Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 78. Tania Galau



"Kalau misalnya Mario beneran pindah itu tandanya udah gak ada lagi di sekolah ini?" batinnya dalam hati. Ia akan merasa kehilangan yang sangat mendalam apalagi yang selama ini godainnya cuma Mario.


"Kenapa perasaan gue jadi sedih begini ya? Kenapa jadi kayak gini sih apa yang gue rasain?"


"Lo kenapa sih beberapa hari ini tuh kayak galau banget? Ayo dong cerita sama kita kali aja kita bisa ngebantu apa lo ada masalah di rumah?" Sebagai seorang sahabat mereka selalu perduli apa saja yang terjadi kepada sahabatnya sendiri.


"Gue nggak ada masalah kok di rumah tapi emang bener ya kalau misalkan Mario bentar lagi bakalan pindah dari sekolah ini? Kalau bener kenapa tiba-tiba perasaan gue enggak mau kehilangan gitu sama dia. Gue rasanya nggak tega aja gitu sama diri gue?" Tak yang kalau misalkan Tania seolah-olah mengatakan hal ini kepada dirinya sendiri dan kepada kedua sahabatnya yang malah menggodanya ternyata secara dalam alam bawah sadar ia mengatakan hal ini. Membuat mereka malah saling pandang satu sama lain dan sama sekali nggak menyangka kalau misalkan Tania bisa ekstrem ini dalam berbicara.


"Jadi kalau udah mulai suka nih sama Mario udah nggak malu lagi ya ngomong kayak begini?"


"Hah? Oh enggak kok gue cuma nanya doang apaan sih----" Ia merasa gugup banget untuk mengatakan hal ini.


"Udah ngomong aja kalau misalkan lo beneran cinta sama Mario. Gue dan Sekar bakalan bantuin lo kok jadi lo jangan sok-sokan kayak begini ntar kalau misalkan diambil beneran sama vita gimana?" Tania terdiam dengan ucapan tersebut, tapi ia selama ini udah gengsi udah males banget bahkan bisa ke makan ucapannya sendiri. Tiba-tiba saja Mario melintas di depannya mereka bertiga langsung terdiam kikuk, tak mampu untuk mengatakan hal apapun biar Tania yang mengatakan hal ini secara langsung tidak perlu harus melalui perantara.


***


Karna tidak mau menyesal Tania pun mendekat ke arah Mario yang sedang mengobrol kepada Kevin dan Juan, menghentikan obrolan mereka berdua. Karna mereka berdua paham dengan kode Mario untuk menjauh mereka pun menjauh dan meninggalkan Mario dan Tania berdua saja.


"Gue boleh ngomong nggak sama lo?" ucap Tania yang tampak polos, ia menatap kedua mata Mario. Ia awalnya tampak ragu dengan hal ini takut diketawain oleh Mario.


"Mau ngomongin tentang apa buruan sekarang? Ya ampun gue deg-degan banget deh,"


"Gue nggak mau kalau misalkan lo pindah dari sekolah ini, apa lo nggak sayang kalau misalkan tetap sekolah di sini kan cuma bentar lagi kita bakalan lulus."


Mario mendekat ke wajah 5 cm saja dari wajah Tania. "Kenapa lo takut kehilangan gue ya atau lo takut gue jatuh cinta sama perempuan lain? Ya ampun kenapa sih lo gengsi banget jadi cewek seharusnya nggak usah gengsi kali gue juga udah tahu kalau misalkan lo udah cinta sama gue?" Dengan rasa percaya dirinya semakin mendekat kepada Tania, Tania memundurkan langkahnya ke belakang karena ia merasa deg-degan banget sedekat ini dengan Mario. Aroma parfum yang tercium begitu sangat menyengat.


"Hei lo kenapa sih cari ribut mulu sama Tania? Udah bohong masih aja cari kesalahan orang lain seharusnya lo itu sadar diri enggak usah kayak begini. Ini malah bikin gue minus tau nggak sih ngeliat sikap lo kayak begitu, kenapa lo pura-pura sakit apa sih sebenarnya mau loh?" Mario yang menggantikan posisi Tania dan berhadapan langsung kepada Vita untuk membela orang yang dia cintai karena menurutnya ini sudah keterlaluan banget jadi udah nggak wajar marah-marah enggak jelas.


"Em, sebenarnya lo sadar nggak sih dia ini bukan yang terbaik buat lo?''


''Kenapa kau berani banget ngomong kayak begini sama gue emang yang ngatur hidup gue itu lo? Perasaan nyokap gue nggak pernah ngomong-ngomong begini sama gue? Intinya gue sama sekali nggak suka sama tingkah lo dan sampai kapanpun gue nggak akan pernah balikan sama lo dengar dan catat baik-baik!" sahutnya yang menarik dan ia menyuruh Tania untuk duduk di bangku motor dan meninggalkan Vita sendirian yang merasa geram dan masih emosian.


"Maafin gue ya tadi marah-marah di depan lo soalnya dia bikin emosi banget tau nggak sih."


"Iya nggak papa kok mungkin aja dia emosi dan cemburu ngelihat gue sama lo, gue tahu kalau misalkan apa yang dia bilang itu emang ada benernya juga tapi kalau boleh jujur gue sama sekali gak pernah melet orang kok."


"Udah tenang aja gue akan selalu jagain lo sampai kapanpun gue nggak rela kalau misalkan ada orang yang bikin semuanya bakalan runyam, gue pengen jujur sih sebenernya sama lo. Tapi gue harap lo jangan marah ya sama apa yang diucapkan?"


suaranya berubah menjadi lembut.


"Sebenarnya gue itu nggak ada niatan buat pindah gue cuma ngetes lo doang apakah lo ngerasa kehilangan sama gue atau enggak eh ternyata lo ngerasa kehilangan, ternyata dugaan gue benar kalau udah mulai jatuh cinta sama gue!"


"Jadi? Lo bohongin gue? Ish kesel banget sih gue tega banget sih lo bohongin gue sama aja kayak Vita deh perasaan? Ish turunin gue udah di sini gue males banget sama orang yang suka bohong!" decak yang merasa tidak terima kalau misalkan dibohongin seperti ini oleh Mario. Ia diketahui oleh Mario karena ia sempat khawatir dan juga diketawain sama kedua sahabatnya. Ah bikin kesel banget yang bikin rumit.


"Hahaha maaf banget deh kalau misalkan gue bohong, gue sama ini nggak bohong kok gue cuma pengen ngetes doang apa kalau beneran suka sama gue dan cinta sama gue kalo misalkan gue nggak ada eh ternyata beneran gue senang banget deh makanya jadi orang tuh jangan gengsi!"


Mereka berdua pun tertawa bersama-sama.