Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 49. Pacaran Juga?



Juan melihat Giska sedang memperhatikan antara Mario dan Tania ia pun menyindir Giska seolah-olah Giska merasa iri dengan kedekatan Mario dan Tania. "Oh jadi pengen juga digituin?" Sindir Juan yang tak jauh dari langkah Giska.


"Apaan sih lo ngomong kayak gitu pede banget jadi orang?" Telak Giska yang menolak keras ucapan dari Juan entah kenapa kali ini Juan terlalu kepedean padahal dalam hatinya juga pengen ngarepin Juan juga pengen kaya Tania dan Mario cewek cupu bareng sama cowok ganteng seperti di negeri dongeng. Ia kepikiran untuk merubah dirinya menjadi cewek yang lebih cantik dan lebih menarik supaya bisa dihargai oleh cowok-cowok ganteng dan mungkin saja itu bisa membuat Juan tertarik kepadanya karena dia cantik bukan karena apa adanya tapi emang itu tabiatnya seorang cowok.


"Siapa juga yang mau digituin ya kalau misalkan gue mau digituin ya pastinya bukan sama lo lah." Giska merasa kesal ia pun langsung saja pergi meninggalkan Juan.


"Hahaha digituin aja udah baper gimana gue tembak ya?" Ucap Juan yang lalu pergi begitu saja meninggalkan Giska.


***


Selama perjalanan ke arah pulang Tania hanya diam saja bingung harus mengatakan apa kepada Mario yang sekarang sudah berubah status menjadi pacarnya. Udara dan suasana yang dingin berubah menjadi panas entah itu asal mulanya karena aura atau karena benar-benar ia tegang bersama Mario karena status mereka sudah berubah secara otomatis dan ia mengiyakan kalau misalkan Mario menjadi pacarnya. Mario hanya melihat dari kaca spion melihat aura dari Tania yang begitu tegang sekali ia pun menyindir seakan-akan Tania sedang mengalaminya. Yang buatkan ia benar-benar terdiam kikuk dan tak bisa menjawab apapun apakah ini adalah sesuatu mimpi buruk atau suatu mimpi yang sangat indah yang ia dambakan selama ini entah doa mana yang terkabulkan. "Kenapa sih tegang banget pulang bareng sama gue biasanya juga ngobrol apa gara-gara kita udah jadian ya? Cie kalau udah senang banget kan pastinya dia dalam hati loh kalau misalkan kita jadian! Pasti lo gengsi banget kan untuk ngungkapin itu semua kalau misalkan lu beneran cinta dan sayang sama gue dari dulu sebelum gue ngungkapin perasaan gue ke lo?" Benar, lain dimulut lain dihati tidak mungkin mengatakan kalau misalkan ia pernah menaruh rasa bahkan sampai rasa itu sekarang ia rasakan kepada Mario.


"Jangan bikin gue nggak bisa ngomong lo pikir lo doang cowok paling ganteng di sekolah banyak cowok ganteng!"


"Siapa? Bagus, itu tipe lo bukan sih kalau misalkan nih gue nanya sama lo dia sama gue kira-kira menurut lo menurut kacamata cewek secantik lo apakah gue sama dia sama atau beda ibaratnya langit atau bumi?"


"Ya kalau dari fisik sih gue akuin gantengan lo dan kerenan lo tapi kenapa sih enggak usah dibeda-bedakan gitu kali kita tuh sama-sama manusia tergantung attitude kita aja yang bikin aura semuanya!" Jelas Tania yang kesal karena Mario terus saja membanding-bandingkan dengan orang yang tidak harus dibanding-bandingkan karena mereka memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing tidak perlu harus disamaratakan dan titik fokus yang berbeda-beda setiap orang pasti beda.


"Lo seneng kan pacaran sama gue sekarang dan kita udah resmi jadi pacar!" Pedenya Mario mempertanyakan ini kepada Tania. Tania masih bingung dengan ucapan Mario.


Tania sama sekali tak menjawab ia pun mengucapkan terima kasih karena diantar pulang dengan Mario dengan status yang beda biasanya hanya teman biasa atau teman sekolah. "Makasih banyak ya udah anterin gue pulang balik!"


"Dadah pacar! Sampai ketemu lagi di sekolah ya oh ya jangan lupa jangan lagi panggil gue tapi aku kamu oke?" Hem kenapa seperti ini sih ucapan dari Mario ia menahan tawanya dan gelinya menjawab ini. Tania masuk kedalam rumah rasanya tegang dagdigdug yang ia rasakan tadi ketika di motor Mario berubah menjadi plong banget.


"Kenapa sih Mario bisa tahu perasaan gue ke dia padahal gue nggak pernah cerita sama siapapun apakah dia bener-bener cinta sama gue takutnya gue beneran jadi bahan taruhan!" Mama bingung dengan ucapan Tania kenapa ia memegang jantung yang berdegup lebih kencang mama langsung saja dengan polosnya mempertanyakan ada apa dengan Tania. Tania seolah-olah memancing Mama ia ingin menanyakan kepada Mama yang jauh berpengalaman merasakan hal ini mungkin dulu sebelum ia menikah.


"Mah aku boleh nanya sesuatu nggak sama Mama kenapa sih kalau misalkan kita dekat sama cowok terus tiba-tiba jantung kita itu kayak berdebar gitu itu pertanda apa ya mah?" Bukannya menjawab mama malah tersenyum dengan ucapan Tania ia tahu apa maksud dari Tania ia menyuruh Tania duduk dan mengobrol sebentar lalu ia mengecup dengan cepat di kening Tania. Tertujulah nama yang melintas di pikiran mama yaitu Mario. Apakah Mama secara tidak langsung merasakan kalau misalkan Mario memberikan aura yang positif dan bisa mempengaruhi orang-orang yang ada di sekitarnya hingga orang-orang itu menyetujui hubungan antara Mario dan dirinya.


"Maksud mama apaan sih kok aku belum ngerti ya maksudnya mama cuma senyum doang sambil ngechat kening aku?" Ia menaikkan alisnya sedikit naik.


"Kamu lagi jatuh cinta ya sama Mario makanya jantung kamu berdebar lebih kencang daripada biasanya? Kalau emang bener juga nggak masalah Mama setuju kok sama hubungan kamu dan Mario kayaknya dia anak yang sopan dia sering antar jemput kamu tanpa balasan bukan seperti itu?" Ungkap mama mengelus pundak Tania. Benar beberapa bulan dekat dengan Mario, Mario selalu antara jemputan Tania.


"Ya orang baikan bisa berbuat kepada siapapun tanpa harus mengharapkan balasan. Loh kok malah bahas Mario sih mah aku kan nanya kenapa orang jantungnya dag dig dug kalau deket sama cowok kenapa mama malah ngucapin nama Mario?"


"Ya yang deket sama kamu itu kan setahu mama ya Mario doang kan nggak ada cowok yang lain? Itu tandanya secara tidak langsung alam bawah sadar kamu bilang kalau misalkan kamu tuh suka sama dia dan dia juga suka sama kamu ya tinggal nunggu waktunya aja dia buat nembak kamu. Mama selalu dukung apa yang kalian jalanin selagi itu adalah hal yang positif dan tidak merugikan satu sama lain diantara kalian." Positif sekali pikiran mama berbanding terbalik kepada Tania yang selalu overthinking terhadap Mario karena mungkin karena Bagus yang bilang kalau misalkan Mario cuma memanfaatkannya sebagai bahan taruhan maka dari itu rasa kepercayaan diri Tania berkurang.