Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 62. Minta Maaf



Sebelum waktunya ternyata semuanya gagal, ternyata semua sia-sia banget. Mario kalah dari taruhan. Ia menghampiri Kevin duluan dan ternyata menanyakan hadiah dari taruhan tersebut. "Gue kalah, lo mau hadiah taruhan apa?" Tanya Mario yang deg-degan banget dengan hadiah yang Kevin mau dari dirinya. Ia yakin sekali kalau misalkan Kevin meminta hadiah yang begitu besar bahkan bisa mahal.


"Mobil lo!" Dengan gampangnya Kevin mengatakan hal ini kepada Mario dan Mario sangat terkejut sekali dengan hadiah taruhan yang ingin didapatkan.


"Hah? Gila lo ya? Mana mungkin gue kasih mobil gue ke lo! Lo emang beneran gila siapa sih sebenarnya lo? Sumpah gue emang beneran ya nyesel punya sahabat kayak lo vin!" Ucap Mario kepada Kevin yang ternyata menjadi pemenangnya. Ia sama sekali tak menyangka kalau misalnya Kevinlah pemenangnya.


"Ya kan gue yang menang jadi terserah gue dong mau hadiah apa dari lho masa nggak mau sih kasih hadiah ke gue katanya apa aja hadiahnya yang gue minta sekarang gue udah kasih tau hadiahnya mobil lo malah kayak gini?"


"Lo enggak main-main ya mintanya sama gue! Oke gue bakalan kasih mobil itu nanti. Gue gak bakalan lagi buat taruhan sama lo!"


"Hahaha. Ya habisnya lo dari awal nggak pernah bilang kan hadiah apa yang pengen lo kasih ke gue ya udah gue mintanya mobil emang enggak boleh?" Ketawanya kencang sekali.


Tak berapa lama Mario memberikan kunci mobil kepada Kevin karna ia kalah dan Kevinlah pemenangnya. "Ini kunci mobil gue. Selamat lo sebagai pemenangnya. Dan gue nggak mau lagi yang namanya taruh taruhan ya udah kalau gitu gue pulang dulu ya." Ucap Mario yang langsung pulang saja.


Kevin bahagia banget bisa ngedapetin hadiah dari taruhan ia sama sekali tak menyangka kalau misalkan Mario bakalan kalah ia pikir Mario bakalan menang. Ia dari tadi melihat hadiah dari taruhan mereka berdua sama sekali tak menyangka kalau misalkan taruhan ini ia menangkan.


"Dan selamat bagi jadi pemenangnya dari taruhan ini!"


"Lo ikhlas nggak sama hadiah ini?"


"Ikhlas kok. Ikhlas kok."


"Tapi mukanya jangan ditekuk kayak gitu dong santai aja kayak orang nggak ikhlas gitu kasih hadiahnya ke gue!"


"Enggak kok, santai aja gue ikhlas kok kasih mobil ini ke lo gue udah kapok tau nggak sih kalau misalkan taruhan sama lo gue pikir gue yang bakalan menang ternyata lo!" Kevin menerima kunci mobil dari Mario dan ia melihat mobil itu masih sangat bagus dan sangat mengkilap sekali karena ia tahu selama ini kalau misalkan Mario memiliki benda apapun ia begitu awet sekali untuk menjaganya.


***


Entah kenapa dibenaknya tiba-tiba kepikiran tentang Tania, dan entah kenapa kenapa ia ingin mengatakan permintaan maaf kepada Tania karena ternyata yang selama ini ia lakukan kepada tani itu bohong bukan dari hati.


Karna tak mau basa-basi Mario pun berusaha ke rumah Tania untuk mengatakan hal ini kepada Tania.


"Iya nggak apa-apa kok santai aja tadi ke sini sama siapa."


"Sendirian aja kok. Ada sesuatu hal yang pengen gue sampaikan ke lo tapi gue harap lo jangan salah paham ya."


"Iya soal apa, apa ya udah kalau misalkan pengen ngomong-ngomong aja."


Ia memainkan jemarinya karena bingung harus memulai obrolan dari mana. "Soal masalah taruhan itu gue pengen minta maaf sama lo kalau misalkan apa yang gue lakukan selama ini salah." Tania tersenyum dengan ucapan dari Mario ia juga sama sekali tidak dendam dan tidak juga marah tapi biasa-biasa saja mungkin sudah jalannya seperti ini dijadikan bahan taruhan.


"Gimana? Maafin gue ya kalau misalkan selama ini salah nggak pernah jujur sama lo dan mempermasalahkan soal hubungan kita yang seakan-akan pura-pura."


"Seharusnya gue nggak jadiin lo sebagai bahan taruhan dan gue seharusnya jangan terima itu tapi ternyata gue dengan bodohnya mau-mau aja terima bahan taruhan itu. Gue kesini mau minta maaf sama lo kalau misalkan selama ini gue ada salah sama lu dan semuanya pura-pura atas kebaikan gue."


"Udahlah nggak papa kok mungkin bukan jalannya kita untuk ditakdirkan bareng gue juga jujur kalau misalkan dari awal itu nggak nyangka kalau misalkan lo deketin gue karena lo suka sama gue tapi karena ya udahlah mungkin belum pengen baik sama gue ya udah gue mau berteman baik sama lo dan ternyata lo tiba-tiba deketin gue dan nembak gue awalnya gue nggak mau terima juga karena gue tahu dari Bagus kalau misalkan lo jadiin gue bahan taruhan. Karna semuanya sudah berlalu ya udah nggak apa-apa mungkin bukan jalannya untuk kita bareng-bareng. Udahlah enggak usah dibahas lagi mungkin ya udah jalanin aja semuanya."


"Makasih banyak ya lo mau ngertiin gue dan gak mau marah-marah sama gue gue semakin merasa bersalah sama lo." Ucap Mario yang tak henti-hentinya meminta maaf kepada Tania atas perbuatannya selama ini."


"Tapi nggak papa kan kalau misalkan gue ke rumah lo hari ini?"


"Iya nggak papa dong nggak masalah. Main aja kesini kalau misalkan pengen. Ya udah nggak masalah."


"Ya udah kalau gitu santai aja ya jangan dibawa ribet dan kayak gimana-gimana."


"Tapi gue tanya sekali lagi lu masih mau kan temenan sama gue?"


Tania mengangguk dan tersenyum ucapan dari Mario ia menepuk bahu Mario dengan begitu cepat lalu ia berbisik yang membuat telinga Mario sedikit kebingungan dan bangga. "Gak papa kok santai aja mungkin kita ditakdirkan buat seperti ini dulu baru bisa menjadi pertemanan yang tulus dan baik jadi yang pernah berpikiran gue orang yang paling baik selama ini sama aja gue juga punya kesalahan tapi nggak kelihatan aja yang di kelihatan in sama Tuhan."


Tania sangat dewasa sekali menanggapi hal ini dan membuat Mario tersenyum dan bangga. "Baik deh kalau gitu makasih banyak ya ternyata lo tidak seburuk seperti orang pikir dan gue pikir juga!"