Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 11. Berbohong



"Kok ada jaket di pinggang sih?"


"Lo lagi PMS ya?"


"I---iya gue pms."


"Ya udah pulang bareng sama gue aja biar sampai cepet."


"Jangan, jangan, jangan nanti motor lo bakalan kotor kena darah menstruasi gue. Gue nggak papa kok pulang sendiri beneran!"


"Mau darah itu jauh keluarnya banyak? Karena gue jalan kaki? Ya udah gue anterin aja ntar gue bersihin bisa kok lagian cepet juga pulangnya naik motor dari pada jalan kaki tambah bikin malu gimana?"


Mereka hanya saling tatap satu sama lain.


Mereka membiarkan Mario dan Tania pulang bareng, dan ia hanya bisa pasrah dan diam saja. Dan ia pun duduk di motor Mario. Hanya diam dan bingung harus menjawab apa.


"Ya udah deh kita pasrah aja semoga Tania dia pulang dengan selamat sama Mario ya. Ya walaupun gue ngerasa cowok itu pasti ada sesuatu hal yang pengen dia lakukan yang kita nggak tahu."


"Ya udah biarin aja."


"Kenapa sih lo mau nungguin gue padahal lo bisa pulang sendiri tadi kenapa harus nungguin gue?"


"Ya nggak apa-apa gue pengen nungguin lo aja pengen pulang bareng soalnya udah terbiasa juga pulang bareng sama lo jadi kalo misalkan gue pulang sendiri rasa ada yang kurang itu! Emang salah gue nungguin lo pulang bareng?"


"Ya nggak sih aneh aja gitu cowok ganteng kaya lo masa nungguin cewek cukup kayak gue sih. Apa lo ada maksud tujuannya buat ngedeketin sama gue?" Kedua mata Mario langsung membulat ketika mendengar ia melontarkan kata-kata tersebut.


"Enggak kok ini memang kemauan gue aja pengen deket sama lo kenapa sih lo itu berpikiran negatif mulu sama seseorang seharusnya waktu berpikiran positif kan bagus gue ada kemauan untuk berubah menjadi yang lebih baik."


"Ya gue takut aja kalau misalkan lo deketin gue cuma gara-gara sesuatu hal terus tiba-tiba lo campakkan gue gitu aja sekarang gue kan cewek cupu yang bukan sederajat atau selevel kayak lo." Ungkap Tania kepada Mario yang langsung saja terdiam. Sebenarnya benar apa yang diucapkan oleh Tania namun Mario hanya bisa tersenyum dan menampiknya dengan cepat.


---


"Kenapa lo diam aja?" Tanya Mario kepada Tania.


"Enggak kok, enggak papa hehe."


Ia melirik kearah spion motornya. "Emang lo gak tau kalau misalnya lo pms? Kok bisa tembus kayak gitu?" Ucapnya yang begitu polos sekali. Padahal tak tau aja kalau misalnya Tania bukan PMS melainkan sebuah permen karet yang menempel di rok panjangnya tapi ia hanya bisa diam saja.


"Lo mau gue temenin ke supermarket untuk beli pembalut?"


"Nggak usah nggak papa kok."


"Ntar tambah banyak darahnya kalau misalkan nggak dikasih pembalut?"


"Nggak papa kok." Sahutnya yang begitu singkat sekali menjawab pertanyaan dari Mario.


"Ya udah deh gue kebutan lebih kencang ya."


1


2


3


"Gue nggak mau gue pegangan di gagang motor lo aja!"


"Tapi gue nggak jamin ya kalau misalkan gue jatoh dan jangan salahin gue karena gue udah kasih tahu lah tadi."


"Iya nggak apa-apa."


"Lo buruan pegangan sama gue nanti lo tiba-tiba jatuh kayak gimana buruan?"


"Nggak mau gue pegangan."


Ternyata Mario usil sekali ia pun langsung saja mengajukan kecepatan itu jauh lebih cepat hingga Tania gelagapan dan ia pun memeluk pinggang Mario dengan begitu orang karena takut ia terjatuh ke tanah. Tania begitu panik sekali ketika melihat ini ia benar-benar seperti melayang di udara. Tapi Mario malah ketawa-ketawa nggak jelas membawa Tania yang ketakutan. "Gimana kurang kenceng lagi atau kayak gimana?"


