Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 23. Dicuekin



"Sumpah ya gue tuh seneng banget tau nggak sih, gue yakin lo bakalan bisa menebak? Coba tebak!" Beda banget auranya.


"Seneng kenapa? Pasti soal kemarin ulang tahun lo kan? Sumpah gue akuin lo cantik banget malam itu. Gak sumpah gue gak nyangka lo berani juga buat senggol Tania hahaha."


Setelah kejadian yang kemarin Vita begitu bahagia sekali karena ia membuat Tania ilfeel kepada Mario. Ia yakin sekali kalau misalkan dipikiran Tania bahwa Mario selama ini hanya sekedar mendekatinya untuk sesuatu hal saja. "Gue senang banget juga kemaren karena gue nggak nyangka kalau misalkan Mario nggak nolongin Tania, gue pikir dia bakal nolongin ternyata nggak mungkin dia gengsi kali ada mamah dan papah di tempat acara. Kalau boleh tahu dorong beneran ya?"


"Lebih tepatnya sih bukan ngedorong tapi gue senggol dia. Dan mereka pun juga pasti malu banget pakai baju yang beda banget sama acara yang gue adain."


"Siapa suruh sok-sokan deket-deket sama geng kita yang sok asik banget udah tahu geng kita itu keren dan levelnya tinggi kenapa mereka kayak gitu ya pede banget?"


"Nah makanya gue kasih tahu sama lo kalau misalkan gue nggak akan diem apapun yang berhubungan tentang Mario dan gue nggak akan pernah biarin siapapun yang dekat sama Mario selain gue." Egois sekali Vita hari ini.


Mario melintas di hadapan mereka berdua. "Eh ada Mario."


"Mario." Teriak Vita yang mendekat kearah Mario, ia pun terhenti sejenak begitu saja.


"Iya? Kenapa vit?"


"Enggak kok, cuma mau-----"


"Apaan sih gak jelas. Gue ke sana dulu ya." Senyum sinis dari Mario kepada Vita. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana panjang.


Kalah besar hari ini Vita!


"Nanti pulang------"


"Ish gue kan belum selesai ngomong kenapa dia jawab kayak begitu sih? Gimana sih jadi orang! Gak menghargai sama sekali." Tami menaikkan tangannya ke bahu Vita menyuruhnya untuk sedikit bersabar.


"Sabar ya! Gak papa kok hahaha."


"Tawa aja terus! Tawa aja!"


***


Pulang sekolah,


"Lo gak mau pulang sama kita?"


"Entar aja gue pulang duluan ya! Gue lagi pengen sendiri nih." Tania keluar duluan dari kelas meninggalkan Giska dan Sekar.


"Mario..."


"Mario. Lo gak denger gue manggil lo?"


Vita mendekat ke arah Mario yang di tolak mentah-mentah kepada Tania tadi. "Kenapa bisa di tolak sih?" Ia masih seakan lupa dengan kejadian tadi malam di pesta ulang tahunnya.


"Lo lupa apa? Yang lo lakukan itu salah banget? Hahaha dasar udah lupa aja ya!"


"Apaan sih vit?" Mario menepis tangan Vita yang melenggang begitu saja. Ia membawa motornya untuk pergi meninggalkan Vita, ia lebih memilih Tania yang lebih dulu keluar dari pintu gerbang.


Mario mengikuti Vita dari belakang karna tak mau ikut dengannya. "Lo kenapa? Marah sama gue?"


"Gue gak marah kok. Gue mau pulang sendiri aja."


"Kenapa? Gak bareng gue aja?"


"Gue minta maaf sama lo. Beneran gue gak bisa bantuin lo pas kecebur itu!" Teriak Mario yang di cuekkin Tania. Ia sama sekali tak perduli dengan teriakkan dari Mario. Ia pun tetap saja melaju begitu saja tanpa perduli sama sekali.


