
"Kamu sudah belum menemukan perempuan yang bakalan kamu nikahi? Mama pengen banget kalau misalkan kamu tuh segera menikah apalagi usia kedua orang tua kamu tuh udah mulai menua pengen ngelihat anaknya bahagia dan pengen ngelihat anaknya itu bisa bareng sama keluarga kecilnya biar kamu nggak ngerasa sedih kalau kamu nggak ada pendamping Leo."
Obrolan malam ini memang benar-benar sangat dalam sekali apalagi membuat Leo merasa sedih karena kedua orang tuanya semakin lama semakin menuntutnya untuk segera menikah dan memiliki seorang pasangan, memang benar apa yang mereka ucapkan kalau misalkan mereka sudah mulai menua dan harus memiliki menantu. Tapi tidak semudah itu mendapatkan seorang pasangan apalagi bisa menerima kekurangan pasangan nya sendiri dalam hal waktu, memiliki prioritas yang sangat besar itu memang sangat sulit sekali apalagi umurnya yang sekarang yang semakin terus bertambah dan semakin tua. "Aku sebenarnya juga pengen memiliki seorang pasangan di dalam hidup aku tapi untuk beberapa waktu ke depan masih banyak sekali yang harus aku pikirkan, udah tau sendiri kan hidup aku tuh dalam percintaan tidak sesukses itu apalagi baru aja putus dan dikhianati oleh pacar aku sendiri? Dan itu sangat sulit sekali untuk dijalani dan bahkan aku masih trauma nggak percaya sama perempuan yang deket sama aku ya walaupun mungkin nggak semua perempuan yang kayak begitu tapi ya aku masih butuh waktu untuk bisa tenang!"
"Ya udah Mama dan Papah kasih kesempatan kamu untuk mencari seorang perempuan bisa menerima kamu apa adanya kita berdua nggak cari yang orang kaya yang sederajat sama kita berdua tapi yang paling penting adalah kamu bisa menemukan seorang perempuan yang bisa menjadi pendamping kamu, ya walaupun mungkin kita berdua menyuruh kamu untuk segera menikah dengan orang yang sederajat dengan kamu tapi karena kamu sepertinya butuh orang yang bener-bener bisa mendampingi kamu apa adanya maka kami siap untuk memilihkan calon buat kamu lagi!"
Kedua matanya benar-benar sangat terbelalak sekali ketika mendengar hal tersebut rasanya ini tidak adil bahkan Leo sudah dihadapkan dengan masalah yang sebenarnya ia hindari.
Ya begitulah obrolan tadi malam yang membuat Leo sampai kepikiran sampai pagi hari ini ketika berada di kantor. Roni sebagai seorang sahabat melambaikan tangan di wajah Leo yang sedang melamun. "Kenapa akhir-akhir ini lho sering banget murung deh ayo dong cerita sama gue sebagai seorang sahabat gue bakalan ngebantuin deh pokoknya!"
"Lagi dan lagi kedua orang tua gue pengen banget gue menikah gue juga bingung siapa perempuan yang bakalan gue nikahin sedangkan gue aja dalam beberapa waktu ke belakang ini nggak deket sama siapapun bahkan tidak menjalin komunikasi dengan perempuan secara pribadi gimana gue mau nikah itu orang gue aja enggak deket sama perempuan itu!"
"Ya udah mending balikan aja deh sama mantan lo itu kayaknya dia bakalan berubah dan dia bakalan mau banget kalau misalkan lo nikahin dengan secepatnya?"
"Sorry, di dalam kamus hidup gue enggak ada yang namanya balikan sama mantan males banget kalau misalkan balik sama mantan. Mending gue jomblo seumur hidup dan gak mau nikah sama siapapun kalau misalkan balikan sama dia dan jodohnya sama dia! Udah jangan bikin gue emosi gue males banget tau enggak sih ya udah kayaknya gue pasrah aja deh sama orang tua gue yang terus saja mendesak gue buat nikah!"
"Pak ini gimana ya cara ngerjain laptopnya soalnya saya udah coba dari tadi malam tapi nggak berhasil juga kayaknya error deh apa salah saya nggak bisa menggunakan?"
"Nah, kayaknya ini aja deh buat dijadikan jodoh lo dan juga bawa aja dia ke rumah gue bakalan yakin pasti diterima di keluarga lo deh!" Tak ada pilihan lain akhirnya Leo pun setuju dengan ucapan Roni menyuruh Tania untuk menyimpan laptopnya lalu mereka akan berangkat sekarang juga ke mall untuk mencari baju yang cocok dikenakan nanti ketika berada di rumahnya.
"Udah semuanya bisa dengan bersama karyawan yang lain ya udah kalau gitu kamu ambil pas kamu kita bakalan jalan ke mall oke?"
"Udah kamu ikutin aja pak Leo maunya kayak gimana tenang aja semuanya akan baik-baik aja kok ayo buruan ambil tas kamu di dalam ruangan!" Roni dengan cepat mengambil laptop yang ada di tangan Tania dan bertugas untuk mengambil tas yang ada di dalam ruangan ini.
Leo dengan cepat membukakan pintu dan mempersilahkan masuk Tania ke dalam mobil dan mereka langsung cus ke mall. "Udah kamu diam aja ikutin saja aja! Saya bakalan bawa kamu ke mall dan kamu harus bantuin saya buat pura-pura jadi tunangan saya dia kedua orang tua saya tuh bener-bener enggak mau lagi untuk bicara pun saya udah punya pacar atau enggak ada lagi menikah, saya bosan banget tau enggak sih!"
Jadi sebelumnya Leo sudah menawarkan diri untuk menjadikan Tania sebagai pacar pura-pura nanya kepada kedua orang tuanya tapi karena waktu itu masih memiliki seorang pacar maka dari itu Tania yang menolak dan sekarang kami tidak bisa menolak dikarenakan tidak ada alasan lagi yang sangat mendasari. "Aduh kenapa jadi gue sih yang dijadikan sasaran? Gue sama sekali enggak mau buat dijadiin pacar pura-pura apalagi dijadikan kenangan pura-pura ya ampun kenapa nasib gue kayak begini banget sih?"
"Udah deh kamu santai aja ya kita langsung pilih-pilih baju buat nanti malam kamu ke rumah saya oke?" Dengan cepat dan sangat terburu-buru sekali Leo pun membukakan pintu dan mereka langsung masuk ke dalam mall dan ketika masuk ke dalam mall mereka langsung tertuju ke salah satu toko baju perempuan.
Ia memilih baju yang super sangat bagus dengan harga yang sangat bombastis banget, menyuruh kami untuk segera mengambil apa saja yang ia mau untuk nanti ia kenakan nanti malam dengan harga yang sangat tidak manusiawi banget karena saking mahalnya.
"Kayaknya kemahalan banget buat barang barangnya nanti saya nggak bisa ngebayar?"
"Udah kamu tinggal ambil aja baju-baju yang kamu pengen saya nanti bakalan yang bayar dan kamu tidak saya untuk buat membayarnya nanti pokoknya apapun yang kamu ambil itu adalah gratis jadi kamu santai aja oke?" Setelah memiliki beberapa stel baju akhirnya Leo pun mengeluarkan kartu kredit untuk membayar.