Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 70. Vita Ngamuk



Vita melihat Mario yang baru saja keluar dari kelasnya, lalu dengan singkat ia memanggil Mario yang terhenti sejenak. "Mario." Vita menghentikan langkah kaki Mario. Ia mengajak Mario untuk pulang bareng tapi Mario telak menolaknya. Ada percecokan yang di pertontonkan oleh teman-temannya yang lain.


"Kenapa vit?"


"Gue pengen pulang bareng sama lo kira-kira boleh enggak? Udah lama banget nih gue nggak nebeng di motor lo jadi kangen deh gue."


"Maaf gue nggak bisa jadi lo cari tumpangan yang lain!" Dengan tegas Mario menolaknya.


"Lah kenapa nggak bisa sih ayolah barang sama gue masa lo nggak kangen sih sama momen-momen kita yang dulu?"


"Apaan sih itu masa kelam ngapain lagi harus diingat-ingat lembaran baru itu jangan masih ada di lembaran yang lama udahlah lo pulang sama yang lain aja ngapain sih ganggu gue mulu!" Vita terus saja memaksa agar Mario mau mengantarkannya pulang ke rumah.


"Lo kenapa sih masih ganggu gue?"


"Kita kan masih------"


"Masih apa sih? Jangan pikir gue masih berharap sama lo ya. Sama sekali enggak, gue sama sekali gak pernah berharap sama lo. Oh iya gue pengen kasih tau lo kalau misalnya gue udah gak cinta lagi sama lo. Dan lo gak usah deket-deket lagi sama gue karna gue gak bakalan tergoda. Ngerti lo?" Mario melepaskan tangan Vita yang memegang tangannya dengan cepat, ia pun menaiki motornya tanpa mengajak Vita naik motor. Setelahnya Tami menghampiri Vita yang di perlakukan seperti itu oleh Mario.


"Gue kesel banget tau gak sih. Gue sama sekali gak suka sama sekali gak suka!" Jawabnya dengan logat tak terima. Tami memegang pundaknya untuk menyadarkan agar Vita bisa tenang dan bisa membalas apa yang di lakukan oleh Mario itu tidak sampai di sana saja.


"Udah sabar aja gue yakin kok lo bakalan mendapatkan apa yang lo inginkan sabar aja."


"Sabar, sabar harus gimana caranya? Biar gue bisa balik sama Mario? Apa yang harus gue lakukan?"


Tami langsung saja berbisik di telinga Vita untuk mengatakan hal ini, ide yang tak di sangka-sangka oleh Vita sendiri. Biasanya temannya satu ini agak loadingnya lama namun kali ini sedikit agak pintar. Ia setuju dan mengiyakan apa yang di katakan oleh Tami. "Lo yakin? Kalau misalnya gak berhasil gimana?"


"Gue yakin banget kalau misalnya bakalan berhasil, kalau gak berhasil ya udah deh lo bisa musuhin gue deh kalau kayak gitu. Tapi kalau bisanya gue bener lo ya yang bayar gue?"


"Ah enak aja lo!" Tolak Vita mentah-mentah.


"Nah makanya percaya aja sama gue pasti berhasil gue yakin banget kalo misalkan Tania langsung aja percaya gitu dengan apa yang lo omongin nanti jadi lo jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu deh gue yakin banget ini bakalan berhasil." Tami begitu yakin sekali dengan apa yang ia ucapkan.


"Ya udah deh gue percaya sama lo tapi lo temenin gue ya ke rumah dia."


"Ya udah." Mereka sepakat hari ini bakalan ke rumah Tania untuk merencanakan hal ini semoga aja berhasil.


***


Ia melihat Tania sedang duduk di ruang tamu, ketika Tania ingin masuk ke dalam mereka berdua menahan Tania dan mereka berpura untuk melakukan apa yang mereka ingin katakan sehingga membuat Tania bingung dan merasa aneh. "Gue boleh ngomong sesuatu sama lo gak? Soalnya ini penting banget gue pengen ngomong sama lo." Dengan penuh keyakinan akhirnya berhasil membuat Tania seakan mau mendengarkan apa yang mereka katakan.


"Jadi sebenernya kita berdua pengen minta tolong sama lo tapi kira-kira lo mau nggak bantuin kita? Gue bingung harus minta bantuan sama siapa lagi jadi kalau menurut gue sih lo bakalan pasti bisa bantuin kita bantuin gue lah lebih tepatnya."


"Bantuin soal apa ya?" Tania merasa bingung apa yang harus bisa ia bantu perasaan selama ini mereka tidak suka dengan kehadiran Tania dekat dengan Mario.


"Gue pengen minta tolong supaya lo mau bantuin gue buat deketin gue sama Mario. Gue pengen balikan sama dia. Gue yakin banget sebagai perempuan lo pasti baik banget dan mau kan bantuin gue? Lo kan orang baik. Jadi gue pengen minta bantuan sama lo nih. Gimana?"


Tania bingung dan bukannya gak mau bantuin Vita tapi ia males banget berhubungan dengan Mario lagi. Ia tak mau hidupnya menjadi rumit dan menjadi hal yang sulit, tak mau lagi. "Gue janji deh bakalan kasih berapa pun uang yang lo butuhin gue. Waktu gue udah gak lama lagi Tan, gue pengen bahagia di sisa hidup gue." Mendengar seperti itu Tania merasa ia dan memainkan jemarinya di baju yang ia kenakan. Kalau tidak membantu apa yang harus membiarkan Vita tidak bahagia di sisa hidupnya? Seandainya saja ia seperti itu. Pikiran kanan dan kirinya terus saja berjalan.


"Jadi gimana? Mau gak bantuin gue? Gue mohon banget sama lo. Tapi lo jangan kasih tau Mario kalau gue minta tolong ke lo ya. Pasti dia marah banget dan gue mohon lo ketemu sama dia dan mohon sama dia buat balik lagi sama gue. Bantuin gue Tan." Ia memasang wajah yang sedih agar semakin drama dan semakin paham oleh Tania yang mudah iba kepada siapapun. Ia menarik napas sejenak untuk sekedar berpikir saja. Sekitar 10 menit hening ia pun tersenyum lalu mengangguk mengiyakan permintaan dari Vita. Tami sudah yakin kalau dengan cara seperti ini bakalan tepat sasaran walau ini semua hanya sekedar rekayasa saja. Vita memeluk Tania sebagai tanda terima kasih.


"Makasih banyak ya lo udah baik banget sama gue. Gue harap gue bisa balikan sama Mario. Tapi lo jangan bilang ke mari ya kalau misalkan umur gue sedikit lagi, nggak lama-lama tapi lo jangan kasih tau dia ya?" Sedikit isakan drama yang terjadi di dalam diri Vita agar lebih drama dan drama.


"Ya udah kalau gitu pokoknya lo tenang aja ya. Gue yakin kok kalau misalnya dia mau balikan sama lo."


"Tapi lo gak kasih tau kan kalau misalnya ----"


"Iya tenang aja gue bakalan gak kasih tau kok sama dia.."


"Rasain gue bohongin juga gak sadar, polos banget sih jadi orang haha." Batinnya yang tertawa terbahak-bahak dengan kepolosan yang di miliki oleh Tania.


"Ya udah kalau gitu kita langsung pamit pulang aja ya makasih banyak."


"Iya sama-sama. Gue bakalan bantuin lo kok." Senyumnya.