
Akhirnya selesai juga latihan tadi yang penuh dengan bercucuran keringat. "Gue capek juga yah ternyata." Ternyata sepanjang jalan ia tertantang dan teringat dengan ucapan Tania untuk membuktikan apakah ia adalah sosok yang serius atau bukan.
Kebetulan tempat yang ia lalui adalah tempat di mana orang-orang sering membeli bunga bisa buat orang pacaran, bisa buat menembak atau hal yang lainnya. Mario sengaja membeli bunga di pinggiran jalan ketika baru saja pulang dari latihan basket. Agar terkesan romantis. Sempat kebingungan dengan bunga-bunga yang begitu cantik sekali, bingung harus pilih yang mana.
Pilihannya jatuh kepada bunga yang begitu simple sekali. "Ya udah yang ini aja kali ya." Ucapnya yang meminta untuk di rapikan menjadi bagian yang begitu rapi sekali namun tetap simple.
"Ya udah yang ini aja kali ya." Ia mengeluarkan uang lalu ia langsung saja membayarnya.
"Ya udah yang ini aja kayaknya makasih ya bang." Ia mengeluarkan uang untuk membayar. Ia bergegas untuk ke rumah dan menaruhnya di atas meja karna tugasnya masih belum selesai ia harus menulis dahulu sepatah dua patah kata kata-kata yang romantis biar lebih puitis. Sepanjang jalan tak ada kata kesabaran untuk menulis.
Sampai juga akhirnya di rumah, ia masuk ke dalam kamar. Menaruh bunga di atas meja karna sebelumnya ia harus mandi terlebih dahulu biar lebih segar. "Gue jadi gak sabar buat nulis tulisan ini." Sebelumnya ia menaruh terlebih dahulu buku dan kertas di atas meja menuliskan sepatah dua patah kata yang akan ia berikan kepada Tania nanti.
Dua kalimat sederhana yang sengaja Mario tulis padahal ini adalah tulisan biasa ala-ala supaya terkesan nya ia ngejar-ngejar Tania.
Dear Tania
"Dengan menggambarkan kalau misalkan kamu itu seperti bunga, kenapa seperti bunga? Karna selalu bersikap tegar padahal hatinya rapuh selalu bahagia ya!"
"Kayaknya kalau begini kira-kira tulisannya alay nggak sih?"
"Kalau bukan karena taruhan gue bakalan enggak lah yang kayak gini ya kali gue sama cewek cupu!" Ia menutup kembali tulisan tersebut.
***
Mario mengambil tasnya dan turun ke bawah. "Pagi mah." Mengambil asal dan meminum minuman dengan begitu cepat sekali.
"Kamu mau ke mana sih kok buru-buru banget? Ini kan masih pagi banget emang mau ke mana kamu?"
"Mau ke sekolah lama ya udah kalau gitu aku berangkat duluan ya dadah assalamua'laikum." Ia mengecup kedua pipi mama dengan cepat.
Ia sengaja tak menjemput Tania ke rumahnya ia sengaja berangkat lebih dulu menuju ke sekolah untuk menaruh bunga yang sudah ia beli kemarin sore. Ia melangkahkan kaki menuju ke arah kelas Tania yang sedikit tampak sepi sekali. Ia masuk ke dalam kelas Tania dan menaruhnya ke bawah laci beserta tulisan yang ia tulis tadi malam dengan dua puluh menitan. "Nah sudah. Semoga aja dia suka kali ya." Dengan ekspresi wajah yang begitu bahagia sekali keluar dari kelasnya.
"Untung gue sampainya buru-buru kalau nggak banyak orang!"
Tania melangkahkan kakinya menuju ke dalam kelas Mario melirik dan berdiri di depan kelasnya dengan melemparkan sebuah senyuman. "Cie apa?"
"Ngapain dia ngeliatin gue?"
Giska dan Sekar begitu heboh sekali di dalam kelas terdengar suara-suara heboh mereka berdua. "Pagi.."
