
"Gue juga suka main bola." Ucap Juan.
"Gue dulu waktu SD sampai SMP suka banget yang namanya main sepak bola. Karna menurut gue bola itu bikin kita fokus dan bisa yakin kalau misalnya kita fokus pasti bola itu masuk ke dalam gawang dan gue yakin dan akhirnya masuk deh." Seakan sama dengan apa yang di pikirkan oleh Giska di dalam hati.
"Iya sih bener banget."
Lalu mereka berdua langsung saja membeli makanan ringan tak jauh dari situ. Masih canggung dan masih sangat canggung. Seakan tak ada obrolan yang penting. Tiba-tiba saja hujan dan tiba-tiba saja mereka membubarkan diri masing-masing dan berteduh di tempat yang teduh begitupun dengan mereka berdua.
"Gimana?"
"Gak kenapa-napa kok santai aja, kita berteduh aja sampai hujannya reda ya!" Giska mengangguk dan Juan dengan sikap lepaskan jaketnya untuk melindungi Giska dari hujan. Ia tak perduli akan kebasahan yang terpenting Giska yang tidak kebasahan. Jantung Giska berdebar lebih kencang dan deg-degan banget dengan hal ini kenapa bisa seperti ini? Ia tak berani untuk melirik ke arah Juan yang tampak dekat sekali dengannya mereka sangat dekat sekali. Tapi ia berusaha untuk tetap santai saja dan biasa aja bisa-bisa nanti Juan bakalan kegeeran dan kepedean kalau seperti itu.
"Hahaha maaf ya jadi rusak begini deh. Nyokap lo gak marah sama gue kan?" Tanya Juan kepada Giska yang hanya diam saja dari tadi.
"Gue jadi gak enak nih, kalau misalnya anak orang sakit gara-gara gue!" Sahutnya yang begitu tajam sekali. Benar, ia merasa tak enak kalau misalnya anak orang kenapa-kenapa karna dirinya sendiri.
Hujan terus saja turun tanpa henti, seakan seperti drama yang ada di tv berteduh dan menikmati hujan yang turun dari langit. Tak berapa lama lama pun menelepon menanyakan keberadaan Giska di mana ia pun menjawab kalau misalkan lagi bersama Juan kehujanan.
Juan yakin kalau misalkan itu mamanya Giska menanyakan keberadaan Giska di mana. Ia semakin merasa tak enak hati kalau membawa anak perempuan orang lain sampai kehujanan. Setelah Giska menutup telepon langsung dengan pertanyaan siapa yang menelpon itu minta maaf kalau misalkan tidak semua yang direncanakan. "Maaf banget ya gue sama sekali gak ada maksud buat ngajak lo hujan begini maaf hujan tak mendukung. Lo mau pulang? Gue bawa jas hujan kok."
"Kita tunggu sampai hujannya reda ya!"
"Gak papa kok santai aja." Suara Giska berubah menjadi gemetar dan kedinginan. Juan mulai panik dan bingung apa yang harus ia lakukan agar Giska tidak menggigil.
"Udah gak papa kok santai aja, gak masalah santai aja. Semua baik-baik aja." Sahutnya yang sambil tersenyum tipis.
"Ya udah kita tungguin aja kalau begitu ya." Jawabnya yang begitu berdoa untuk bisa teduh dan mereka bisa pulang seakan hari ini gagal.
Tak hanya mereka saja yang berteduh yang lain juga berteduh untuk menunggu hujan reda.
***
Mereka hanya diam saja selama di perjalanan menuju ke rumah Giska. Untungnya hujan tidak begitu lama sekali.
Setelah menunggu selama 30 menitan Juan pun mengantarkan Giska sampai di depan rumahnya. Giska melepas helm yang ia gunakan kepada Juan. Ia berterima kasih karna sudah di antarkan pulang ke rumah oleh Juan. Namun sebelum ia masuk ke dalam rumah Juan menahannya. "Giska."
"Ya?" Langkahnya langsung terhenti.
"Maaf kenapa?" Bingung Giska yang menaikkan alisnya atas. Tumben Juan menunjukkan aura wajah yang berarti bersalah dan memberikan aura yang membingungkan. Giska yakin kalau misalnya Juan merasa bersalah dengan apa yang terjadi hari ini.
"Maafin gue kalau misalnya gak sesuai sama rencana. Jujur gue sama sekali gak tau juga kalau hujan." Ungkapnya. Giska hanya tersenyum dan mengangguk saja dengan ucapan dari Juan. Ia masuk ke dalam rumah. Dan Juan tetap berada di depan rumah Giska sampai perempuan itu masuk ke dalam rumah. Mama langsung terkejut sekali ketika melihat Giska kebasahan mama begitu panik dan memutar badan Giska yang begitu tajam sekali.
"Kamu kenapa, kenapa bisa basah begini? Ini jaket siapa?"
"Jaket temen mah." Mendengar suara Giska seperti menggigil mama menyuruh Giska untuk duduk dulu di ruang tamu. Mama menyuruh ART untuk mengambilkan air panas dan roti yang ada di atas meja dapur.
"Kamu sama Juan ya?"
"Iya mah, tadi dia ngajak ke taman. Trus gak nyangka juga kalau misalnya hujan lebat tapi gak papa kok mah santai aja. Mama gak perlu khawatir yang berlebihan ya!"
Air hangat-hangat kuku di taruh di atas meja, Giska meneguk dengan satu kali tegukkan. "Gimana? Enakkan belum? Ayo mari kamu makan rotinya. Makan ya!"
"Hangat mah."
"Kamu buruan ganti baju entar kamu malah menggigil lagi." Jawabnya yang begitu khawatir sekali di bantu mama untuk berdiri.
"Ayo!" Mama membantu Giska untuk masuk ke dalam kamar. Mama membukakan pintu kamar, mengambilkan baju yang ada di dalam lemari Giska dan menaruhnya di atas tempat tidur.
"Makasih mah."
"Sama-sama, ya udah kalau begitu mama ke luar dulu ya kamu harus cepat ganti bajunya entar kamu malah kedinginan oke? Ya udah kalau gitu mama tutup dulu ya." Giska mengangguk dan perlahan membuka jaket Juan yang masih ia kenakan. Ia masih teringat sekali Juan tadi dengan pelan memasangkan jaket kepada dirinya. Begitu cepat sekali di pasangkan.
"Ternyata Juan baik juga ya ternyata sama gue. Lama-lama gue makin respect sama dia. Tapi masa gue suka sih sama dia? Secara dia cowok populer kan di sekolah? Aduh gimana sih?" Batinnya.
Ia melepas dan mengganti pakaiannya dan menaruh di tempat cucian kotor.
***
Akhirnya Juan sampai juga di rumahnya ia langsung saja menaruh baju-baju yang masalah tadi ketempat baju kotor ia mengganti baju yang basah itu dengan baju yang kering.
Juan kepikiran dengan Giska yang kehujanan ia sama sekali tak merasa enak hati dengan keadaan di mana hujan yang tak di rencanakan tadi ia sama sekali takut dan bingung. "Aduh gimana ya keadaan dia sekarang, sumpah gue sama sekali gak enak nih sama nyokapnya!" Batinnya yang sambil melirik kearah langit-langit kamarnya yang polos itu. Ia melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja ia ingin menelfon Giska menanyakan bagaimana kabarnya tapi kayaknya Giska lagi istirahat dan tak perlu di ganggu dulu. Lalu ia taruh kembali di atas meja.