Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 109. Mempersiapkan Semuanya



Dengan cepat Roni pun sangat terkejut sekali ketika Leo mengatakan kalau misalkan mereka berdua sudah merencanakan rekayasa ini dan malah membuatnya tercengang begitu saja dengan ungkapan Leo.


"Jadi bener ya yang berdua pura-pura ya ampun kalian berani banget sih ngelakuin hal ini gue sama sekali gak nyangka tahu nggak sih!"


"Ya namanya nekat ya bakalan terobos terus gue mah terobos aja gue pengen membuktikan pada dunia kalau misalkan gue juga mampu memiliki seorang pasangan ya walaupun mungkin dalam waktu sekarang bukan pacar beneran!" Leo mengatakan hal ini dengan sangat tegas sekali ia yakin dan percaya kalau misalkan semuanya bakalan berhasil dan tidak ada orang yang mampu bisa membuat situasi seakan lebih mencekam.


"Tapi gue harap jangan bilang ke siapapun dan ini cuma rahasia kita berdua kalau misalkan gue tahu ada yang tahu itu tandanya lo yang ceritain sama mereka dan lo siap-siap aja buat dipecat dari tempat ini!" Leo sengaja mengancam Roni agar tidak menceritakan hal ini kepada siapapun karena hanya dialah orang yang satu-satunya diberitahu tentang hari ini.


Roni menepuk bahu Leo dengan singkat sambil tersenyum. "Intinya santai aja sama bakalan baik-baik saja dan jangan khawatir gue bakalan jaga rahasia ini dengan baik-baik dan tertutup rapat!"


"Bagus deh kalau misalkan gue bisa diajak buat kerjasama tapi yang paling penting adalah harus bantuin gue gimana caranya buat nyokap gue berhenti buat enggak menjodohkan gue dengan perempuan lain atau balik ke mantan gue malu banget tau nggak sih!" Tapi tak sampai di sini saja membuat Leo benar-benar merasa belum cukup untuk melakukan aksi ini tapi masih banyak yang harus ia lakukan.


***


Mereka benar-benar merasa sangat bingung banget kenapa tiba-tiba Tania malah memilih lelaki lain dan juga malah intinya bukan dengan Mario. "Hah? Lo serius kalau misalkan nggak sama Mario ya ampun sama sekali nggak nyangka deh!"


"Ya mau kayak gimana mungkin udah takdir Tuhan kayak begitu masa gue harus memaksakan suatu kehendak yang gue jalani ya udah gue harus jalani sih?" Mereka sudah semaksimal mungkin untuk memberikan jalan untuk mereka berdua tapi karena ini adalah pilihan dan juga keputusan oleh Tania mereka tidak bisa memaksakan kehendak dan juga suatu situasi.


"Ya udah karena ini adalah pilihan dan juga adalah hal yang paling penting ya udah itu tandanya buat lo aja!"


Tania pun mengangguk dengan sangat tepat sekali. "Baik deh terima kasih banyak ya kalian udah mengerti apa yang gue alami dan do'akan aja yang terbaiknya kayak gimana pokoknya itu aja sih sebenernya pengen ngobrol ini sama kalian agar kalian nggak kaget aja!"


"Iya kita berdua akhirnya nggak kaget lagi kok, pokoknya yang terbaik aja buat kalian berdua ya kalau misalkan emang pilihannya!"


Tania langsung permisi ketika mendengar suara dering telepon dan ketika ia mengangkat dan itu Leo, dengan cepat ia pun langsung berpamitan.


"Gue sama sekali nggak nyangka deh kalau misalkan Tania jodohnya bukan Mario gue pikir mereka bakalan duluan nikah dari pada kita berdua tapi ternyata dia cepat menikah tapi dengan orang lain ya gitulah misteri jodoh gue juga nggak tahu gue bakalan berjodoh sama pasangan gue yang sekarang atau enggak!"


***


Banyak sekali macam-macam motif dan juga warna segala ukuran cincin hari ini dengan cepat Leo pun menyuruh Tania untuk memilih cincin tersebut. "Ya sudah kamu pilih saja mana yang menurut kamu bagus!" Leo menyerahkan kepada Tania, cincin yang akan ia kenakan nanti.


Tania bingung harus memilih yang mana karna saking banyaknya dan saking bagusnya. Ditambah lagi harga yang sangat mahal-mahal karna sesuai dengan kualitas yang dijanjikan oleh mereka.


Pilihannya jatuh kepada satu cincin yang sangat sederhana tapi masih sangat terlihat elegan sekali. "Ya sudah kalau gitu aku pilih ya!"


Cincin tersebut dibungkus dengan sangat rapi dan elegan. Leo mengajak kembali Tania untuk membeli baju atau gaun yang akan dikenakan di saat bertunangan. Ia benar-benar bingung karena seperti tunangan yang sebenarnya. Padahal tidak sama sekali. Ia tetap mengikuti saja.


Lagi dan lagi gaun yang dipilih Tania sungguhlah biasa dan sederhana, karna ia suka dengan baju atau gaun yang simple dan gak ribet.


Leo baru tahu kalau seorang perempuan di zaman sekarang ini masih ada yang sederhana dan biasa saja. Ia pikir kalau di zaman sekarang sudah berbeda dengan dahulu tapi masih ada.


"Pak, saya mau nanya boleh?"


"Iya boleh, soal apa?"


"Jadi kita ini pura-pura doang 'kan? Sampai kapan ya Pak? Saya takutnya semua orang nantinya bakalan kecewa dengan rencana pura-pura ini."


"Hahaha sudah ga usah dipikirin santai aja ya! Tak masalah yang penting keluarga saya tau kalau saya juga bisa memilih pasangan oke?"


"Kamu tenang saja saya yang akan menanggung semuanya! Kamu jangan panik atau khawatir!" Mendengar seperti itu Tania pun diam dan tak mau menanyakan lagi ia hanya sekedar membantu belaka.


"Mulai besok agar kita berdua terbiasa saya yang akan jemput kamu dan saya yang akan mengantar jemput kamu. Dan tujuannya adalah agar kita berdua terbiasa dengan keadaan yang kita bentuk itu agar tak ada canggung lagi!"


***


"Mah," ucap Leo yang sudah mengantarkan Tania pulang ke rumah. Ia merasa memiliki jawaban kalau mama menanyakan hal ini kepadanya.


Dan ternyata benar saja dugaannya tersebut. "Tenang saja Mah, semua bakalan berjalan dengan lancar kok. Jadi tenang saja ya!"


"Oke deh kalau begitu, nah kalau begini 'kan jadi enak mendengarnya. Jadi Mama gak perlu khawatir lagi sama anak Mama kalau gak punya pasangan."


Leo hanya tersenyum. Dan menggerutu dalam hati. "Gak tau aja Mama kalau gue bohong dan pasti bakalan kapok kalau gue nantinya gagal buat batalin tunangan," batinnya dalam hati mengatakan hal ini langsung.


"Ya sudah kalau gitu, kamu nanti ketemuin mamanya dia sama keluarga kita ya biar kita saling mengenal satu sama lain!"


"Iya Mah, semuanya gampang dan gak usah dipikirin baik-baik aja kok!" jawabnya dengan sangat tegas sekali mengatakan hal ini.