Ia sudah bertekad untuk sudah tak mau lagi masuk ke dalam perangkap dari Mario. Ia pun mampir ke tukang bakso pinggir jalan untuk makan di sana karna sudah lapar sekali. Dan ternyata Mario juga masuk ke dalam dan memarkirkan motornya juga. "Bang pesan baksonya dua ya!" Ucap Mario yang duduk di samping Tania.


Tania hanya diam saja ia membuang wajah ke arah lain. "Ngapain sih dia ikut sengaja. Gue yakin pasti ada sesuatu yang bikin dia ngebet buat deket sama gue! Gue yakin banget tapi apaan ya?" Batinnya dalam hati.


Tak berapa lama bakso pun datang dan di taruhlah di atas meja. "Makasih ya bang." Jangkauan antara tomat jauh sekali Mario pun langsung saja dengan peka mengambilkan dan menuangkan ke bagian mangkuk Tania.


"Makasih."


"Maafin gue dong, ketus banget jadi orang!"


"Kalau bukan karena taruhan gue ogah juga sama cewek kayak lo cupu!" Batinnya dalam hati.


"Iya gue maafin, tapi jangan deketin gue lagi! Gue gak mau ada masalah gara-gara lo Mario. Gue terlahir cupu ya udah cupu aja dan gue juga gak mau kalau misalnya lo jadiin gue sesuatu untuk kepentingan lo belaka."


"Kepentingan apa?" Ia mulai panik dan mulai ketakutan takut ketahuan.


"Gak kok. Gue sama lo itu berbeda orang bakalan gak suka apalagi kita berteman jadi stop buat deket sama gue!" Tania mengatakan hal ini bergetar, ia tak mau kalau misalnya Mario mendekatinya karna sesuatu yang dia inginkan belaka saja.


Mario menatap kedua mata Tania yang berkaca-kaca. Seperti ada rasa bersalah ada benarnya juga ucapan dari Tania. "Kenapa sih?" Batinnya.


"Jadi bersalah gue." Gumamnya kembali. Isi dari dalam mangkok pun sedikitpun lagi habis. Tania ingin mengeluarkan uang untuk membayar tapi dengan gesit Mario berdiri dan membayar pesanan mereka berdua.


"Biar gue aja yang bayarin ya!" Tania merapikan bajunya ia berdiri dan meninggalkan Mario. Tak lupa Mario mengikuti terus Tania.


Ia menuntun motornya dan mengikuti langkah Tania kemana pun ia pergi. "Gue bakalan ikutin lo! Kemana pun lo pergi! Lo pikir gue bakalan nyerah? Gak kali!"


Tania membeli minuman yang ada di supermarket, dan Mario juga ikut-ikutan. "Kenapa sih ini orang ngikutin gue segala?"


"Kenapa?"


"Emang gue salah, gue ke sini juga? Ini kan tempat umum kali?" Benar juga. Ia pun kembali berjalan meninggalkan ocehan Mario.


Matahari begitu terik sekali ya rupaya. Tania sengaja bernaung sejenak di pinggiran pohon besar dekat tak jauh dari tukang bakso tadi. Lagi dan lagi Mario pun mengikutinya. Kali ini Tania hanya diam saja.


"Gue pengen ngadem juga."


"Aduh kenapa jadi gatal ya? Apa ada semut?" Kakinya yang terasa ada sesuatu hal yang asing di sana.


"Aduh... Aduh..." Mario loncat-loncat.


"Kenapa?"


"Gak tau nih ada semut di dalam kaki gue."


"Ya udah buka aja sepatunya liat kali aja dari kucing masuk ke dalam sepatu."


"Jangan bercanda. Mana ada kucing masuk ke dalam sepatu, ukuran kucing emangnya kecil?" Alisnya sedikit naik ke atas.


"Maaf deh kalau gitu. Udah ya gue pulang duluan bye." Tania melambaikan tangannya pergi begitu saja meninggalkan Mario.