Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 6. Tukar Nomor HP



"Akhir-akhir ini jarang banget ya pulang bareng bertiga? Sekarang lagi sibuk pulang bareng sama Mario."


"Iya nih gue kangen banget pulang bareng sama kalian besok lo nggak usah bareng sama Mario ya lo sama gue aja sama Giska juga?"


"Iya gue bakalan pulang sama kalian kok besok. Soalnya gue yakin banget hari ini Mario ngajakin gue pulang bareng."


"Ya udahlah gue duluan dulu ya pulangnya kalian hati-hati jangan sampai kalian kemana-mana habis dari pulang sini ya?"


"Iya ibu bawel. Gue tunggu kabar dari lo sama Mario?"


"Apa sih kalian aneh-aneh aja deh kalau ngomong, gue duluan ya!"


Ternyata benar Mario menunggu Tania keluar dari kelasnya. Sumpah ini rese banget tapi tidak ada jalan lain lagi selain jalan yang ada di depan. "Kita pulang bareng yuk tapi sebelum itu dia minta satu permintaan sama lo boleh kan?"


"Lo pakai helm nya dulu deh baru gue ucap apa permintaan gue sama lo!" Tania mengikuti saja suruhan dari Mario.


"Gue boleh minta nomor lo gak?" Ucap Mario kepada Tania, Tania hanya mematung dengan pertanyaan tersebut. Ketiban apa bisa dapetin sesuatu yang tidak ia inginkan tapi datangnya sendiri.


"Tapi kalau misalkan nggak dikasih juga nggak masalah kok gue cuma pengen minta aja supaya komunikasinya lancar." Senyumnya dengan santai. Ia pun menyalakan motornya untuk pulang ke rumah namun sebelum itu Tania menahannya dan mengatakan sesuatu.


"Boleh kok." Dengan cepat Mario mematikan motornya dan memberikan ponselnya untuk Tania mencatat nomor hp-nya di ponsel Mario.


"Gue save nomor lo. Ya udah kalau gitu gue pulang dulu." Tania hanya tersenyum biasa dan mengiyakan Mario pulang ke rumah. Ia pun masuk ke dalam rumah namun ternyata mama melihat dari dalam sedang mengintip pertanyaan pertama yang keluar dari mulut mama adalah.


"Dia pacar kamu ya? Jadi selama ini kalian tuh pacaran?" Wajar sekali ketika anak perempuannya barang terus sama anak laki-laki seusianya, Tania hanya bisa tersenyum dan mencium puncak kepala mama ia berkata kalau misalkan Mario itu bukan siapa-siapa melainkan hanya teman biasa di sekolah. Mama tak percaya sampai di sana saja mama langsung menanyakan dan menyuruh tani untuk duduk di sofa terlebih dahulu bertanya lebih intens lagi.


"Enggak kok mah cuma teman doang biasa."


----


"Kenapa sih dia nggak kapok-kapok aja gue kan udah kasih tahu kalau misalkan dia nggak boleh deket-deket sama Mario masih aja pulang bareng aja ya gue bakal ngelakuin sesuatu hal yang bisa bikin dia kapok."


"Udah sabar aja ntar kita lakuin sesuatu yang lebih India kapok dan ngejauh dari Mario. Ya udah kita pulang aja kita kan mau shopping habis ini." Ucap Tami sahabat Vita yang mencoba untuk mencari rencana lain di waktu lain pula.


Ponsel Vita tiba-tiba saja berdering. "Iya hallo? Ini siapa sih ganggu gue segala?"


"Siapa?" Bisik Tami yang melihat ekspresi kita mengangkat telepon dari seseorang yang tidak ia kenal. Vita hanya bisa menekan bahunya seolah-olah ia tidak tahu siapa yang menelpon ini.


Doni


"Masa lupa sih sama pacar lo sendiri?"


