
Vita sama sekali tidak menyangka kalau misalkan Mario bakalan ke rumah karena pertemuan ini lama banget baru aja ketemu dan setelah tujuh purnama ternyata baru aja ketemu. "Hei apa kabar?"
"Baik, ada sesuatu hal yang pengen gue brolin sama lo."
Jantungnya berdegup lebih kencang dari perasaan sebelumnya ia yakin banget kalau misalkan Mario bakalan ngajakin balikan. Tapi ia berpura-pura tidak tahu dan berpura-pura seakan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Mario ke sini atau ke rumahnya. "Bentar ya gue buatin minuman dulu di dapur. Lo tungguin di sini aja dulu." Mario mengangguk.
Dengan gerak cepat ia menuju ke dapur dan membuatkan minuman kepada Mario. "Gue yakin banget kalo misalkan dia pengen balikan sama gue. Ah seneng banget manjur juga apa yang di kata oleh Tami waktu itu hahaha." Ia mengingat kembali ide gila dari Tami.
Ia menaruh minuman itu si atas meja. "Makasih ya gak usah repot-repot juga gak masalah. Gue cuma pengen ngomong doang sih sama lo. Boleh? Ini hal penting. Gue harap lo paham dan mengerti dulu ya." Vita hanya menjadi pendengar yang baik untuk Mario. Ia mendengarkan dengan seksama.
"Gue mau balikan sama lo, atas dasar kemanusiaan. Dan gue pengen bahagiakan lo dan lo harus banyak berubah ya. Supaya apa yang lo lakukan bakalan baik dan berguna."
Deg! Ia memegang jantungnya yang sudah tidak dapat di prediksi sama sekali rupanya seperti ini rasanya di jatuhkan lalu di naiknya setinggi-tingginya. "Jadi gimana? Lo jelasin dong lebih detail lagi biar gue paham nih."
"Gue pengen balikan sama lo. Apakah lo mau?"
Pertanyaan kedua sungguh tak mungkin ia salah dengar ini pasti benar. Ia membuka sela-sela rambut agar mendengar dengan jelas ekspresi itu sungguh sangat begitu pas banget mengekspresikan apa yang sedang terjadi.
"Iya gue----- gue mau. Lo beneran masih cinta sama gue?" Mario terdiam sejenak, ia menatap kedua mata Vita yang sudah bahagia banget dengan terpaksa ia mengangguk paham.
"Hahaha oke kalau gitu gue mau." Masih bingung topik apa yang harus ia bahas kali ini. Dan apa yang ia harus ia lakukan. Dengan cepat sekali ia menghubungi Tami untuk meminta pendapat agar bisa berjalan lancar namun sebelumnya ia mengucapkan terima kasih terlebih dahulu untuk sebelumnya karena sudah membantunya bisa balikan kepada Mario.
"Oke mulai besok gue bakalan jemput lo di rumah. Ya udah kalau gitu gue langsung aja pulang ya soalnya ada kesibukan yang gak bisa di lewatkan." Sahutnya yang begitu cepat sekali.
"Ya udah kalau gitu makasih banyak ya. Oke gue siap buat lo jemput gue!" Vita membiarkan Mario untuk pulang ke rumah walau hanya sebentar saja. Ia masuk ke dalam rumah dan langsung menghubungi Tami untuk kebahagian ini.
***
Vita masuk ke dalam kelas terlihat sekali
"Makasih banyak ya gue senang banget dikasih ini ini kan mahal banget yang baru aja tadi malam gue lihat di Google ternyata mau beliin gue ya ampun baik banget sih sahabat gue."
"Makanya kalau misalkan lo pengen hadiah yang lebih banyak lagi dan lebih mahal lagi pokoknya lo harus bantuin gue terus sampai gue bener-bener jadian dan balikan lagi ya walaupun udah balikan juga sih tapi kan belum resmi juga."
Hanya itu saja syarat dari Vita, ia dengan cepat mengangguk setuju dengan syarat tersebut mereka bersalaman dan menjadi timbal balik satu sama lain. "Pokoknya gampang deh kalau misalkan lu bener-bener pengen deket lagi sama Mario gue bakalan kasih tahu lo tips tips supaya lo bisa deket sama dia tapi lo jangan lupa sama hadiah yang gue pengen."
"Ah secara nggak langsung memeras gue kan tapi ya udah deh karena lo udah baik banget sama gue dan karena lu udah mau bikin rencana gue berhasil yaudah gue rela deh." Senyumnya yang bersemangat sekali.
"Eh lo udah belum ngerjain pr-nya?"
"Hah? Pr apaan?"
"Ya pr lah masa lupa sih kalau misalkan ada PR ya ampun hari ini kan pelajaran matematika yang susah banget terus gurunya juga killer banget ayo buruan itu nggak berapa menit lagi kita bakalan masuk!" Dengan cepat mereka mengeluarkan buku tulis atau buku pr. Ternyata sebelum menulis jawaban yang diambil dari jawaban teman sekelasnya tiba-tiba suara bel pun berbunyi. Para siswa ataupun siswi pun masuk ke kelas masing-masing kan hari ini adalah pelajaran matematika yang paling killer mereka selalu aja deg-degan dan paling nggak diam seketika seribu bahasa tanpa mengeluarkan sama sekali kalau misalkan mereka nggak ngerjain PR dan tidak mengerjakan tugas bisa-bisa Vita dan Tami dihukum di tengah lapangan dan mereka bakalan menanggung malu.
Suara sepatu terdengar dari kejauhan mereka sudah duduk rapi dan melipat kedua tangan mereka. Rasa deg-degan pun bersarang di pikiran kita yakin banget bakalan dijemur di lapangan.
"Selamat semua. Keluarkan pr kalian terus kumpulkan di bagian depan!"
"Ah iya bu."
"Vita. Kenapa kamu diam saja?"
Vita tak bisa menjawab sama sekali ia hanya bisa diam dan tersenyum lalu dengan sadarnya ia berdiri yakin banget kalau misalkan tidak mengerjakan PR bakalan dihukum di lapangan dan ia sadar diri sendiri tanpa harus disuruh. "Kamu udah tahu kan kalau misalkan kesalahan kamu itu apa? Ya dah bagi siapapun yang tidak mengerjakan PR atau mengerjakan tugas di rumah kalian langsung saja mengikuti langkah kaki Vita ke lapangan jangan masuk di jam pelajaran saya 2 jam." Ada berapa yang juga keluar dari kelas termasuk Tami sahabatnya.
"Itukan Vita? Apa dia nggak ngerjain PR ya? Biasanya kan kalau nggak ngerjain PR dijemur di lapangan kenapa sih dari dulu nggak bisa banget berubah dan kenapa dari dulu enggak pernah ngerjain PR di rumah percuma aja cantik tapi enggak disiplin sama pekerjaan sekolah." Vita menunduk ketika Mario mengarah ke arahnya. Ia yakin misalkan Mario bakalan ilfil dan ternyata benar Mario ilfil dan minus di matanya.