
Di mobil.
"Lo gak papa kan? Ya udah yuk kita ke mobil gue aja ya. Kasihan banget sih kalian. Mereka emang jahat banget sama kita."
"Gak papa kok." Ucapnya yang gemetar sekali. Giska mengambil handuk yang ada di belakang menepuk-nepuk baju yang membalut tubuh Tania dan Sekar.
"Sumpah ya gue gak nyangka sama sekali sama sikap Vita kayak gitu. Gue beneran gak suka sama tingkah dia. Gue pikir dia udah berubah ternyata enggak sama sekali." Kesal Sekar yang mengatakan hal ini.
"Pak jangan ceritain ke orang rumah ya cerita ini." Ucap Giska yang memberitahu kepada supirnya agar tak memberi tahu sama sekali tentang percakapan yang ada di dalam mobil.
"Pokoknya gue gak mau kalian di injak-injak lagi sama mereka. Dan gue gak bakalan rela buat maafin mereka yang melakukan hal ini. Sumpah gue sama sekali gak nyangka banget tau gak sih."
"Pokoknya kita harus hati-hati jangan terbuai sama ucapan mereka. Kalau misalkan mereka beneran tulus temenan sama kita mau kita bahagia mau kita lagi sedih dan mau kita lagi terpuruk pun mereka selalu ada buktinya kita yang saling menguatkan satu sama lain pokoknya mulai detik ini kita nggak usah lagi deket-deket sama mereka. Udah cukup hidup kita dibully sama mereka tapi bukan untuk diinjak-injak harga diri kita demi keinginan mereka dan memuaskan pikiran mereka tertawa barang-barang." Dengan emosi sekali Sekar mengatakan hal ini.
"Gue janji kok gue bakalan nggak mau lagi pulang bareng sama Mario. Kalau dia emang baik sama gue kenapa dia enggak nolongin gue tadi pas gue kecebur? Gue pikir dia bisa jadi teman yang baik buat gue ternyata enggak sama sekali."
"Gue juga nggak mau terbaik sama Juan yang sok baik sama gue."
"Kita harus bisa saling menguatkan satu sama lain ya gue sama sekali enggak mau kehilangan kalian dan gue pengen semuanya baik-baik aja."
Mereka pun berpelukan satu sama lain menguatkan satu sama lain agar harga diri mereka tidak diinjak-injak oleh mereka yang selama ini ngebully karena masalah mental itu butuh yang namanya menguatkan satu sama lain agar kedepannya bisa tegar menjadi manusia yang tetap bisa hidup dengan keadaan yang baik pula.
***
Tania langsung saja mengganti pakaiannya dan mengelapnya dengan handuk yang ada di gantungan pintu belakang. Ia tak menyangka sekali kalau misalnya Vita bisa-bisa mendorongnya dengan sengaja. Sama sekali dengan sengaja. Notifikasi dari Mario terlihat dan sebuah pesan di sana.
Mario
"Lo gak papa? Sorry gue tadi gak bantuin naik ke atas, gue gak ada maksud sama sekali."
Tania hanya tersenyum saja melihat kalimat singkat seperti itu. Kenapa bisa tersenyum? Ketika ia tadi nyemplong di air sama sekali tak ada bantuan sedikitpun dari Mario. Malah Mario hanya diam saja di tempat melihat dengan jelas kejadiannya. Bukan kecewa, tapi sedikit kesal. Ia sengaja tak membalasnya dan tak membukanya sama sekali. Hatinya campur aduk sekali ketika kejadian tadi.
Mario merasa panik banget dengan kejadian ini. "Kenapa diam aja sih dari tadi?"
"Enggak kok gue nggak papa."
"Kenapa pas Tania kecebur lo nggak nolongin sama sekali?" Ucap Juan menatap kedua mata Mario. Mario hanya terdiam saja ia sama sekali tak menjawab karena bingung dan ia pun juga diam sih di sana ada kedua orang tua Vita.
"Ya gue----" Mario terdiam kikuk tak bisa menjawab pertanyaan Juan sama sekali.
***
Tania sengaja berangkat lebih awal ke sekolah agar Mario tak menjemputnya dan kebetulan papah juga sudah siap untuk mengantarkan ke sekolah karna papah kerjanya pagi juga. "Yuk pah, mah berangkat dulu ya." Ia melirik ke arah jam dinding yang terpasang di ruang tamu.
Akhirnya ya sampai juga di sekolah walaupun sekolah masih sepi. Berpamitan kepada papa yang mengantarkannya hari ini rasanya senang sekali bisa diantar papah. "Ya udah kalau gitu aku masuk dulu ya assalamu'alaikum."
Tania melihat tidak ada motor Mario sama sekali. Ia berjalan menuju ke arah kelasnya. Menaruh tasnya dan duduk.
POV Mario
Rencananya hari ini Mario ingin meminta maaf kepada Tania tentang tadi malam kejadian di ulang tahun Vita. Ia sengaja berangkat lebih dulu dari rumah untuk menjemput Tania dan ia ingin menikmati indahnya di pagi hari bersama Tania seperti biasanya. "Semoga saja Tania nggak marah sama gue dan ngertiin gue ke posisi kemarin tadi malam."
Mario memakaikan motornya di rumah Tania. Mamanya Tania langsung memberitahukan kalau misalkan Tania sudah berangkat duluan bersama papahnya. "Tania nya sudah berangkat duluan sama papahnya."
"Oh gitu ya tante aku pikir dia nungguin aku tadi."
"Emang dia enggak kabar ke kamu kalau misalkan dia berangkat duluan?" Dengan polosnya Mario menggeleng.
"Ya udah kalau gitu aku berangkat dulu ya tante." Sedikit rasa kecewa di hati Mario. Ia yakin Tania marah padanya dan salah paham.
----
Mario pun langsung saja pergi meninggalkan kelasnya dan ke kelas Tania mendatanginya ada sesuatu yang mengganjal. "Mau kemana lo? Kelas Tania?"
"Iya." Singkatnya.
"Tan ada Mario tuh di depan kelas kita?" Mereka saling tatap satu sama lain. Tania menampakan wajah yang datar tidak senyum dan tidak marah juga.
"Kenapa?"
"Gua pengen ngomong sebentar sama lo? Boleh?"
Tania mengangguk. Mereka ngobrol sebentar di luar. "Ada apa?"
"Kalau berangkat ke sekolah enggak kasih tahu gue sih kalau misalkan lo diantar sama bokap lo?"
"Ya gak papa gue pengen sama bokap gue aja berangkat udah lama banget nggak berangkat sama papah. Kenapa?"
"Tadi gue ke rumah lo buat jemput lewat ternyata lo di antar sama bokap lo. Kamu marah ya sama gue ya karena gue enggak nolongin waktu lo kecebur di ulang tahun Vita?" Tania terdiam sejenak.
"Apaan sih ngomong kayak gitu? Enggak sama sekali. Enggak usah ke gr-an."
Mario terdiam dengan ucapan ketus Tania. Sekar dan Giska memanggil Tania yang sedang di luar mereka menyuruh Tania agar masuk ke dalam. Kesepakatan tadi malam ketika hendak pulang mereka ingin sekali untuk menjauhkan geng mereka dengan geng Mario karena mereka berbeda jauh. "Mending lo ke kelas lo aja deh."
Mario paham suruhan dari Tania. "Ya udah kalau gitu gue ke kelas dulu ya. Gue minta maaf soal kemarin nggak ada maksud apa-apa kok enggak nolongin." Tania mengangguk dan mengiyakan ucapan dari Mario.