
Akhirnya selesai juga mata pelajaran hari ini yang begitu melelahkan sekali dari pagi terus-terusan hitung-hitungan. Mata pelajaran hari ini yang terakhir adalah mata pelajaran matematika di mana hampir seluruh siswa yang ada di kelas tidak menyukai mata pelajaran ini tapi ada sebagian yang suka termasuk Tania. Walaupun gak jago jago banget tapi ia tergolong siswa yang pintar di kelas ya walaupun kadang ada maunya doang buat ditemenin karena pengen nyontek jawaban. "Oke sampai ketemu lagi di pelajaran selanjutnya assalamua'laikum."
Mereka pun masing-masing membereskan buku-buku mata pelajaran hari ini.
"Lo mau ikutan enggak Tan hari ini?"
"Mau ikutan ke mana?" Tania sambil merapikan buku-buku yang ada di atas meja.
"Habis pulang ini kita mau pergi ke mall mau ikutan gak?"
"Kayaknya enggak deh mungkin lain kali eh gue pulang duluan nih entar gue ketemu lagi sama Mario." Tepuk Tania kepada kedua temannya yang masih ada di dalam kelas.
Dia bergegas agar kelas Mario tidak keluar duluan jadi ada kesempatan untuk ia melewati kelas Mario tidak mau pulang bareng sama mari pulang sekolah ini. Tapi ternyata nihil kelas Mario ternyata keluar juga berbarengan dengan kelas-kelas yang lain. Ada Bagus di luar bangku panjang di depan kelasnya. "Hai Bagus."
"Hai, mau pulang juga ya?"
"Iya nih."
"Pulang bareng yuk?" Tania melihat kedua temannya sudah pulang duluan karna mereka ke mall, awalnya Tania juga di ajak namun ia menolak.
"Ya udah yuk." Sahut Bagus yang menyahut begitu ramah kepada Tania. Mereka berdua sama-sama cupu dan tak ada perbedaan sama sekali di antara mereka berdua.
Mereka melangkahkan kaki menuju ke luar pintu gerbang yang ada di sana. Rasanya plong banget bisa berteman dengan orang yang sama, sama dalam artian sama-sama di bully dan selalu di kucilkan karna kita berdua sama-sama cupu jadi tak ada sama sekali ucapan atau sindirin satu sama lain di karenakan kita berdua sama. "Udah gak sedih lagi kan kalau misalnya terulang lagi cerita kemarin?"
"Hahaha enggak. Tumben, biasanya juga sama Mario? Kenapa?"
"Gak papa kok, bisa jalan kaki enak biar bisa olahraga juga kan?" Sahutnya yang masih canggung sekali diantara mereka berdua.
"Ngapain sih mereka pulang bareng?"
"Samperin aja deh." Mario menuntun motornya dari belakang, mengikuti Tania dan Bagus pulang bareng padahal bisa saja pulang lebih dulu. Hatinya sudah bergerutu kesana-kemari.
"Ngapain sih Mario ikutin kita segala?" Tania yang bisa tersenyum males banget menjawab pertanyaan dari Bagus.
"Lo ngapain ikut kita berdua?" Mario malah ikut di antara mereka berdua antara Bagus dan Tania yang asik mengobrol. Ia hanya diam saja.
"Gila kalau bukan masalah taruhan gue bakalan gak mau lah pokoknya!" Batinnya yang menggebu sekali, bukan masalah cemburu tapi kalau ia gagal dan membuat Tania berhasil jatuh cinta maka ia akan memberikan hadiah kepada Kevin. Taruhan gila seperti ini masih berjalan!
"Kenapa? Kalian berani sama gue? Heh Gus lo jangan sok yah!" Bagus langsung terdiam begitu saja dengan ucapan Mario. Pantang menyerah dia pun terus saja mengikuti mereka berdua yang berjalan di depannya.
"Udah-udah jangan diladenin."
"Ngapain juga ngikutin kita ke sini?"
Karena merasa tersinggung Mario pun mengatakan sesuatu hal yang ada di uneg-uneg yang ia tahan selama ini. "Jangan sok cantik ya! Lo gue deketin buat temenan ternyata ngelunjak kayak gini nggak ada terima kasihnya sama sekali."
