Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 66. Kemauan Yang Mau



Orang yang selama ini dekati ternyata udah berbeda duluan. Perasaannya sudah tak lagi sama seperti dahulu rasanya seperti hambar. "Lalu apa yang harus gue lakuin biar semuanya baik-baik aja ya? Kenapa gue jadi begini sih? Apa yang gue rasain? Dan bagaimana gue bisa bertahan dalam hal ini?"


Karen pun mengejutkan Mario yang sedang melamun. "Kakak kenapa sih kok kaya kepikiran banget cerita dong sama aku?"


"Gak ada kok santai aja cuma perasaan kamu doang kok kayak gitu." Ungkapnya yang tak mau berbagi cerita kepada Karen. Sebagai kakak seharusnya mencontohkan yang baik bukan malah menambah beban adiknya masih SMP.


"Oh tapi aku tahu kok karena aku seorang perempuan jadi aku tahu perasaan seorang laki-laki kalau lagi galau itu kayak gimana soalnya aku banyak punya temen cowok di sekolah kalau misalkan lagi happy itu kelihatan banget tapi kalau misalkan kelihatan galau itu juga kelihatan banget mereka tipenya kan logis dan logika jadi aku tahu kalau lagi sedih atau kayak gimana tuh kelihatan." Jelasnya cerita yang memanjangkan apa yang dia ketahui selama ini.


"Oh gitu ya kakak kok nggak percaya sama sekali sih sama apa yang kamu omongin kali ini. Tapi emang bener sih kakak banyak masalah dan kakak ngerasa kalau misalkan ada hal yang mengganjal sampai saat ini bikin kakak tuh kepikiran kira-kira kamu mau enggak ngebantu." Karen pun akhirnya tersenyum ternyata apa yang dia ucapkan panjang lebar tadi ternyata membuahkan hasil ternyata Mario ada masalah dan akhirnya mengakuinya. Ia pun menyuruh Maria untuk menarik nafas sejenak dan memulai untuk bercerita apa sebenarnya kronologinya dan apa yang harus saya ceritakan agar bisa saya bantu sebagai seorang perempuan jadi dua pola pikir yang berbeda yang bisa dipecahkan dan diselesaikan sebuah masalah tersebut.


"Ya tentang yang kemarin taruhan itu sampai sekarang kakak masih kepikiran dan sampai sekarang kakak tuh bingung dengan perasaan kakak yang aneh kecampur aduk itu loh terus apa yang kakak harus lakukan?" Oh ternyata tentang itu Karen pun menghela nafasnya sejenak ia malas sekali untuk membahas cewek yang tidak ia sukai yaitu Tania.


"Kenapa sih kak masih mikirin dia aja?" Nada suaranya mulai berubah begitupun dengan aura wajahnya yang juga berubah rasa tidak suka kepada Tania pun memang terlihat.


"Makanya kakak males buat cerita ini sama kamu karena kamu nggak akan pernah kasih respon kamu kan nggak suka sama dia tapi kakak ngerasain kalau misalkan dia tuh beda yang bikin kakak tuh kalau kayak gini. Makanya kakak tuh cerita sama kamu supaya dapatin solusi kenapa dia bisa kayak gitu bikin kakak kayak gini."


"Tapi dia dekat sama yang lain?"


"Hah? Kok malah nanya kayak gitu sih?" Mario bingung disodorkan pertanyaan yang aneh dan membingungkan untuk dijawab.


"Ya aku nanya beneran kira-kira dia lagi deket sama yang lain nggak atau lagi gimana?"


