Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 76. Mario Mendekat Lagi Ke Tania



"Ish nyebelin banget sih jadi orang gue paling gak suka kalau misalkan diginiin!"


"Udah deh sabar aja."


"Apaan sih sabar, sabar gue juga pengen kali balikan sama Mario, kok malah disuruh sabar segala sih?"


"Lo harus sabar kalau misalkan lo gak sabar itu tandanya lo bakalan berantakan dengan semua rencana kita selama ini, gimana sih lo? Suka aneh deh tiba-tiba sama gue! Gue habis pikir!" Tami yang mengatakan hal ini agar Vita tak mau tergesa-gesa dengan rencana dari mereka berdua dan ia juga tak mau untuk terburu-buru dalam melakukan hal ini agar tak ketahuan sama sekali oleh Mario. Kalau misalnya mereka berdua ketahuan itu tandanya mereka bakalan gagal da bakalan malu sendiri nantinya dan Vita berpikir sampai di sana.


"Oke gue sabar, tapi kenapa Mario belum ada kemajuan sama sekali ke gue? Apa yang harus gue lakukan agar Mario mau balik lagi ke gue! Gue bosen banget deh sumpah!" Ia mengacak-acak puncak kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.


Karna sana sudah tidak kondusif Tami pun memilih untuk pergi meninggalkan Vita sendirian di kelas karena sudah saatnya pulang ke rumah. "Hei tungguin gue dong masa lo pergi gitu aja sih!" ucapnya yang mengejar dari belakang.


"Gue boleh ngomong sebentar nggak sama lo? Soalnya ini penting banget sih gue harap jangan pergi gitu aja ya!"


"Kalau boleh tahu soal apa nih soalnya gue nggak butuh banyak waktu di sini!" Oke putus dengan Mario dan ia pun mencoba untuk menjaga jarak dikarenakan ia tidak mau mengganggu Mario dan Vita untuk bersama kembali.


"Gue udah tahu kalau misalkan Vita itu bohong sama gue dan lo juga dan semuanya juga kalau misalkan dia itu nggak sakit dia cuma pura-pura doang sakit supaya kita tuh kasihan sama dia. Dan gue cepat atau lambat bakalan membongkar apa yang dia lakukan selama ini dan lho jangan mudah percaya dengan apa yang diucapkan!"


"Bohong? Tau dari kalau misalkan dia bohong masa sakit harus di bohong-bohongan sih kan jangan dong?" Tania masih mempercayai apa yang diucapkan oleh Vita padahal jelas-jelas kalau misalkan Mario lah yang benar dia tidak mengada-ngada sama sekali dan ini adalah hal yang fakta dan real terjadi.


"Vit, coba lo jelasin sama Tania kalau misalkan lo selama ini itu nggak sakit lo cuma bohong? Udah deh lo jujur aja sama Tania kalau misalkan lo tu boong." Kedua mata Tania tajam ia menatap tajam kedua mata Vita.


"Apaan sih, kok malah gue introgasi begini? Gue sama sekali nggak bohong kalau misalkan gue itu beneran sakit tapi kenapa malah dituduh yang bohong-bohong begini sih? Heh Tania lo ngomong apa sama Mario sampai Mario nggak suka sama gue lo pelet dia? Gue pikir lo itu polos banget orangnya ternyata enggak sama sekali! Kenapa sih lo suka banget rebut kebahagiaan orang lain demi kebahagiaanmu sendiri dasar perempuan egois!" Vita mendorong bahu Tania dan langsung ditampik oleh Mario karena nggak perlu dengan kekerasan bisa dengan cara yang baik-baik kenapa harus seperti ini.


"Lo kenapa sih jadi orang penyakit hati banget, seharusnya lo sadar kalau misalkan apa yang lo lakukan itu salah. Dan seharusnya lo harus minta maaf sama Tania, dia sama sekali nggak salah dan dia juga sama sekali tidak pernah berbuat jahat sama tapi kenapa sih----" karena ia merasa tidak ada yang membela dan ia juga tidak ada yang mencoba untuk percaya maka dari itu Vita lebih memilih pergi.


"Hei gue belum selesai ngomong lo kenapa main pergi begitu aja sih?" ucap Mario yang sama sekali tidak digubris oleh Vita.


"Lo lihat sendirikan kelakuan dia kayak begitu udah salah masih aja nggak ngaku masa lo masih percaya aja sih sama omongan dia? Udahlah ngapain sih masih percaya sama orang begitu lo percaya aja sama gue gue udah berubah menjadi lebih baik masa lo nggak percaya banget sih sama gue? Gue tahu kalau misalkan selama ini gue cuma jadiin lo bahan taruhan tapi asal lo tahu ya gue udah berubah dan gue nggak akan pernah kembali lagi seperti yang dulu bahkan gue setiap malam belajar supaya gue enggak nyontek lagi dan supaya gue bisa dapat nilai yang bagus seperti apa yang lo bilang, ayolah kasih kesempatan gue untuk bisa balik lagi sama lo. Gue ini beneran serius bahkan mobil gue aja udah diambil sama Kevin karena gue kalah dari tahun tersebut eh ternyata gue jatuh cinta beneran sama lo?" ungkapnya menatap dengan sorotan yang tajam dan tidak berkedip sama sekali membuat Tania terdiam kikuk.


"Gue juga bingung dan gue belum percaya 100% dengan ucapan lo karena menurut gue kalau misalkan lo pengen berubah berubahlah karena diri lo sendiri bukan karena gue?"


"Gue udah berubah diri gue karena diri gue sendiri bukan karena lo! Dan lo harus percaya itu gue sama sekali nggak bohong. Dan asal lo tau ya gue enggak pernah seekstrim ini dalam berubah dan itu karena perempuan dan perempuan itu adalah orang yang dihadapan gue sekarang!"


Tania memilih untuk pergi mempertimbangkan apa yang diucapkan oleh Mario apakah ucapan ini adalah ucapan yang benar atau ucapan yang hanya sekedar merayu biasa. Mario berjalan menunggangi sepeda motornya dan meninggalkan Tania yang awalnya mungkin ia mengajak Tania buat pulang bareng tapi ternyata Tania menolak ya sudahlah dia berjalan sendiri dengan sepeda motornya. Sepanjang jalan ia terus meratapi jalanan raya yang banyak sekali sepeda motor yang berlawanan arah bahkan mobil juga. Ternyata begini rasanya patah hati tidak berdarah. Ia berharap agar Tania mau kembali dan ada keajaiban yang mungkin terjadi di esok pagi dan untuk terus mengungkap Vita akan terus dia lakukan. "Gue bakalan buktiin kalau misalkan kita bener-bener bohong dan gue bakalan kembali sama Tania! tegasnya.