
"Mah kak Mario mana kok enggak kelihatan sih?"
"Ada di kamar enggak tahu dari tadi enggak turun-turun mungkin dia lagi galau atau nggak enak badan coba deh kamu samperin ke atas!"
"Hah galau tentang apaan mah? Kan kak Mario lagi jomblo kenapa malah galau?" Gumamnya dalam hati. Ia membawa toples makanan yang ada di atas meja lalu membawanya ke dalam kamar Mario. Dengan langkah kaki pelan-pelan agar tidak pecah yang ia pegang kali ini b
Karen melihat kamar kakaknya yang terbuka sedikit ia pun dengan isengnya masuk ke dalam dan membawa makanan yang ia pegang yang baru saja ia bawa dari bawah. "Kak tumben banget anteng dan tumben banget diam?"
"Kakak lagi galau nih pengen cerita sama kamu ya udah sini dong bagi makanannya! Tapi nggak galau galau banget sih santai aja."
"Tumben banget sih kak kamu galau ada apa nih cerita dong sama aku?"
"Gak apa kok cuma galau bentar doang enggak galau-galau yang kayak gimana banget!" Sahut Mario yang berbohong kepada ucapannya sendiri ia takut kalau misalkan akan membuat Karen ikut campur dengan urusannya karena urusannya begitu berat sekali itu adalah sebuah taruhan.
Tapi perasaan seorang perempuan sangatlah dominan dan tidak bisa dikalahkan oleh apapun apalagi instingnya sangat begitu ketat. "Hei ayo dong curhat sama aku ceritain aja semuanya aku bakalan bantu kok kalau misalkan kakak pengen minta bantuan sama aku Insya Allah aku bakalan bantu ayo buruan kak curhat!" Sahutnya yang begitu cepat sekali ia ingin kalau misalkan kakaknya curhat dan melapangkan pikiran-pikiran yang tidak-tidak.
"Apa gue ceritain aja ya sama karena dia kan sama-sama perempuan sama kayak Tania ya kali aja gitu bisa ngebantu dan meringankan beban yang ada di pikiran gue!" Ia menarik napas sejenak untuk mengatakan hal ini karena ia takut disalahartikan oleh Karen dan juga ia takut kalau misalkan apa yang ia ucapkan nanti kepada Karen agak sulit.
"Ayo kak buruan kok malah bengong aja sih dari tadi!"
"Jadi kakak jadiin seorang perempuan itu taruhan di sekolah dan kakak kalah dari perubahan tersebut dan sebagai hadiahnya kakak kasih mobil yang ada di garasi Tapi kamu jangan bilang-bilang sama mama dan papah ya kalau misalkan kakak kasih mobil tersebut!" Kedua mata Karen langsung terbelalak dengan ucapan dari Mario, pantesan saja kemarin ia sempat ke garasi tapi ternyata ada yang kurang ternyata ini jawabannya.
"Kakak mohon sama kamu jangan kasih tahu mama dan papah kalau misalkan ketahuan mereka bakalan marah kamu janji ya jangan bakalan kasih tahu."
"Tapi kenapa sih kakak malah taruhan cewek kan ngerugiin diri kakak sendiri apalagi mobil itu adalah mobil yang cukup mahal yang diberikan waktu ulang tahun kakak beberapa tahun yang lalu tapi kenapa malah kakak jadiin itu bahan taruhan." Karen sedikit kecewa dengan ucapan dari Mario padahal mau beli itu adalah mobil hadiah kenapa malah diberikan kepada orang lain. Mario pun sama sekali tidak menyangka kalau misalkan apa yang diucapkan oleh karena itu emang benar dan tidak salah dan jelas sekali kalau misalkan Karen kecewa.
"Ya udah kalau gitu tapi kakak janji ya jangan pernah ngulangin lagi." Karen pun berjanji kalau misalkan tidak akan mengatakan hal ini kepada mama papah.
"Tapi kak kalau boleh tahu siapa sih perempuan yang dijadiin bahan taruhan? Perasaan aneh banget jadi tiba-tiba kalian jadi dia bahan taruhan?" Karen penasaran dengan sosok yang dijadikan bahan taruhan.
"Ya orang itu yang pernah ke sini waktu itu masa kamu enggak ingat sih namanya Tania. Ya penampilannya sih nggak begitu bagus banget sederhanalah pokoknya."
"Tania?" Karen masih menerka-nerka seseorang yang bernama Tania.
"Inget gak? Masa kamu nggak inget sih nama yang yang bernama Tania?"
"Oh iya kak aku ingat, jadi itu yang dijadiin bahan taruhan ya ampun kak kenapa dijadiin bahan taruhan cewek yang begitu yang cantik kan dikit napa terus kakak pura-pura pacaran sama dia? Ya ampun jangan sampai deh kalau misalkan kakak jatuh cinta sama tuh perempuan aduh kayanya aja nggak cantik banget yang nggak cocok lah sama kakakku yang paling ganteng ini!" Tepuk Karen di bahu Mario.
"Ya---"
"Ya nggak tau juga sih tapi selama kakak pacaran pura-pura sama dia dia orangnya baik kok nggak neko-neko kayak perempuan lain jadi kakak nggak ngerasa kayak gimana-gimana juga!"
"Hah apa jangan-jangan kakak udah mulai jatuh cinta sama perempuan itu? Kok kakak malah suka sih ih nyebelin banget selera kakak tuh kayak gimana sebenarnya? Ya ampun aku mau ah punya kakak kayak begini!"
"Hei bawel kamu ngomong apaan sih emang kakak ngomong kalau misalkan kakak suka sama dia nggak sama sekali kan? Kakak sama dia cuma jadi pacar pura-pura doang dan dia juga udah mutusin kakak kok makanya kakak kalah dari taruhan jadi kamu jangan kaget terlalu berlebihan kayak gitu dong!" Jelas Mario yang mengatakan hal ini kepada adiknya dan adiknya pun mengelus dada karena merasa lega.
"Ya pokoknya aku nggak mau kalau misalkan kak Mario pacaran sama tuh cewek apalagi cewek cupu begitu ya nggak cocoklah buat kakak yang ganteng ya kebangetan aku aja nih misalnya bukan adiknya kakak kandung aku bakal naksir dan ngejar-ngejar kakak sebagai cowok ganteng." Mario malah tertawa terbahak-bahak dengan ucapan adiknya yang terlalu berlebihan dan lebay ia mengacak-acak puncak kepala Karen dengan begitu cepat yang membuat adiknya malah merasa kakaknya malah santai.
"Makanya kamu tuh jangan centil banget jadi cewek kakak takut deh kalau misalkan kamu centil." Sahut dari Mario yang menggelengkan kepala karena adiknya yang semakin hari semakin puber.
"Hahaha maaf deh kak walaupun aku masih SMP tapi kan aku juga tahu tentang percintaan cuma kakak doang."
"Ya tapi kamu tuh masih bocah belajar dulu gih yang banyak biar kamu tuh pintar dan kamu bisa meraih cita-cita kamu dengan cepat jadi jangan terlalu banyak pikiran hal-hal kayak pacaran begini ntar kamu kayak kakak kamu loh yang aneh kamu nggak mau kan?"
"Iya kak iya, iya deh yang udah SMA makanya udah berani ngomong sama adiknya yang masih SMP!" Manyun Karen gemas sekali karena orangnya begitu ekspresif dengan keadaan hal apapun.