Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 65. Masa Yang Lalu



Langkahnya seakan membingungkan entah kenapa tiba-tiba ia malah menuju ke arah kelas Tania yang padahal mereka sudah putus. "Loh gue kok malah menuju gak alasannya sih ngapain juga gue kesana!" Gumamnya dalam hati. Namun tiba-tiba saja ia melihat pandangan yang tidak mungkin bisa ia alihkan kearah lain. Tania dan Bagus mulai dekat dan membuat Mario seakan-akan merasa tersingkirkan. "Kok mereka berdua pulang bareng sih apa mereka mulai dekat?" Ucapnya yang berhenti sejenak melihat keakraban mereka berdua yang sudah ada di depan. Sebenarnya ini bukan urusannya lagi karena Mario sudah resmi menjadi mantannya Tania. Tapi entah kenapa rasa kekecewaan itu terus saja muncul dan berubah menjadi ingin kembali seperti semula seperti kemarin-kemarin.


"Kenapa mereka bisa seakrab itu "Ya udah deh ini semua kayaknya salah gue deh ya udah gue harus tanggung resikonya dan gue bakalan kehilangan orang yang selama ini tulus sama gue yang enggak pernah ngarepin apa dari gue tapi malah gue yang nyakitin dia! lo emang bodoh Mario kenapa lu bisa kayak gini dia yang bikin nilai lo bagus dan dia juga yang bikin lo semangat buat belajar bisa apa nggak suka sama lo tapi dia yang ngeliatin lo untuk bisa berjuang." Ucapnya dalam hati yang kecewa dengan dirinya sendiri tentang apa yang ia kerjakan dan tentang apa yang ia lakukan. Mungkin benar kalau misalkan penyesalan itu adalah hal yang ada di belakang yang tidak akan pernah bisa diputar mundurkan kembali.


***


"Menurut lo sahabatan sama gue seru nggak eh maksudnya temenan sama gue seru nggak?"


"Hah seru sih kalau menurut gue! Gue sadar kalau misalkan gue itu circlenya harus temenan sama orang-orang yang bener-bener ngerti dan paham sama kehidupan yang kita jalani gak cuma sekedar mandang dari apa yang dia mau dari kita makanya mereka mau temenan sama kita!" Dari arahnya sepertinya Bagus mengerti arah tujuan dari Tania mengatakan hal ini kemana tapi ia berpura-pura saja tidak paham dan tidak mengerti.


"Siapa sih orang yang lo maksud? Coba mau cerita sama gue kali aja gue bisa ngebantu atau bisa kasih solusi!"


Tania tersenyum dengan ucapan dari Bagus. "Maksudnya lo apa sih kayaknya lo nyindir gue ya? Gue nggak ada buat nyindir seseorang kok gue pengen intropeksi aja sama diri gue ke depan itu kayak gimana supaya nggak salah pilih untuk berteman!"


"Oh gitu ya tapi sih menurut gue minder tadi nyindir salah satu orang yang enggak ada di sini tapi enggak papa gue paham dan gue ngerti maksud lo apa yang jelas adalah kita harus pintar cari teman yang mana yang baik dan mana yang gak baik buat kita dan itu bakalan ngerugiin bangetlah untuk kedepannya kita kayak gimana!"


"Iya sih bener banget apa yang lo bilang tadi tapi juga kalau misalkan kita nggak akan pernah ngerasain sesuatu hal yang terpuruk itu kita nggak tahu gimana rasanya dan kita cuma menerka-nerka apa yang sedang terjadi sama diri kita tapi yang jelas adalah bagaimana cara kita untuk tetap bertahan sama prinsip kita dan tidak merugikan orang lain biarin aja mereka ngerugiin kita tapi yang jelas kita nggak akan pernah ngerugiin mereka!"


"Sumpah obrolan kita begitu berfaedah sekali ya untuk dijadikan suatu pembelajaran supaya ya nggak terulang kembali ya walaupun terulang jadi kita bisa mengatasinya kayak gimana!"


Mereka berdua pun tertawa bersama-sama seakan-akan apa yang terjadi di kemarin hari itu adalah sesuatu yang ngebikin pembelajaran dan suatu yang bisa dijadikan pemahaman agar tidak terulang di kemudian hari dan bisa menjadi sosok yang dewasa tanpa diketahui. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk berpisah jalur dikarenakan jarak mereka dan jalur mereka berbeda.


Ternyata Bagus tahu apa yang ia ucapkan tadi ternyata memiliki frekuensi yang sama dan di kondisi yang sama lebih mudah untuk mengerti satu sama lain bahkan tanpa dijelaskan pun sudah paham dan mengerti. Ia hanya bisa menertawakan kejadian-kejadian yang sudah terlewat. Ternyata dari belakang ada yang tiba-tiba menghentikan motornya sejenak ternyata orang itu adalah Mario yang sejak tadi membuntuti mereka berdua. Ia menghentikan motornya lalu menarik tangan Tania dengan begitu cepat. Sorot matanya begitu tajam sekali bahkan membuat Tania merasa bingung bagaimana cara melepaskan genggaman tangan tersebut. "Hei lo kenapa kok tiba-tiba pegang tangan gue?"


"Gue pengen ngobrol sama lo sebentar doang boleh?"


"Mau ngobrol apa sih Mario nggak ada harus yang diobrolin juga?"


Karena Mario keras kepala ia pun menarik tangan ia tanpa harus menjawab pertanyaan Tania mau atau tidaknya untuk diajak ngobrol. "Ya ampun kok lo maksa banget sih buat ngobrol?"


"Kenapa setelah kita putus gue selalu kepikiran sama lo. Dan entah kenapa gue selalu dibayang-bayangi rasa bersalah karena ngelakuin ini semua sama lo gue bener-bener minta maaf banget dan nggak ada maksud untuk nyakitin lo secara nggak langsung. Gue sadar banget kalau misalkan apa yang gue lakukan ini adalah salah dan orang satu-satunya yang selama ini percaya itu adalah hasil kerja keras gue ya cuma lo! Jadi semua nilai gue itu berkat lo gue belajar karena motivasi lo dan lo nggak cariin gue gimana cara belajar dan itu gue belum dapat izin dari temen-temen yang ada di sekolah bahkan kedua sahabat gue aja nggak pernah kayak gitu ke gue!"


"Em, gimana ya gue pengen lo pinter ya karena diri lu sendiri bukan karena gue gue itu cuma jembatan yang bisa ngebantu lo dan memotivasi lo untuk bisa dapetin nilai jadi ini semua bukan hasil kerja keras gue gue cuma ngedukung dan nyemangatin doang selebihnya Itu adalah kerja keras lo." Ucap Tania yang perlahan melepaskan genggaman dari Mario.


"Tapi gue tetap aja ngerasa berhutang Budi sama lo. Lo mau kan nggak jalanin bareng sama gue lagi? Ya gue juga nggak bisa memaksakan kehendak lo sih untuk nerima gue lagi tapi setelah lo mutusin gue kemarin sampai sekarang dan sampai detik ini gue masih kepikiran dengan bodohnya gue masih berfikir."


"Lo pikir baik-baik deh ya!" Mario menyalakan sepeda motornya lalu meninggalkan Tania sendirian.


"Kok Mario malah ngomong kayak gitu sih ke gue! Gue melihat dari sorot matanya kayaknya nggak bohong dengan apa yang dia ucapkan duh kenapa jadi gue gini sih perasaannya gue kan pengen ngelupain dia. Kenapa dia malah datang lagi di kehidupan gue?"