"Kalau gitu gue pesan makanan dulu." Tania mengangguk dan merubah posisinya ke arah lain agar tidak bersinggungan dengan posisi Mario.
Bagus memesankan makanan dua mangkok makanan pinggir jalan. Tania berpura-pura seakan tidak melihat Mario yang ada dihadapan mereka seakan-akan orang itu adalah orang asing yang juga ikut makan di sini. "Ngapain sih gitu orang masih aja di sini gue pikir dia udah pergi ganggu aja. Dia pikir gue masuk kedalam perangkapnya apa?"
Mario juga memesan makanan di sini.
"Tungguin aja kesananya bakalan datang kok gue biasanya kalau misalkan laper suka mampir ke sini dulu baru deh pulang ke rumah."
"Sama kok kalau misalkan gue laper biasanya gue mampir dulu ke sini buat ngeganjel perut gue jadi kalau misalkan di biarin aja ya bakalan lapar terus sakit banget kalau sampai rumah." Akhirnya bisa mencair juga obrolan mereka berdua.
***
Tiba-tiba tak sengaja Bagus menumpahkan minuman Tania ke bagian roknya karena tak sengaja. "Astaga maaf banget ya gue nggak sengaja banyak ya basah nya soalnya tomatnya agak jauh banget makanya nggak sengaja buat kasenggol rok lo?"
"Ya kok nggak papa nggak masalah ntar juga dicuci di rumah."
"Ini tisu buat lo maaf ya gue nggak sengaja sama sekali, maaf banget ya gue beneran enggak sengaja."
"Iya kok nggak papa santai aja ini juga nggak sengaja kan kesenggol nya ntar sampai rumah bisa dicuci kok tenang aja nggak papa kok."
"Makanya kalau punya mata tuh dilihat jangan ngomong doang digunakan sesuai fungsinya lo bisa ngecilin sekarang trus kering?" Tania memberikan kode kepada bagus agar tak mudah terpancing emosi dengan mengelengkan kepala.
"Udah nggak papa kok beneran nggak papa ntar bisa dicuci di rumah." Tania seakan membela Bagus, iya mengecek jam tangan yang melingkar di sebelah kiri ya harus pulang karena makan sudah selesai.
"Iya hallo mah ini aku lagi makan. Oh iya samperin aja ke tukang bakso yang ada di sini itu cuma tukang baksonya cuma satu doang kok yang jualan. Ya udah aku tunggu ya." Bagus pun mematikan ponselnya karena mama memberitahukan kalau misalkan sopirnya sebentar lagi akan menjemputnya.
"Lo mau bareng pulang bareng sama gue?"
"Nggak usah deh gue jalan kaki aja kalau gitu gue pulang duluan ya sampai ketemu lagi nanti di sekolah."
"Ya udah kalau gitu makasih banyak ya sudah bareng tadi dari sekolah sampai makan di sini deh sampai ketemu lagi di sekolah." Bagus yang melambaikan tangan ketika langkah kaki Tania berjalan untuk pulang ke rumah. Matahari begitu terik sekali hari ini tapi ya sudah terbiasa dengan hari-hari jadi tidak ada kata mengeluh di dalam hidup Tania. Di sisi lain Mario bergegas juga mengikuti langkah kaki Tania ia tidak akan pernah berhenti mengikuti Tania kalau misalkan Tania sampai detik ini belum memaafkannya.
"Tania... Tania...." Teriaknya seperti itu namun tak dihiraukan atau tak digubris oleh Tania. Ada urusan apa juga tak ada sama sekali?
"Ayo dong pulang bareng sama gue." Tania hanya bisa menggeleng wajahnya pun menghadap ke depan sama sekali tidak menghadap ke arah siapa lawan bicaranya hari ini.
"Pulang bareng sama gue lah lo enggak punya telinga apa?"
"Nggak bisa nggak sih nggak usah ngikutin gue mulu pulang aja pakai motor lo biar sampai?"
"Lo kenapa sih ih gara-gara gue nggak nolongin di kolam renang lo udah berubah sikapnya kayak gini?" Tania sama sekali tak menjawab ia terus saja berjalan tanpa memperdulikan untuk menjawab pertanyaan.