Mario meringis ringan lalu mengatakan ia sedang dekat dengan bagus cowok yang peringkat 1 yang ada di kelas. Ia mengatakan dengan penuh emosi kalau misalkan Tania sedang dipengaruhi dengan cowok tersebut. Dan Karen bilang kalau bisa aja Tania nyaman dengan cowok yang bernama Bagus itu. Mario mengatakan kalau misalkan Bagus itu enggak baik dan cupu banget kalau dekat dengan Tania ya walaupun Tania juga cupu. Karen hanya bisa menggelengkan kepala dengan pola pikir kakaknya yang sudah berubah berbeda dengan yang dulu semasa pacaran dengan Vita. Mario juga tidak mau di posisi ini apa yang harus dilakukan agar bisa kembali seperti semula.


Karen pun menentang Mario untuk ke rumah Tania ia ingin melihat kalau misalkan apakah Mario atau kakaknya ini juga berubah atau seperti yang dulu juga. Mungkin awalnya Mario menolak ajakan dari Karen karena nyalinya sudah merendah tidak seperti dulu. Tapi tantangan karena ternyata membuatnya semakin terpacu untuk melakukan apa yang ingin ia dapatkan. "Ya udah kalau gitu kita ke sana biar kamu lihat gimana ekspresi kakak kalau ketemu sama Tania dan kamu bisa nilai sendiri nantinya tapi kakak sebenarnya nggak yakin sih apakah berhasil atau enggak."


***


Ia memberanikan diri untuk mengatur rumah Tania yang tertutup rapat Karen hanya berdiri di sebelahnya. Tak berapa lama Tania pun keluar dari rumah membukakan pintu. Ia terkejut sekali dengan kehadiran dari Mario dan ternyata ada adiknya juga di samping. Mereka sama-sama canggung dan merasa aneh dengan suara deheman dari Karen membuat mereka semakin canggung dan hanya bisa saling terkait satu sama lain. "Ya udah kalau gitu silakan duduk."


Karen menyenggol Mario yang ada di sampingnya yang hanya diam saja. "Kok bisa ada di sini sih ada keperluan apa ya?"


"Jadi kita ke sini tuh pengen ya silaturahmi aja. Gue ke sini cuma mau bilang sama lo tapi terserah mau ilfeel atau enggak ya terserah aja sih tapi gue pengen jujur aja supaya perasaan gue plong dan nggak terlalu berkelanjutan mikirnya kesana kemari."


"Jadi entah kenapa setelah gue kenal sama lo perasaan gue tuh kayak beda gitu selama ngejalanin sama lo, lo tau sendiri kan gue udah berulang kali ngomong ini sama lo tapi semenjak lo tahu kalau misalkan gue cuma jadiin lewat bahan taruhan lo kayak nggak percaya lagi sama gue tapi ini gue beneran serius kok kalau misalkan ada rasanya beda gue. Menurut gue lo jadi perubahan baik buat gue yang gue dapetin dari cewek-cewek lain atau orang-orang yang deket sama gue."


Tania tersenyum. "Trus kalau lu ngerasain perubahan yang beda dalam diri lo emang ada urusannya sama gue hidup lo jadi lo ke sini?"


"Iya, ada banget urusannya sama lo makanya gue ke sini."


Karen hanya melihat mereka berdua saling mengobrol mereka berdua pun ternyata memiliki titik mata yang berbeda. Dan ia merasakan hal itu apalagi kakaknya yaitu Mario. "Jadi gimana lo mau kan maafin gue dan gue bakalan berubah nggak seperti dulu lagi?"


"Cukup sulit untuk mengembalikan perasaan orang lain dan gak semudah itu. Tapi terima kasih banyak ya udah ngomong gini sama gue. Gue yakin lo berubah pastikan diri lo sendiri bukan karena orang lain."


"Tapi kumohon jangan menghindar ya kalau misalkan gue deketinlah dan gue mohon sama lo jangan deket-deket lagi ya sama Bagus?" Pertanyaan macam apa ini?


"Aduh ini nggak ada urusannya sama dia gue cuma pengen berteman sama siapapun dan gue pengen berbaik hati tidak berpikir hal yang gimana-gimana. Lo kalau misalnya gue temenan sama dia?"


Ia pun mengangguk.