Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 93. Aduh.



"Hei kalian kenapa pacaran di sini emang kalian berdua udah kenal sebelumnya?" Berdasarkan ulah dari Roni, Tania pun akhirnya mendapatkan teguran langsung dari atasan yang menerimanya di tempat ini padahal ia sama sekali nggak tahu kalau misalkan Roni masih dalam tahap bekerja di dalam ruangan tapi kenapa malah duduk di samping Tania ini benar-benar membuatnya sedikit agak malu dan kurang enak hati karena ia merupakan karyawan baru di sini.


"Ya ampun santai aja kali nggak usah terlalu dipikirin hal yang kayak beginian apaan sih lo marah-marah enggak jelas banget!" ucapnya yang menggubris atasannya dengan cepat yang merupakan sahabatnya sendiri yang terlalu kaku dan keterlaluan disiplin padahal ini menurutnya sudah selesai jam kerja.


Akhirnya mereka pun dengan segera kembali untuk bekerja di kantor yang tidak jauh dari tempat di mana mereka nongkrong atau duduk. Dengan cepat pula Leo marah-marah enggak jelas dengan Roni karena menurutnya ini udah jam selesai buat makan siang tapi kenapa malah masih keluyuran dengan karyawan baru menurutnya mengajarkan karyawan baru untuk hal yang negatif atau hal yang buruk itu sangatlah tidak baik dan Roni hanya bisa santai saja karena mereka berdua notabene sudah kenal satu sama lain dari lama tapi tetep aja nggak baik.


Tania pun langsung saja segera permisi masuk ke dalam ruangan karena tidak mau terlibat dalam percekcokan yang terjadi dihadapannya kali ini. "Sudah ngapain sih marah-marah enggak jelas lagian juga cuma 5 menitan doang kenapa sih marah-marah enggak jelas kayak begitu emangnya lagi cemburu ya sama kita berdua?"


"Apaan sih. Gue cemburu sama perempuan biasa kayak begitu ya ampun enggak sama sekali lah gue masih banyak yang suka sama gue apalagi perempuan di luaran sana jauh lebih cantik dari pada dia mana mungkin gue suka sama dia aduh aneh-aneh aja deh!"


"Ngomong apaan sih, enggak boleh ngomong kayak begitu kali nanti bakalan karma sebenci-bencinya lo sama orang atau nggak sukanya lo sama orang jangan ngomong kayak begitu bisa jadi dia itu adalah orang yang baik yang menurut kita nggak baik. Menurut gue kalau dilihat-lihat dan juga di makeover dia bakalan cantik kok cuman dia nggak terlalu bisa dandan aja makanya kurang mempunyai daya tarik dari seorang perempuan ke seorang laki-laki udah ah gue capek ngomong sama lo nggak akan pernah ngerti apa yang gue rasain ce elah ngomong apaan sih gue ya!"


Leo sama sekali tidak suka dengan ucapan Roni karena menurutnya perempuan seperti Tania banyak di luaran sana bahkan jauh lebih cantik dan juga jauh lebih menarik banyak banget jadi menurutnya tidak akan pernah mungkin menyukai sosok seperti Tania.


Karna merasa tak enak hati Roni pun permisi untuk masuk ke dalam ruangan Tania lalu dengan cepat ia meminta ma'af kepada Tania karena perlakuan Leo yang benar-benar kurang sopan ya walaupun mungkin itu hanya sekedar kata-kata doang. "Iya nggak kenapa-napa kok emang bener sebagai seorang atasan harus tegas dan juga berwibawa makasih banyak ya!"


"Ya sudah kalau begitu aku permisi keluar dulu ya selamat bekerja dan jangan lupa nanti pulangnya kita pulang bareng jangan menolak karena aku paling suka yang namanya penolakan oke?"


Tania tampak ragu untuk menjawab karena sebelumnya ia sudah berjanji kepada Mario untuk mau dijemput karena Mario sudah maksa banget buat pulang bareng tapi gimana kalau misalkan Roni benar-benar mewujudkan apa yang ia ucapkan kali ini?


Selama dia bekerja yang merasa deg-degan banget bahkan di tempat yang ber-ac seperti ini rasanya sulit banget untuk menyesuaikan diri dikarenakan banyak banget masalah dan banyak banget ujian bagaimana caranya untuk mendapatkan uang setelah gajian selama 1 bulan ke depan dan itu bukan hal yang sangat mudah.


Beban yang dirasakan Tania kali ini ternyata baru saja ia rasakan dan ternyata kedua orang tuanya telah menopang ini sejak lama malah mampu membuatnya bisa lulus dengan sempurna dengan nilai yang baik tapi dengan seperti itu sebenarnya di dalam hati kecilnya pengen banget buat lanjut ke universitas atau ke kampus agar bisa menghasilkan nilai yang baik tapi ternyata semua itu pupus sudah.


Ia menarik napas sejenak untuk tetap santai menyelesaikan tugas yang ada dihadapannya sekarang.


***


Mario sudah sangat sengaja sekali menunggu di depan kantor Tania tak ada kelihatan batang hidungnya keluar dari tempat kerjanya itu. Ia pun mencoba untuk menghubungi kalau misalkan ia sudah berada di depan kantor tersebut ia melihat dari kejauhan setelah ingin memencet tombol nomor Tania dengan kejauhan ia melihat Tania sedang mengobrol dengan laki-laki yang waktu itu tidak disangka-sangka dan itu adalah rekan kerjanya sendiri.


Mario awalnya ingin keluar dari mobil tapi karena mungkin ini tempat orang lain dan kayaknya nggak sopan banget bikin onar dan yang paling penting adalah Tania baru saja masuk kerja ke tempat ini maka dari itu ia mencoba untuk meredam emosinya karena beberapa waktu yang lalu ia sempat berkelahi dengan Tania karena cuma hal sepele doang.


Tania pun berpamitan kepada laki-laki tersebut yang tidak ia ketahui namanya dan ia menarik pintu mobil untuk masuk ke dalam mobil Mario dan Mario pun hanya bisa tenang lalu melajukan kemudinya dan membawa Tania pergi terlebih dahulu dari tempat tersebut lalu menanyakan kenapa mereka berdua bisa sedekat ini.


"Aku udah bilang kalau misalkan aku tuh nggak ada hubungan dengan siapapun terkecuali sama kamu, aku harap kamu jangan marah-marah enggak jelas kayak begini aku kan udah bilang sama kamu?"


"Oke, aku bakalan percaya sama kamu dan aku bakalan pegang janji kamu kalau misalkan kamu nggak bakalan selingkuh ya udah deh kalau gitu nggak usah ngebahas hal yang gak penting kayak begini kamu mau makan atau aku anterin pulang aja langsung? Tapi kayaknya kamu lapar deh ya udah kita makan bentar dulu ya!"


Mario mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke arah lain agar tidak membuat suasana semakin panas dan ia tak mau untuk mengulang kembali lalu sampailah mereka di suatu tempat makanan yang sering mereka datangi setiap waktu mereka ada jadwal kosong dan bisa buat cerita-cerita di sana.


Seperti biasa Mario memesan makanan dan entah kenapa semenjak mereka pacaran dari dulu sampai sekarang rasa nggak enak akan selalu ada karena Tania yang rasa Mario terlalu berlebihan untuk menspesialkan dirinya menjadi manusia yang benar-benar seperti layaknya princess.


Dan berulang kali Mario selalu bilang juga kalau misalkan tidak boleh mengatakan hal tersebut karena menurutnya ya emang wajar sebagai seorang pacar ke pacarnya.