Mendengar hal itu kita langsung saja terkejut. "Ngapain masih hubungin gue. Setelah lo bikin semuanya hancur dan bikin gue putus sama Mario udah puas lo bikin gue hancur kayak gini? Dan lo sama sekali nggak malu buat nelpon gue?"


Doni


"Jangan marah-marah dong cantik!"


Tanpa pikir panjang Vita pun langsung saja mematikan ponselnya dan memblokir nomor tersebut agar tidak bisa menelpon lagi atau mengirimkan sebuah pesan. "Dapat dari mana sih nomor gue bukannya nomor gue udah diganti kok dia bisa-bisa tahu sih?"


"Ya mungkin ada kasih nomor lo kali. Lo ngerasa nggak kasih nomor lo ke seseorang?"


"Gue juga lupa kasih nomor gue ke siapa aja!"


"Ya udah temenin gue makan di depan sekolah yuk gue laper banget nih bikin emosi aja tuh orang!"


"Bang pesan baksonya dong 2 mangkok."


"Gue sih ngerasa nya gitu juga sih!"


"Terus apa yang bakalan lo lakuin nanti kedepannya?"


"Ya gue pengen cari sesuatu hal yang bikin Mario mati kartunya. Gimana caranya lo bantuin gue dong mikir jangan gue terus ya mikir lo kan cukup pintar kan?"


"Mana gue tahu gimana caranya? Kalau lo mau tahu informasi mending lo tanya Kevin sama Juan dia bakalan tahu dan kasih jawabannya."


"Ya kali gue tanya sama mereka yang mereka nggak bakalan jawab jujur lah kan gue bukan bosnya?"


Bakso pun datang dan ditaruh di atas meja perut mereka terasa keroncongan dan siap untuk menyantap bakso yang sudah datang tersebut. Mereka menambahkan saus tomat dan sambal.


"Udah nanti besok kita pikirin lagi supaya dia ngejauh dari Mario. Laper banget nih mau makan."


***


Mario baru saja teringat kalau misalkan ia menyimpan nomor ponsel Tania yang sempat dia minta waktu itu ketika pulang sekolah. Namun dia bingung untuk memulai percakapan. "Apa gue mulai aja ya percakapannya biar gue bisa deket dan bikin Tania jatuh cinta sama gue." Mario pun harap-harap cemas untuk memulai chatting-an bersama Tania tapi keputusan akhirnya adalah ia langsung saja menghubungi dan memulai percakapan pertama.


Sebuah pesan kosong terkirim.


Tania


"Siapa ini?"


"Gue Mario. Kok lo bisa tau nomor gue?"


Tania


"Sebuah pesan kosong terkirim."


Mario pun langsung saja mengecek ternyata benar ia sudah mengirimkan pesan kosong kepada Tania. "Sorry ya gue tadi itu tiba-tiba ngirim pesan kosong kepencet aja gitu. Ngomong-ngomong sekarang lagi apa? Maaf nih gue ganggu?"


Tania


"Lagi ngerjain PR matematika."


"Oh maaf banget ya kalo misalkan gue ganggu."


Tania


"Nggak papa kau udah selesai juga ngerjainnya."


"Kapan-kapan kalau misalkan tugas bareng lo langsung mau ya?" Pertanyaan yang kesekian kalinya yang dilontarkan Mario kepada Tania mungkin Tania sudah hafal sekali ucapkan ini karena sudah sering sekali.


Tania


"Iya." Tak ada obrolan lagi di antara mereka berdua.


"Kenapa obrolan gue jadi kaku begini ya? Bukannya gue luas banget kalau ngobrol sama orang?"


----


"Ternyata Mario emang bener-bener serius nih buat ngedeketin gue? Tapi apa benar sih cewek cupu kayak gue dideketin sama cowok ganteng kayak dia?"


Tania bercermin di depan cermin dan melihat dirinya sendiri kalau misalkan dirinya tidak cantik dan tidak menarik seperti mantannya Mario yaitu Vita.