Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 18. Tunggu Dulu



Mario mengambil tas nya untuk pergi ke ke tempat latihan basket yang sebentar lagi akan mengikuti lomba bersama kelas sebelah ia menyempatkan aroma parfum yang sering ia pakai seperti biasa. Padahal hari ini ia malas sekali untuk latihan basket nggak tahu kenapa males aja ketemu sama temen-temen yang lain. Tiba-tiba saja ada nomor yang tak ia save sedang menelpon. Namun panggilan telepon itu terus saja berdering hingga membuat Mario seakan-akan merasa terganggu akhirnya ia pun menyerah dan ia pun langsung saja mengangkatnya. "Iya hallo mohon maaf ini siapa ya?" Sepertinya Mario mengenali nada suara orang yang ada di telepon ini padahal ia sama sekali tak tahu siapa orang tersebut.


"Ini Vita ya?"


"Ngapain nelpon gue? Kalau misalkan mau nelpon gue dan gue ketahuan angkat telepon lo pacar lo bakalan marah-marah dan salah paham gak gue mending lah sama dia aja deh kalau misalkan lo jalanin hubungan itu setia aja nggak usah banyak sana sini." Karena ia tak mau panjang lebar Mario pun langsung saja mematikannya dengan cepat. Langsung saja keluar dari rumah dan masuk kedalam mobilnya karena hari ini ia pengen banget bawa mobil padahal biasanya sudah pernah juga bawa mobil cuman jarang kesekian kalinya dan motor juga lagi kotor banget jadi nggak dibersihin.


POV Vita


"Kenapa malah di matiin sih? Gue kan pengen kasih tau kalau misalnya baju yang mana yang cocok? Sebel banget sama Mario yang makin lama makin bikin kesel, tapi gue bakalan gak pantang menyerah untuk mendapatkan kembali Mario." Ucapnya yang langsung saja menaruh kembali ponselnya ke dalam tas kecil miliknya.


"Kamu lagi ngapain sih? Ayo di pilih bajunya mau yang mana sih?" Ucap papah yang menegang kedua baju yang akan ia kenakan ketika nanti di pesta ulang tahun. Raut wajahnya tak dapat di pungkiri sama sekali. Ia pun memilih asal baju yang ada di sebelah tangan kanan Vita.


"Wajah kamu kenapa di tekuk kayak gitu? Ya ampun ayo dong semangat." Sahut papah yang menyuruh Vita untuk jauh lebih semangat dari awal tadi berangkat, ia tau Vita mendadak berubah haluan.


"Enggak kok pah, ya udah baju yang ini aja lebih simple dan lebih elegan aja gitu." Senyumnya kepada papah. Tak mungkin ia harus mengamuk - ngamuk.


----


Mario keluar dari mobilnya dan menuju ke dalam ruangan untuk latihan basket. Ia sudah melihat teman-teman sedang bermain di lapangan dan ada sebagian juga yang sedang duduk kebetulan Kevin sahabatnya. "Dari mana lo?"


"Maaf gue telat." Singkatnya.


Kevin menatap Mario begitu tajam sekali. "Gimana lo udah nembak Tania? Perasaan lo kan udah mulai deket sama dia dan lo hampir tiap hari juga kan jemput dia dan nganterin dia balik tapi kok gue nggak ngeliat lo udah nembak dia sih?"


"Ya nggak apa-apa sih ih kan yang penting belum satu bulan juga. Pokoknya kalau misalkan gue udah berhasil bikin dia jatuh cinta terus gue bakalan putusin secepat mungkin sebelum waktu yang ditentukan tapi kalau misalkan gue yang jatuh cinta duluan sama dia. Ya lo berhak dapetin hadiah apapun dari gue." Tepuk Mario dibahu Kevin.


"Oke deh kalau misalkan kayak gitu gue pikir lo udah lupa sama perjanjian kita makanya gue ke inget." Ucap Kevin kepada Mario ia hanya sekedar mengingatkan perjanjian di awal mereka. Setelah istirahat sebentar Mario pun melanjutkan untuk bermain atau latihan di lapangan bersama teman-teman yang lain agar lebih tahu trik-trik supaya mereka menang nantinya di pertandingan lomba.


"Gila Kevin makin lama makin bikin gue kesel banget sih jadi orang!" Batin Mario yang menatap kedua mata Kevin yang makin hari makin tengil.


Ia meneguk air mineral yang ia bawa tadi, dengan begitu cepat masuk ke dalam kerongkongan.


***


Pulang dari latihan basket, Mario langsung saja bergegas untuk makan malam di meja makan setelah ia mandi sebelumnya. Sudah di persiapkan oleh mama. Karen selalu saja duduk di samping Mario. "Udah pada makan aja. Maaf nih telat."


"Sibuk pacaran mah." Ucapnya yang begitu singkat namun membuat Mario menjitak kepala Karen.


"Hei tak boleh kamu sama adik kamu, itu gak boleh lagi Mario. Kamu sudah besar!"


"Hahaha iya nih mah." Karen semakin menjadi dengan ulahnya karna di bela mama.


"Kak, kak Vita bentar lagi ulang tahun kan?"


"Kok kamu tau?"


"Iya dong kak, soalnya dulu kan ngerayain sama kakak juga. Aku masih ada fotonya kok sampai sekarang masih di simpan." Karen membuka ponselnya dan memperlihatkan di galerinya satu tahun yang lalu kepada Mario, di saat mereka merayakan ulang tahun ala-ala dari Mario. Ia pun juga ingat sangat jelas juga. Mario hanya mengangguk saja tanpa berkomentar sama sekali. Tak tau saja alasan mereka putus dan ini bukan konsumsi dari sang adik.


"Kakak udah kasih hadiah ke kak Vita?"


"Belum. Entar kalau sempat ke mall."


"Aku ikutan boleh kan? Aku mau kasih juga." Sahut Karen yang begitu antusias sekali ketika Mario belum membelikan hadiah kepada Vita.


"Iya nanti soalnya aku nggak tahu juga kapan belinya. Ntar kalau misalnya udah mau beli aku kasih tahu kamu deh." Ucapnya kepada Karen yang tak memberikan janji apa-apa.


***


23.00 malam.


Mario hanya bisa mondar-mandir ke kanan dan ke kiri memikirkan ucapan dari Kevin tadi di tempat latihan. Dia bingung karena menurutnya ini terlalu cepat untuk menembak atau menyatakan perasaannya kepada Tania menurutnya ada moment di mana nanti akan menyatakan perasaannya tidak untuk sekarang melainkan nanti. Walaupun ia tahu kalau misalkan perasaannya ini bukan perasaan benar-benar suka tapi perasaan yang benar-benar berdasarkan taruhan. Mario memberanikan diri untuk menelepon Tania untuk sekedar berbasa-basi atau membahas hal-hal yang tidak penting untuk mempererat atau mendekatkan diri kepada-nya, sayangnya Tania begitu kaku sekali tidak seperti apa yang ia harapkan.


"Hallo."


Tania


"Kenapa? Ini udah jam sebelas loh. Ada apa?"


"Lo udah mau tidur ya? Gue boleh nanya sesuatu sama lo?"


Tania


"Boleh, mau tanya tentang apa?"


Mario menghentikan percakapan dan bingung harus mengatakan apa, ia melirik ke arah jam dinding yang berdetak lebih kencang di kamarnya. Tak mungkin menyatakan perasaannya malam ini juga, tak etis sekali. "Gimana bukunya udah baca?"


Tania


"Sudah, perasaan sudah pernah nanya deh."


"Em gue pengen nanya aja."