menolak. Makanya mama mengikuti Giska sampai ke dalam kamar karena ia tahu pilihan baju anaknya sangat sederhana seperti baju yang ada di rumah dan nggak ada bedanya maka dari itu ia sengaja memilih kan baju untuk diska yang dibedakan antara baju di rumah dan baju keluar dari rumah.


"Mah aku pakai baju yang ini aja ya?"


"Mama gak mau tau kamu harus pakai baju yang ini?" Dengan terpaksa bisa pun mengiyakan suruhan dari mama dan mengambil baju yang sudah mama pilih di dalam lemari. Mama menutup pintu kamarnya dan berharap Giska udah berdandan dengan cantik dengan balutan dandanan yang begitu elegan berbeda dari sebelum-sebelumnya.


"Aduh gimana nih gue sama sekali gak suka lagi dandan-dandan menor gitu." Karena ia tidak mau membangkang kepada mama ia pun mengikuti walaupun dia tak mau berdandan seperti mama inginkan ya inginnya adalah memakai lipstik biasa tanpa ada embel-embel maskara atau blush-on sama sekali karena menurutnya itu ganggu banget di wajah dan seakan-akan ada yang nemplok di wajah.


"Ya udah deh asal aja, yang simple dan gak terlalu menor."


Giska keluar dari kamar, mama sudah siap dengan dandannya yang begitu berbeda jauh dengan Giska yang lebih santai dan sederhana kalau mama lebih heboh dan lebih meriah. Itulah perbedaan di antara mereka berdua. Mereka langsung saja masuk ke dalam mobil dengan sopir yang akan mengantarkan mereka berdua ke acara silaturahmi. "Kamu kalau misalkan di sana jangan diam aja ya ambil makanan dan minumnya sendiri aja dan terus kalau misalkan pengen ngobrol-ngobrol sama siapapun ngobrol aja jangan aku dan jangan diem." Ucap mama kepada Giska yang biasanya hanya diam dan bingung harus ngapa-ngapain.


"Iya mah aku tahu kok. Dan aku juga nggak diam juga paling kalau misalkan aku pengen makan aku ambil makanan apa misalkan aku pengen minum aku ambil minum."


"Ya udah kalau gitu bagus deh ada kemajuan. Lain kali makeup kamu sedikit agak menoran ya itu kamu kayak nggak pakai make up pucat banget."


"Ya masak kayak mama sih make up nya nanti dibilang orang kaya orang tua lagi bukan jalan sama anaknya tapi malah jalan kayak temen saking tuanya aku penampilan kayak mama." Mama hanya bisa menggeleng sahutan dari Giska.


***


Turunlah mereka dan supir pun meninggalkan mereka berdua ibu dan anak. Acara silaturahmi begitu ramai sekali dari segenap rentan usia dominan perempuan yang datang. Giska pun duduk di bangku yang sudah di sediakan. Mengambil makanan dan minuman yang ada di sana.


Ada sosok cowok yang tak asing di pikirannya. "Itu beneran Juan bukan sih?"


"Juan?" Ia memanggil lalu laki-laki itu mengarah padanya.


"Hei, kok bisa ada di sini?"


"Ini rumah sepupu gue. Kalau lo kenapa bisa ada di sini?"


"Gue ke sini nganterin nyokap gue ketemu sama temen lamanya." Giska pun mengangguk. Ia sama tak menyangka bisa ketemu dengan Juan anggota geng Mario.


"Maaf banget tadi gue manggil lo karena kayak kenal aja."


"Gak nyangka ya kita bisa ketemu di sini."


"Iya gak nyangka banget. Lo ternyata gak pendiam-pendiam amat ya orangnya asik juga di ajak ngobrol."


"Dan lo juga bukan cowok yang arogan atau sombong banget ya orangnya gue pikir lo sombong dan angkuh gitu."


Mereka berdua sama-sama tertawa dengan respon mereka selama ini di sekolah ternyata tidak selamanya apa yang mereka lihat itu sama.


Mereka berdua pun ngobrol-ngobrol asik dan ternyata nyambung karena selama ini ketika mereka di sekolah bete sama sekali tidak pernah beradu cerita atau bahkan ngobrol sedikit pun mereka hanya bisa saling tatap satu sama lain dan mereka pun tak ada pernah yang namanya saling sapa ketika mereka bertemu. Sungguh mereka ansos banget dalam lingkungan karena yang bisa tahu tujuan merupakan salah satu geng Mario dari untuk saling mengenal satu sama lain walaupun mereka saling tahu bukan saling mengenal. "Gue boleh nggak minta nomor HP lo?"


"Nomor HP gue? Buat apa? Kan kita nggak sekelas jadi buat apa?"


"Emang minta nomor HP harus sekelas dulu baru dikasih? Gue banyak punya nomor HP orang tapi gue nggak sekelas sama itu orang? Jadi lo mau ngasih nggak nomor HP lo jarang-jarang loh cowok kayak gue minta HP nomor orang lebih dulu?"


"Makin lama lo makin nyolot ya angkuh banget.... Ternyata." Batin Giska dalam hati.


Giska pun akhirnya memberikan nomor teleponnya kepada Juan, dan langsung di simpan.


***


Akhirnya acara silaturahmi pun telah usai. Perut terasa begah sekali karena banyak banget mengambil makanan dan minuman lebih dari satu porsi karena makanannya enak banget. Tercetuslah di pikiran mama menanyakan pertanyaan kepada Giska. "Tadi itu teman kamu ya?"


"Iya mah teman sekolah aku tapi gak terlalu dekat juga seangkatan aja sih."


"Pantesan aja kamu ngobrol banget sama dia tadi ternyata teman satu sekolah kamu mama pikir kamu tiba-tiba kenalan sama dia."


"Aku kan enggak begitu akrab banget kalau misalkan tiba-tiba kenal nggak terkecuali aku tuh udah kenal dulu sama itu orang baru deh aku kenapa atau ngajak ngobrol. Mama kan tahu sendiri aku kayak gimana orangnya?"


"Oh gitu, ya udah mana masuk dulu ya ke dalam."