Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 41. Tahu Rahasia



Di dalam kelas,


Bagus teringat tentang tawaran dari Vita, kalau ia menerima tawaran itu otomatis dia bisa dekat dengan Tania lebih dekat lagi dari sebelum-sebelumnya karena seperti yang ia tahu Vita masih sayang banget sama Mario atau mantannya itu. Selama pelajaran berlangsung ia sama sekali tidak fokus walaupun ia hanya bisa menatap ke arah depan tapi yang ada dipikirannya adalah ucapan dari Vita yang mampu mengalihkan penjelasan yang ada di depan. "Trus apa gue terima aja ya?" Ia menatap Mario yang duduk di depan sedang memperhatikan guru yang sedang menjelaskan. Kalau dilihat dari penampilan ya pasti jelas lah kalah banget dengan Mario karena Mario keren dan populer sekali di sekolah bahkan cewek-cewek hampir setiap hari ngantri untuk bisa berdampingan atau bersebelahan dengan Mario. Jangankan keluar dari kelas di kelas saja banyak sekali yang menggandrunginya. Sosoknya yang sangat berpengaruh sekali namun ia sama sekali tidak pernah menaruh rasa suka kepada Mario karena Mario yang tengil dan sombong. Ia kasihan kalau misalkan pertemuan antara Mario dan Tania itu bukan karena pertemanan yang tulus tapi pertemanan yang ada iming-iming ia tak mau orang yang tertindas selama ini dikhianati atau disakiti.


"Kayaknya ada yang ngeliatin gue deh." Batin Mario dalam hati, walaupun ia sama sekali tak melihat ke belakang tapi ia merasa.


----


Tami kebelet banget untuk ke toilet. "Temenin gue ke toilet dong, gue pengen banget pipis nih." Susah tak tahan lagi, kedua kaki bergerak ke kanan dan ke kiri karna kebelet banget.


"Hah? Ya udah deh kalau gitu, eh tapi gue tunggu sini dulu ya!" Pikiran itu terlontar tiba-tiba.


"Ya udah kalau gitu gue pamit dulu bentar tunggu sini aja!" Vita mengangguk.


Langkah Vita untung saja terhenti karena obrolan mereka begitu menarik perhatiannya ia membiarkan Tami untuk ke toilet terlebih dahulu dan ia lebih berdiri untuk menyusup mendengarkan obrolan mereka bertiga. "Mereka sebenarnya lagi ngobrolin apaan sih? Kok serius banget kalau lagi ngobrol emang ada apa?" Vita penasaran ia pun mendekat mendengarkan obrolan mereka.


"Gimana sih dari sekarang atau sampai sekarang belum nembak juga tuh sama Tania gimana sih kok malah biar biarin aja Ini kan waktu terus berjalan?" Tanya Kevin, Vita sama sekali belum bisa mencerna apa yang diucapkan oleh Kevin ia pun mendekat dan membuka telinganya lebih lebar agar mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Iya sabar dong ada momen yang pas gue bakalan nembak Tania jadi lo sabar dan santai aja dulu nggak usah terburu-buru kan taruhan itu itu masih panjang sekitar 15 harian jadi santai aja." Mario memegang bahu Kevin dengan kedua tangannya ia meyakinkan Kevin kalau misalkan waktu sudah tepat ia akan menembak Tania tidak usah disuruh-suruh atau nanti.


"Hah? Jadi selama ini Mario bener nggak cinta sama Tania itu tandanya cuma hanya sekedar rekayasa doang dong?" Ada rasa senang juga yang ada di pikiran Vita, ternyata yang selama ini ia takutkan bersaing dengan Tania itu tidak semuanya benar dan tidak semuanya terjadi melainkan ini sebuah taruhan saja ingin rasanya untuk merekam percakapan mereka tapi setelah ia mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya ternyata layarnya tidak bisa menyala ia baru ingat kalau misalkan ia belum mengisi daya baterainya. Kesal pun timbul secara tiba-tiba.


"Ah kenapa bisa jadi kayak gini sih di saat situasi lagi genting eh ponsel gue nggak bisa dinyalain gimana gue bisa nunjukin bukti ke Tania kalau misalkan HP gue mati kayak gini?"


"Pokoknya lo tenang aja gue bakalan nembak Tania juga kok cepat atau lambat semua bakalan terjadi, jadi lo jangan khawatir."


"Hei." Kejut Vita yang terkejut, seketika ia langsung teriak dan menutup mulutnya dengan cepat. "Lo kenapa sih jadi ngagetin gue banget gue kagak tahu nggak sih bisa-bisa gua ketahuan!"


"Ia ya maaf, sebenarnya lu lagi ngintipin siapa sih kok kaya sembunyi-sembunyi gitu?"


"Mario, lagi ngobrol sama dua temannya terus gue dengar ada sesuatu. Lo tau nggak sesuatu itu apa?"


"Apa?" Vita menjelaskan kepada Tami agar kami tidak terkejut dan kaget banget. "Pantesan aja sih selama ini mereka sama sekali kayak aneh deketnya gitu."


Tami sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Vita, ia pun meminta untuk di ulangi apa yang dimaksud oleh Vita. "Gue sama sekali nggak ngerti coba dong lo ceritain sama gue dan jelasin secara pelan-pelan."


Vita menarik nafas sejenak atas ucapan dan pertanyaan dari Tami. "Jadi begini Mario ngedeketin Tania itu karena taruhan doang bukan karena dia suka beneran sama Tania jadi kalau misalkan orang-orang bilang Mario tuh berubah karena Tania dan bohong sama dirinya sendiri. Lo paham kan maksud gue apaan?" Tekan Vita. Akhirnya Tami pun dengan ucapan Vita ternyata loadingnya agak sedikit lambat.


"Oh gitu, iya gue paham kok ternyata gitu ya kenapa bisa jadi kayak begitu ya?"


"Ya karena mereka taruhan Tami! Lo gimana sih sampai sekarang nggak ngerti-ngerti juga apa yang gue omongin deh?"


"Maaf ya gue loadingnya agak lama makanya kayak begini." Tami yang mengetok-ngetok kepalanya yang tidak cepat dalam menangkap ucapan dari Vita.


"Ya udah kita pergi aja dari sini entar kita ketahuan sama yang lain." Tarik Vita kepada lengan Tami.


----


"Siapa sih ini?"


Nomor Misterius.


"Jadi gimana lo mau gak buat deket sama Tania? Gue dapatin rahasia yang besar yang bakalan bikin lo mau!"


Bagus sama sekali tak menggubris pesan text yang ada di ponselnya, lagian ia sama sekali tak mengenali siapa pengirim text tersebut. Ia paling males kalau berhubungan dengan seseorang yang tak tau siapa dan di mana.


Setelah beberapa menit kemudian, ia mengirimkan lagi dengan bahasa yang menohok. "Tolong di balas. Lo kenal gue kok, coba lo pikir!" Bagus menerka-nerka siapa yang mengirimkan hal ini. Siapa?


"Dia siapa sih? Kok ganggu banget. Apa Vita? Dia kan pernah ngajakkin buat kerja sama? Apa dia ya?" Bagus menebak itu Vita, ia pun mengambil ponselnya lalu mengirimkan kepada seseorang itu kalau misalnya ia akan bertemu besok.


Nomor Misterius.


"Kita ketemu aja besok! Dan gue bakalan kasih tau di mana tempatnya! Gue yakin lo bakalan terkejut dengan hal ini. Ya sampai ketemu besok."


"Oke."