Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 105. Canggung Sekali



Kenapa tiba-tiba Leo malah memilih tempat makan yang sedikit agak mewah dan Tania dipersilahkan untuk duduk di bangku yang sudah ia tarik dari tadi.


"Kamu mau makan apa tinggal dipesan aja nggak usah malu-malu anggap aja ini traktiran saya buat kamu karena kamu bekerja dengan komparatif dan juga sangat baik!" tawar dari Leo seperti itu kepada Tania dan Tania pun melihat menu-menu yang tersedia di sana sambil memilih-milih menu makanan apa saja yang pas buat di lidahnya yang selama ini selalu saja membuatnya bingung untuk memilih menu makanan tersebut.


"Kenapa tiba-tiba natapnya kayak begitu ya dan kenapa tiba-tiba bikin perasaan gue jadi dagdigdug dan bener-bener ngerasain orang ini kayak yang gede banget sama gue?" batin Tania dalam hati mengatakan hal ini langsung dan bahkan malah membuatnya seakan seolah-olah mereka berdua adalah sepasang kulkasnya baru aja jadian dan makan bersama.


"Kenapa sih kayaknya kamu tegang banget ya begitu santai aja kali oh ya kenapa sih pacar kamu itu posesif banget sama kamu apakah kalian itu sudah menjalin hubungan dari lama oh ya kayaknya kamu pernah cerita deh kalau itu pacaran dari SMA 'kan?"


"Ya udahlah enggak usah dibahas hal-hal yang kayak begitu biarin aja yang udah berlalu soalnya saya males banget buat bahas masa lalu mungkin aja kita berdua nggak berjodoh dan mungkin aja kita berdua emang nggak bisa disatukan lagi dan saya rencananya mau melupakan semuanya!" Rasanya bergetar sekali ketika mengatakan hal ini langsung membuat Tania benar-benar bingung apakah hubungan mereka harus dihentikan atau akan berlanjut kembali di waktu yang tidak ia ketahui tapi yang terpenting saat ini adalah ia selalu melakukan yang terbaik untuk hidupnya untuk hari ini dan untuk masa depannya nanti.


Akhirnya makanan pun datang dan tersaji di atas meja. "Wah jadi gak sabaran buat makan makanan ini, ya sudah silahkan di makan gak baik kalau cuma dilihat doang."


"Eh iya Pak." Banyak sekali menu makanan di atas meja, padahal makanan yang tersaji adalah sangat banyak sekali dan padahal mereka hanya berdua saja.


"Aduh gue harus makan yang bagian mana dulu ya? Kok banyak banget sumpah! Ya ampun gimana ini kok banyak banget ya ampun," batinnya dalam hati. Mana mungkin Tania mengambil semuanya lalu memasukkan ke dalam mulut rasanya gak akan mungkin banget.


"Ayo buruan! Ayo buruan dimakan deh. Oh iya saya pengen ngomong sama kamu, kalau diluar kantor kamu gak usah canggung atau merasa kayak gimana ya, soalnya saya gak suka terlalu formal juga kalau ngobrol oke? Saya capek udah kayak begitu!"


***


Setelah makan siang akhirnya mereka balik lagi ke kantor untuk bekerja. "Ya udah kalau gitu saya langsung kerja saja ya Pak?" Tania langsung berpamitan kepada Leo, ia berharap kalau misalnya apa yang dilakukan olehnya tak merasa tersinggung atau apa.


Leo bahagia banget ketika bisa makan bareng tadi. "Kamu kenapa?"


"Ah gak kok, gak kenapa-napa hehe. Ya udah santai aja kali aku gak kenapa-napa hehe. Aku pengen nanya deh kalian berdua sudah jadian ya?"


"Apaan sih, kok malah nanya kayak begitu?"


Tania berharap kalau misalnya Leo jangan sampai menyampaikan perasaan dan ia juga yakin Leo gak akan pernah mungkin akan jatuh cinta kepadanya.


Mana mungkin atasan bakalan suka dengan bawahan sepertinya.


***


"Hei kenapa sih senyum-senyum gak jelas kayak begitu pasti tadi itu makan siangnya bareng sama Tania ya ampun gue sama sekali gak nyangka ternyata lo suka juga sama Tania?" ucap Roni yang benar-benar tersenyum ketika melihat wajah Leo yang benar-benar kecambahkan ia sayang cuman nggak jelas dan nggak sadar kalau misalkan ada orang yang sedang melintas dihadapannya.


Tapi karena sebagai atasan dan juga memiliki gengsi yang sangat besar maka dari itu mereka mengatakan kalau misalkan itu hanya sekedar pikiran Roni biasa padahal benar tebakannya tersebut kalau ia benar-benar kepikiran untuk mungkin bisa menjalin hubungan kepadatan ini apalagi dengan karakter dan juga sifatnya yang sangat baik dan juga anggun sekali.


"Apaan sih, kalau jadi orang tuh jangan sok tahu kalau menurut gue sih gue nggak ada hubungan apa-apa sama!"


"Lah siapa yang bilang kalau misalkan lo itu bahagianya atau senyum-senyum nya gara-gara kan iya gue 'kan cuman nanya doang kenapa langsung tiba-tiba nyebut nama Tania?"


"Apaan sih, jadi orang itu jangan sok tahu suka-suka gue lah ngomong apaan ya udah kalau gitu gue pulang gue dan gue bakalan---6" belum juga masuk ke dalam mobil tiba-tiba saja Tania melintas di antara mereka berdua dengan cepat pulang mereka memanggil Tania dengan cara yang benar-benar tidak disangka-sangka yaitu dengan memanggil nama Tania berbarengan hingga membuat Tania seakan bingung.


"Kenapa?"


"Jadi rencananya Leo itu bakalan ngajakin kamu buat katanya ngedate bareng tapi enggak tahu deh apakah kamu mau atau enggak soalnya dia kayak malu-malu gitu ngomong sama kamu!"


Kedua mata Leo langsung saja membulat merasa tidak terima ketika Roni mengatakan demikian padahal itu adalah sekedar fitnah dan biasa doang tapi dengan lancangnya Roni mengatakan hal itu. Tania benar-benar merasa terkejut sekali ketika mendengar Roni mengatakan itu kepadanya dan juga di hadapannya adalah Leo. "Ah apa benar apa yang dikatakan oleh pak Roni?" Leo hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali ia pun merasa bingung apa yang diucapkan oleh Roni tapi karena sudah keceplosan dan juga terlanjur maka dari itu ia mengiyakan ucapan dari Roni dan berharap tidak membuat Tania salah paham.


"Hem kalau misalkan lu beneran cinta dan juga udah mau taksir sama Tania, ya udah gue bakal ngedukung tapi kalau misalkan lu pura-pura nggak suka tapi padahal suka ya nanti gue deh emang kamu deh yang ngegebet dia!"


"Kok lo ngomongnya kayak begitu banget sih nggak enak banget buat tidur aduh gimana sih lo!"