"Apaan sih jangan cepet-cepet lah."


Ternyata tidak sampai di sana tiba-tiba saja motor Mario mogok dan mungkin karena terlalu cepat atau bahkan terkena paku di jalan raya. "Kayaknya motornya mogok deh lo bisa turunkan atau lo di sini aja?"


"Enggak enggak gue turun aja deh titik sebenarnya kalaupun ia PMS ya pasti duduk tapi karena ini bukan PMS melainkan cuma permen karet jadi tidak masalah untuk turun menunggu motor Mario baru balik kembali."


"Bang kayaknya motor saya kenapa ya."


Bengkel di pinggiran jalan pun akhirnya memeriksa motor dari Mario, ternyata setelah diperiksa motor tersebut bocor mungkin karena terkena paku. Dan Mario pun dipersilahkan untuk duduk oleh tukang tambal ban bersama Tania. Diam-diam Mario memalingkan badannya ke belakang dan melihat di belakang jaket yang dipakai oleh Tania iya heran kenapa tak ada darah sama sekali biasanya darah itu akan merembes ke bagian sana apa mungkin hanya sedikit?


"Ada apa?"


"Lo itu beneran PMS atau bohong sih?"


"Ya beneran lah buktinya aja gue pakai jaketnya si Giska, emang kenapa?"


"Tapi kok nggak tembus nih kak jaketnya biasanya tembus lo baru hari pertama ia menstruasi nya?" Suara itu cukup keras hingga membuat Tania memberikan kode kepada Mario agar tak bersuara keras karena ia malu kalau ada orang yang dengar walaupun wajar sekali jika perempuan seperti itu.


Sembari menunggu Mario pun menawarkan untuk minum sebentar untuk menahan dahaga nya agar tidak terlalu kering. "Bentar ya gue beliin minum dulu di seberang!"


Mario pun menyeberang untuk membelikan minum 2 botol air mineral kepada dirinya dan kepada Tania. "Ternyata baik juga ya Mario gue pikir dia selama ini cowok yang arogan dan cowok yang sombong, ternyata dia juga dan perhatian."


Tak berapa lama kemudian Mario pun membukakan minuman yang masih berlabel itu dan menyuruh Tania untuk minum dengan cepat. "Ya udah minum aja dulu kali aja darahnya makin deres."


"Hahaha gue bercanda kok nggak ada maksud biar jangan terlalu ditekuk terus muka lo itu."


Ternyata ban yang sudah bocor tadi sudah ditambal oleh tukang tambal ban atau bengkel. Mario mengeluarkan uang dan mereka berdua akan bergegas ke rumah Tania untuk pulang ke rumah.


***


Setelah mengantarkan Tania pulang ke rumah ternyata ia baru saja bangun tidur. Dia bergegas bersama motornya untuk sampai ke latihan basket yang tak jauh dari area rumah. Para anggota basket pun sudah bermain karena ia sudah telat sekitar 30 menitan ditambah tadi ban bocor di jalan jadi butuh waktu untuk menambalnya. "Sorry banget gue telat buat datang ke latihan." Sahut Mario kepada teman-teman tim basketnya.


"Iya gak papa kok." Tepuk Kevin di bahu Mario. Mario pun langsung saja berbaur dengan mereka yang berada di lapangan.


Mario dengan fokus sekali bermain basket di lapangan atau di dalam ruangan seperti lapangan. Kebetulan sudah hampir 1 minggu ini ia tidak bermain basket dikarenakan pembatalan dari guru yang membimbing mereka tapi belakangan ini dia harus lebih bisa bermain supaya nanti ketika bertanding dengan sekolah lain akan lebih maksimal lagi hasilnya dan akan lebih giat lagi untuk memasukkan poin-poin ke dalam ring.


Kevin dan Juan pun tak kalah semangatnya seperti Mario mereka saling membantu satu sama lain agar bola fokus ke dalam ring.