Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 19. Isi Hati Tania



"Gue boleh nanya sesuatu nggak sama lo? Kira-kira kalau misalkan hari ini gue ngajakin lo buat jalan lo mau nggak?"


"Jalan ke mana? Kok tiba-tiba ngajakin jalan?"


"Ya gue ngajakin lo jalan bukan ada maksud apa-apa juga pengen refreshing aja masa kita belajar terus sih di sekolah dan pulang ke rumah langsung nggak ada jalannya sama sekali?"


Tania hanya diam saja ucapan dari Mario tapi cowok yang sedang membonceng itu menanyakannya kembali apakah ia mau diajak buat jalan hari ini. "Nanti gue kabarin ya kalau misalkan gue mau jalan sama lo." Ucapnya seperti itu yang menggantung membuat Mario seakan-akan tertawa.


"Asal lo tau aja ya gue ini di kelas tuh banyak yang ngantri lo tau sendiri kan gue adalah cowok populer di sekolah nah seharusnya lo tuh bersyukur kalau misalkan gue ngajakin lo buat jalan dan gue waktu itu minta nomor lo langsung kan sementara waktu di sekolah temen-temen cewek gue minta nomor HP gue aja enggak gue kasih dan lo itu adalah orang yang paling beruntung yang langsung gue kasih tanpa lo minta." Memang benar kenyataannya kalau misalkan Mario adalah cowok yang selalu dimintai nomor HP terbanyak dari pada teman-teman yang lain dan Kevin dan Juan kecipratan hal itu juga yang mereka rasain semenjak berteman dengan Mario.


"Gue tanya sekali lagi lo mau nggak jalan sama gue?"


Tania


"Ya udah, jemput aja."


***


Tania bingung sekali baju mana yang harus ia kenakan dia lebih ingin baju yang ia kenakan adalah baju yang sangat simple yang tak perlu banyak ornamen dimana-mana. Setelah memilih ia langsung saja memakainya dan memakai riasan wajah yang ala kadarnya. Ia pun melihat dan mendengar suara motor dari luar yang sangat dekat sekali dari kamar karena hanya bersebelahan saja langsung menuju keluar. Ia mengintip ternyata itu benar Mario. Ia mengambil tas kecilnya untuk ia bawa nanti ke taman seperti perjanjian mereka tadi.


Ketika ia melihat penampilan Mario yang berbeda jauh dengannya Mario memakai baju yang lebih modis bahkan kekinian banget kayak cowok-cowok ganteng pada umumnya yang ia temuin Di tempat-tempat nongkrong yang sering didatangi cowok-cowok ganteng. Maria terkejut sekali ketika melihat penampilan Tania yang sangat begitu sederhana padahal ini adalah jalan pertama kali mereka di luar dari jalur sekolah dan Tania pun merasakan kalau misalkan Mario merasa dia aneh. "Ya udah yuk kita jalan." Mario berpamitan kepada mamanya Tania dan mamanya Tania mengizinkan mereka untuk jalan hari ini.


"Hari ini gue bakalan ngajakin lo ke suatu tempat yang bikin happy." Tania mengangguk ucapan dari Mario.


***


Sampailah mereka di sebuah taman yang sangat sejuk sekali. Tania turun dan melepaskan helm dan melihat keindahan taman yang begitu sangat indah. Kerut wajah tak dapat dipungkiri melihat keindahan alam semesta.


Tania memandang ke arah depan, anak kecil yang bermain-main di taman dengan berlari-lari. "Indah banget ya pemandangannya. Mereka lucu banget yang ada beban sama sekali mungkin kita dulu kayak gitu kali ya." Senyumnya dengan tipis.


"Kok tiba-tiba bilang hal ini sih?"


"Kenapa?" Tania langsung menatap kedua mata Mario. Kenapa malah tanya kenapa.


"Enggak maksud gue kenapa lo kangen sama masa kecil lo?"


"Iya gue kangen sama masa kecil soalnya waktu kecil nggak ada beban sama sekali dan sekarang beban-beban itu mulai ada bahkan penampilan lah yang lebih dominan dan mereka tidak pernah menghargai penampilan orang seperti apa bahkan penampilan gue seperti ini selalu dibully sama yang lain. Kadang gue suka sedih kenapa mereka kayak gitu mereka nggak sadar apa kalau misalkan manusia tuh sama-sama punya hati perasaan tapi kenapa mereka nggak pernah saling menghargai padahal gue nggak ada maksud apa-apa bahkan gue aja nggak pernah mengusik mereka? Dulu pernah kayak gitu kan saya mau gue atau sekarang masih?" Tania menatap tajam kedua mata Mario.


"Kenapa lo natap gue kayak gitu?"


"Enggak kok gak papa." Ia menunduk ke bawah seakan-akan tak mau membahas lagi karena orang yang di sebelahnya pun juga seperti itu.


"Kamu masih marah sama gue atau lo masih dendam sama gue? Sudah berubah kali makanya gue mau temenan sama lo!"


"Tulus dari hati nggak perubahan itu?" Pertanyaan yang sangat sederhana tetapi sangat tajam untuk diterima oleh Mario. Sempat beberapa detik ia terdiam sejenak lalu ia berdiri melangkahkan kaki ke depan sedikit. Dia menyilangkan kedua tangannya di atas dada.


Benar! Sampai detik ini dia tak ada perasaan sedikitpun sama Tania bahkan sampai sekarang pun dia juga masih benci dengan Tania dan belum bisa berdamai dengan keadaan kalau misalkan manusia tuh sama aja diciptakan sama-sama harus saling menghargai satu sama lain namun egonya begitu besar sekali hingga sampai ia tidak bisa memikirkan antara logika dan perasaan. Mario pun mengambil bunga cantik yang di depannya lalu memberikan kepada Tania.


"Cobalah cium bunga itu?" Mario menyuruh tani untuk mencium cepat bunga yang ia petik tadi dan Tania pun mengikuti suruhan dari Mario. