
Tania menarik napas sejenak untuk masuk ke dalam sekolah karena ia yakin ia menjadi pusat perhatian hari ini bahkan bisa beberapa hari kedepan. Dengan bidang kanan dan kiri yang begitu tegak mengarah ke arah depan. Ada terdengar bisikan-bisikan mereka yang saling membicarakannya karena kemarin dia menolak Mario cowok ganteng nya di sekolah. "Gila cewek cupu kayak dia kok berani banget sih nolak Mario cowok ganteng kayak gitu emang cowok yang dia pengen kayak gimana?"
"Kalau jadi dia langsung nembak gue terima ya itung-itung bisa diajak jalan-jalan secara orang cakep dan tajir pula enggak bersyukur banget jadi orang!" Kesal mereka yang menjadi salah satu saksi Tania dan Mario mereka tidak sesuai dengan ekspektasi karena Tania yang jelas jelas sekali menolak Mario. Seharusnya yang mereka harapkan adalah hanya menerima Mario sebagai pacarnya bukan seakan-akan jual mahal.
Dengan kejadian yang kemarin membuat sekolah atau isi sekolah menjadi gempar dan menjadi highlight di antara mereka dengan Mario yang menembak Tania. Tania merasa malu dan insecure banget dikarenakan ia sama sekali tidak pernah seperti ini menjadi sorotan mereka-mereka apalagi pengagum dari Mario. Mereka pun jadi bahan gosip mereka lama mungkin seminggu kedepan karena langka banget cowok ganteng kaya Mario bisa nembak cewek cupu istilahnya kayak seperti dongeng atau drama-drama yang sering dipertunjukkan di pentas. Sampailah Tania di kelas dan menaruh tasnya tak hanya itu ia juga menjadi pusat perhatian di kelas ada beberapa teman sekelas yang sedang membicarakannya karena mereka tidak terima kalau misalnya cowok ganteng seperti Mario ditolak mentah-mentah dengan cewek cupu seperti Tania harga diri Mario seakan di injak-injak dengan cewek yang tidak sepadan. "Dasar cewek enggak bersyukur banget seharusnya diterima aja ada orang yang suka sama kita akan ada orang yang suka sama kita ya udah diterima yang sok-sok nolak sok kecantikan banget cantik juga nggak!" Tania kalau diam saja tidak tahu apa yang ia rasakan kalau misalkan mereka hanya sekedar menjadikan bahan taruhannya.
Giska udah kebelet banget ia pun berlalu begitu saja ke toilet sendirian. Sesampainya toilet ia langsung saja masuk ke dalam toilet dan buang air kecil. Rasanya tega banget kalo ditahan-tahan bisa-bisa pipis di celana atau di roknya.
"Lo mau kemana sih sebenernya ke kanan ke kiri ngikutin gue terus?" Ucap Juan kepada Giska. Benar, Giska bingung kenapa ia bisa ke kanan dan ke kiri karena orang yang ada di hadapannya sekarang adalah Juan sebenarnya ia sama sekali tak ada untuk maksud caper atau cari perhatian di depan Juan tapi entah tahu kenapa saya itu terjadi begitu saja mengalir apa adanya.
"Dasar aneh kayak gitu banget sih natap gue apa dia naksir sama gue?" Bingung Juan melihat Giska pergi begitu saja masuk ke dalam kelas.
Giska langsung duduk di kelas, ia benar-benar malu ketika tadi berhadapan dengan Juan. Jantungnya berpacu sekali berdegup kencang. "Aduh gimana sih gue deg-degan banget."
"Hei muka lo kok merah itu baru dari mana aja dari tadi di tungguin?"
Giska belum bisa connect untuk menjawab pertanyaan dari Sekar ia pun terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya agar bisa lebih stabil dari biasanya menjadi hal yang biasa.
***
"Kenapa lo ngeliatin gue dari tadi mencari ribut sama gue?" Mario baru sadar kalau misalkan dari tadi Bagus terus saja menatapnya ketika ia berdiri Juan dan Kevin menahannya ini di kelas bukan di luar.
"Lo kenapa sih ih suka banget marah-marah misalkan pengen marah di luar jangan di sekolah aku lagi di kelas, bisa-bisa diskorsing kepala sekolah." Marah Kevin kepada Mario, Mario sudah menggebu sekali ia tidak terima kalau misalkan ada orang yang jauh lebih berani darinya ia seakan-akan tertantang begitu saja.
"Mario." Ternyata ini mereka sedikit apes ada bu guru yang melintas di depan mereka. Melihat sedikit keributan yang terjadi.
"Iya Bu?"
"Ada apa?" Tanyanya membuat Mario hanya bisa cengar-cengir tidak jelas.
"Enggak kamu kita cuma bercanda doang nggak ada kenapa-napa ya nggak guys?" Untungnya mereka bisa diajak untuk bekerja sama satu sama lain dan akhirnya bu guru pun pergi begitu saja mengingatkan agar tidak ada kegaduhan yang terjadi di dalam kelas karena mereka harus menjadi contoh kepada adik-adik kelas mereka yaitu kelas 11 dan kelas 10 bukan malah mencontohkan hal yang tidak baik kepada mereka.
"Huh syukur deh kalau misalkan gak ada apa-apa ya udah kalau gitu ibu permisi!"
Matahari yang awalnya terang dan cerah berubah menjadi gelap lalu suara rintikan hujan terdengar dari genting perlahan dan semakin berat. Terlihat dari jendela air turun dari langit. Hujan pun membasahi bumi dengan begitu cepat dalam hitungan detik saja. Rasanya hawa yang tadi panas berubah menjadi sejuk ketika hujan turun. "Hei kenapa lo ngelamun gitu? Ada yang lo pikirin ya?" Ya benar kan ya kepikiran tentang kejadian kemarin Mario menyatakan cinta di depan orang-orang di sekolah, dia bilang nanti kaget sekali dan sampai sekarang masih kepikiran apakah yang dilakukan Mario itu benar atau tidak. Namun ia juga tidak bisa menceritakan hal ini kepada siapapun, karena ini menyangkut hal pribadi yang tidak bisa sembarangan untuk diceritakan walaupun mereka sudah saling mengenal satu sama lain begitu dekat sekali. Mungkin efek hujan membuatnya sedikit lebih tenang karena mungkin aura dingin dan tidak panas seperti tadi karena matahari begitu terik kalau misalkan berada di tengah-tengah lapangan terasa sekali tepat di ubun-ubun yang sedang berdiri.
Tak hanya tanya saja yang merasakan seakan-akan mereka sudah memiliki kontak batin namun sedikit yang belum erat, Mario merasa apa alasan Tania untuk menolak? Ia tahu kalau misalkan alasan terbesarnya itu adalah masalah taruhan, tapi dia bingung kau dari mana Tania kalau misalkan ada orang yang nggak ngasih tahu? Pasti ada orang yang sengaja kasih tahu ke Tania yang bikin Tania mulai benci dengannya. "Gue bahkan biarin orang hidupnya bakalan susah sama gue kalau misalkan ikut campur masalah gue dengan siapapun!"