Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 61. Tania Sadar Diri



"Jadi gimana lo masih ingat nggak sama taruhan kita kayaknya 3 hari lagi bakalan selesai lo udah berani putusan Tania?"


"Iya gue tahu kok kalau misalkan bentar lagi gue bakalan putusin Tania tapi nggak usah diprediksi gini juga kali?"


"Emang lo gak cinta sama Tania?"


"Ya enggaklah, mana mungkin gue suka sama Tania secara dia biasa aja begitu!" Mario sengaja mengatakan hal ini, karna apa yang di katakan adalah sesuatu hal yang ada di dalam benaknya.


"Dan kenapa gue baru sadar sekarang dan kenapa semuanya bakalan rumit seperti ini oke sekarang gue nggak akan pernah mau lagi deket sama Mario. Bagus benar kalau misalkan Mario deketin gue cuma jadi bahan taruhan dan ternyata gue ngerasain ya ya udah mulai sekarang gue nggak akan pernah mau dekat lagi sama Mario." Ucapnya ya langsung saja silakan akan memberikan komando kepada dirinya sendiri kalau misalkan dia tidak mau lagi di dekat dengan Mario.


***


"Hei pulang bareng yuk." Mario menyapa Tania yang sedang diam saja dari tadi, ia sama sekali tak ada jawaban sama sekali. Mario merasa ada yang aneh di dalam diri Tania seperti bukan Tania pada biasanya.


"Kenapa sih? Kok kayak aneh begitu? Emang ada apa?"


"Ya gak ada apa-apa, santai aja." Tania sudah tau kalau misalnya apa yang di lakukan oleh Mario ini hanya sebuah taruhan biasa. Ya taruhan biasa.


"Mulai sekarang lo nggak usah deket-deket lagi sama gue. Dan kalau misalkan lo pengen ambil sesuatu dari diri gue udah ambil aja tapi lo nggak usah seakan-akan pura-pura baik sama gue!"


"Maksud lo apa kok tiba-tiba ngomong kayak begini sih siapa yang kompor siapkan kompor?" Ucap Mario yang sama sekali tak terima dengan ucapan dari Tania ia sama sekali tak suka kalau misalkan orang yang diajak mu malah marah-marah enggak jelas tanpa harus dijelaskan sama sekali.


"Ya kamu nggak usah banyak ngomong lagi deh aku tahu semuanya kalau misalkan aku cuma jadi bahan taruhan dan aku juga udah tahu dari lama kalau misalkan kamu jadiin aku bahan taruhan jadi nggak usah deh kamu deket-deket aku lagi dan nggak usah kamu bikin semua hal-hal palsu itu seakan-akan nyata!" Mario terdiam sejenak ucapan dari Tania ia sama sekali tak menyangka kalau misalkan Tania akan mengatakan hal ini di hadapannya.


"Dari awal aku sama sekali emang gak percaya sama kamu dikarenakan kamu cuma jadiin aku bahan taruhan doang jadi nggak mungkin kamu suka dan deket sama aku tuh gara-gara kamu beneran suka sama aku beneran? Udah aku udah muak sama semuanya aku sama sekali udah nggak mau lagi drama-drama kayak gini mending kamu udah ini aja semuanya daripada kamu dosa kayak gini terus kamu paham kan maksud aku apa?"


***


Sampailah Mario di rumah Tania ia terus saja mengikuti Tania dari tadi tanpa harus pulang ke rumah. "Biar aku jelasin dari awal kalau misalkan semuanya tuh nggak kayak gini!"


"Udah lah, kamu nggak malu apa nyamperin aku sampai rumah kayak gini mending kamu pulang ke rumah nggak usah ngikutin aku aja kamu banyak kan kerjaan lain daripada ngikutin aku terus mendingan pulang deh ke rumah deh aku sama sekali nggak mau. Mario kamu tuh ganteng dan kamu tuh banyak yang suka jadi kamu jangan ngejar-ngejar aku lagi aku tu hanya perempuan biasa dan wanita cupu doang jadi nggak perlu deh kamu deket-deket aku." Karna tak terima Mario pun langsung saja menahan tangan dari Tania seolah-olah ia ingin membuktikan kalau misalkan apa yang diucapkan oleh Tania itu adalah sesuatu hal yang salah padahal kalau di lubuk dalam hati itu adalah hal yang benar. Salah 1 alasan Mario kenapa masih bisa bertahan adalah ia ingin mendapatkan hadiah yang akan nanti di berikan oleh Kevin. Bukan karena ia jatuh cinta melainkan memang hadiah itu yang ia inginkan dan ia inginkan kalau misalkan iya kalah maka dia memberikan hadiah jika dirinya bukan Kevin maka dari itu biasakan akan merasa Tania itu adalah perempuan yang berharga di dalam dirinya.


"Udah nggak usah deh sok-sokan kamu tuh cinta sama aku aku tahu kalau misalkan kamu tuh deketin aku ya karena bahan taruhan doang udah deh gak usah drama lagi nggak usah pura-pura kamu sakit hati enggak usah kamu seakan-akan kita pacaran emang beneran udah deh aku capek tau nggak sih diginiin terus mending kamu pulang kamu istirahat enggak usah deket-deket aku lagi." Tania langsung saja menutup pintu rumah jadi ia masuk kedalam ia tak perduli kalau misalkan Mario masih di luar. Mario bingung harus apalagi yang dia lakukan kenapa semuanya malah di luar ekspektasi ia yakin sekali kalau misalkan taruhan ini ia menangkan tapi sebelum waktunya malah Tania yang marah-marah enggak jelas dia tidak akan pernah tinggal diam. Mario mengatur kembali pintu rumah dari Tania berusaha untuk meyakinkan Tania kembali dengan meminta maaf. Ia mengirimkan sebuah pesan kepada Tania agar ia mau keluar dari rumah.


Mario


"Aku harap kamu keluar dari rumah aku pengen ngomong sesuatu sama kamu aku tetap akan di rumah kamu di depan rumah kamu sampai kamu keluar dari rumah!"


Tania


"Udah kamu nggak usah lagi deh ke rumah aku dan kamu nggak usah jemput-jemput aku lagi semuanya sudah jelas."


Mario


"Kamu keluar dulu sebentar aku pengen ngomong sama kamu kita belum selesai kenapa semuanya jadi rumit kayak begini sih ayo dong keluar aku pengen ngobrol sama kamu." Sahutnya.


Tak berapa lama Tania pun keluar membukakan pintu untuk Mario. "Apa lagi sih? Udahlah aku tuh capek banget tau nggak sih udah deh kamu mending pulang dari sini ini rumah aku kamu nggak berhak buat di sini!"


"Aku emang nggak berhak buat di sini tapi kita masih ada hubungan kamu kenapa sih bisanya kayak gitu sih sama aku kenapa tiba-tiba malah bikin sesuatu hal yang semuanya seakan rumit?" Karna cerita ini muter-muter terus Tania pun memutuskan untuk masuk ke dalam dan mengunci kembali pintu rumah.