"Cie lo dapat dari siapa?"
"Ini bunga ada dalam laci meja lo. Siapa ya kok ada di dalam sini?" Tania mengambilnya, bunganya masih segar lalu membacanya dari atas sampai bawah. Tulisannya begitu rapi sekali walau tulisannya kecil.
"Siapa sih orang yang udah romantis ini? Cie!"
Tania berpikir siapakah yang membelinya bunga? Apa itu Mario? "Kenapa lah bengong?"
"Nggak kok nggak bangun sama sekali gue cuma bingung aja kira-kira siapa ya yang kasih bunga ini di laci gue?"
"Menurut lo siapa kira-kira?" Senggol Giska kepada Tania.
"Gue juga nggak tahu siapa kok. Ya kali aja orang salah taruh di sini. Kan kita nggak tahu juga siapa orangnya ya nggak sih?" Tania tidak mau berekspektasi terlalu tinggi siapa yang memberikan ini dan tidak berharap juga kalau yang memberikan ini adalah Mario.
Pelajaran pun berlangsung.
"Siapa sih? Apa Mario ya?"
***
Jam istirahat.
Rupanya dari kejauhan mereka juga memperhatikan gerak-gerik mereka yang sedang asyik mengobrol. "Apa dia ya?" Batin Tania dalam hati tapi sepertinya bukan Mario karena gelagat Mario tidak meyakinkan sekali untuk memberikan bunga tadi pagi di laci dan sampai sekarang pun masih kepikiran dengan bunga tersebut. Lalu siapa orangnya? Tak mungkin bunga itu tiba-tiba berada di dalam laci pasti ada orang yang sengaja menaruhnya.
"Hei kenapa lo bengong?" Senggol Sekar dengan sengaja yang membuat Tania menghirup kuah dengan cepat sehingga belepotan.
"Mikirin siapa yang ngasih bunga itu?" Karna gugup kalau misalkan Mario heran ia pun langsung saja menggeleng.
"Apaan sih, siapa juga yang kepo siapa yang ngasih bunga ya kali aja orang gak sengaja buat naruh di sana." Lain di mulut dan lain di hati ucapan itu keluar begitu saja dari ucapan Tania.
Mario sadar, kalau Tania sudah menerimanya tapi kenapa ekspresinya biasa aja tidak seperti aura yang bahagia banget. "Semoga aja dia suka sama bunga yang gue kasih kira-kira apa ya ekspresi diatas baca tulisan tersebut?"
"Dia lama-lama suka juga sama Tania. Kayaknya keliatan banget kalau misalnya Mario sudah mulai suka sama dia." Batin Kevin, ia yakin sekali kalau misalnya Mario sudah mulai suka dan kalau misalnya sudah mulai suka maka akan mempertaruhkan taruhan itu.
"Ternyata cantik juga ya Giska kalau dilihat-lihat walaupun dia cupu kalau di makeover kayaknya bakalan lebih cantik deh dari cewek-cewek yang lain."
Juan pun mengkhayal tentang perempuan yang diucap tadi yaitu Giska. "Hai ngapain di sini kok senyum-senyum gitu sih enggak jelas sama gue?" Kedua mata Juan langsung terbelalak perempuan yang ada di hadapannya sekarang begitu cantik sekali dan tidak berkedip. Ini adalah perempuan yang paling cantik yang ia lihat selama ini bahkan senyumnya saja begitu manis ternyata ketika di lihat-lihat orang itu adalah Giska kenapa berbeda sekali dengan pandangan sebelumnya apakah ini adalah sebuah mimpi? "Apa ini adalah sebuah mimpi?"
"Woy lo sebenarnya ngelamunin siapa sih?" Kevin dan Mario membangunkan lamunannya ternyata ini hanyalah sebuah khayalan saja bukan sesuatu hal yang nyata dan orang yang dihadapan itu tetap orang yang sama jika dengan penampilannya yang biasa aja berbeda dengan alam sadar miliknya.