Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 30. Ke Rumah Mario



"Kenapa sih lo cuek banget sama gue padahal gue pengen banget lo berteman sama lo gimana sih lo?" Mario terus saja mengikuti Tania walaupun ia sama sekali tak digubris dari tadi.


"Lo gak usah ikutin gue!"


"Emang kenapa kalau misalkan gue ngikutin lo emang enggak boleh emang di sini ada aturan kalau misalkan harus nggak boleh ngikutin?" Tania hanya bisa pasrah dengan tingkah laku dari Mario karena Mario sudah melihat ada seseorang yang berdiri di ujung sana ia pun langsung saja menyuruh tanya untuk naik motornya awalnya Tania menolak tapi karena cekcok dan banyak beradu argumen akhirnya Tania mengalah ia pun naik ke motor Mario dan Mario akan mengantarkannya pulang seperti biasa padahal Tania sangat menolak sekali untuk diantar pulang bersama Mario ia ingin lepas dari Mario tapi Mario tetap saja memaksanya setiap hari.


"Lo gak usah deh deket-deket sama Bagus soalnya dia tuh nggak bagus buat hidup lo dia cupu tau nggak sih!"


"Gak papa dia sama kok kayak gue jadi gue nggak masalah kalau misalkan sama-sama berteman dengan orang yang cukup penting hatinya baik!"


"Udah ah enggak usah bahas tentang dia lagi tentang dia kesenangan lagi kalau dibales dia terus mending nanti----" Hampir saja keceplosan kalau misalkan Mario ingin mengajak Tania untuk rumahnya hari ini mungkin akan menjadi kejutan aja nanti ya yang bikin tanya terkejut.


"Kira-kira Mario beneran tulus nggak sih sama gue apa dia cuma---"


"Ehem, lo mikirin apa sih sebenarnya lo masih ragu kalau misalkan gue temenan sama lo itu cuma gara-gara ada sesuatu coba deh overthinking lo tuh dikesampingkan gue itu bener-bener tulus temenan sama lo emang enggak boleh gue temenan sama lo apa gara-gara gue populer di sekolah lu enggak percaya gue berubah gitu manusia tuh bisa berubah kapanpun dan dimanapun?"


Tania hanya terdiam. "Udah deh enggak usah drama banget apa sih yang lo permasalahin dari gue sampai sekarang lo nggak bisa maafin gue? Udah lupain aja yang kemarin-kemarin gue yakin banget kok kalau misalkan lo lupain pasti lebih bahagia."


"Nanti jadi kan kita kerja kelompok eh bukan sih bukan kerja kelompok maksud gue adalah lu jadi kan ngajarin gue matematika di rumah gue nanti aku di rumah lo aja biar gue nggak ngerepotin lo ke rumah gue?"


"Kita atur aja deh nanti gimana baiknya emang lo nggak bisa ngerjain sendiri atau belajar sendiri?"


"Ya nggak bisa lah gue kan gak sepintar lo!"


"Ya udah."


Akhirnya sampai juga di rumah Tania motorpun Tania melepas helm dan memberikan kepada Mario. "Makasih banyaknya udah di anterin balik pulangnya hati-hati!" Mario mengangguk dan tersenyum. Bagi orang-orang yang tidak tahu kedekatan mereka berdua, mereka sudah menganggap kalau misalkan mereka berdua berpacaran padahal tidak sama sekali.


"Kenapa sih Mario bikin gue semakin jatuh cinta? Kenapa?"


"Astaga ngomong apaan sih gue! Entar jadi kenyataan lagi!" Ia menutup mulutnya langsung agar tak jadi kenyataan. Ia masuk ke dalam rumah mengucapkan salam.


***


Mama sudah begitu rapi sekali memakai baju jalan-jalan. "Kamu mau ikutan sama mama jalan-jalan sama teman mama mau nggak ikutan?"


"Enggak rumah aku di rumah aja pengen nyantai-nyantai!"


"Iya mah." Tania lebih memilih di rumah saja daripada jalan-jalan sekarang dia capek banget tadi di sekolah.


"Mending di rumah daripada jalan-jalan jalan-jalan di kapan waktu." Gumamnya. Rasanya HP terasa seperti kuburan sepi banget.


Jadi rencananya hari ini Mario mengajak Tania ke rumahnya karena di rumahnya banyak sekali keponakan yang bersilaturahmi atau main ke rumah. Ia sengaja mengajak Tania untuk rumahnya ya itung-itung bisa dekat tapi dengan tujuan mengambil perhatian Tania seolah-olah apa yang ia ucapkan beberapa hari yang lalu itu adalah suatu bukti yang ia katakan. Kanya adalah keponakan Mario yang begitu cantik dan centil banget aktif banget kesana kemari Tania pun sejujurnya senang dengan kehadiran anak kecil apalagi anak kecil itu adalah perempuan gadis cilik yang membuatnya gemas. "Siapa namanya?"


"Coba jawab sama kakak cantik."


"Namanya Kanya!"


"Kenapa gue malah diajak ke rumah lo sih di rumah bahkan banyak banget keluarga lo?" Bisik Tania yang tak merasa nyaman ketika berada di rumah Mario yang begitu ramai sekali keponakan bahkan keluarga yang ada di rumah Mario.


Tania begitu akrab sekali dengan Kanya keponakan dari Mario seakan-akan sudah lama mengenal satu sama lain padahal ini adalah pertemuan pertama mereka. "Ternyata udah juga ya buat Tania kenal sama Kanya padahal dia ponakan yang paling cerewet!" Mario pun mengambilkan mainan untuk Kanya agar lebih bisa anteng lagi.


"Nah coba kasih ini kira-kira dia bakalan diam nggak?" Respon Kanya begitu happy banget bahkan ia tertawa gemasnya seorang anak kecil.


"Ish udah cocok banget deh kalau misalkan lo jadi seorang ibu nantinya menurut lo kira kira gue cocok nggak jadi seorang bapak?" Kedua mata Tania langsung melotot dengan ucapan atau pertanyaan dari Mario seolah-olah Mario sudah berpikiran terlalu jauh.


"Ya enggak gue cuma bercanda doang kok nggak ada maksud apa-apa tapi kalau misalkan emang beneran juga gak masalah!" Karen melihat kedekatan antara kakaknya dan perempuan yang datang ke rumah penampilannya begitu cukup yang berbeda jauh dengan perempuan perempuan atau cewek-cewek yang sering diajak Mario ke rumah walaupun cewek-cewek yang datang itu bukan pasti pacar juga bisa jadi teman atau sahabat tapi ini sedikit berbeda penampilannya.


"Dia udah dua kali nih ke rumah dia ngapain sih ke rumah sering banget kemarin ngajakin dia ke sini perasaan ceweknya cantik-cantik amat masih cantikan kak Vita kali!" Karen sangat tidak suka dengan kehadiran Tania di rumah.


"Hei kamu lagi ngapain kok lagi ngelihatin Mario sama temennya?"


"Enggak kok nggak suka aja sama perempuan itu kayak level gitu lo tante dia di sini menurut tante dia cantik?"


Tante hanya tersenyum dengan pertanyaan dari Karen ia pun mengambilkan botol susu untuk diberikan kepada anaknya yang diajak bermain bersama Tania dan Mario. "Minum susu dulu yuk!"


"Sini tante botolnya, biar kita aja yang kasih!"


"Kayaknya udah mulai ngantuk nih pengen tidur!" Tania menepuk-nepuk agar Kanya tertidur dengan cepat.


"Udah cocok banget nih!" Tania tersenyum saja tak berkomentar sama sekali.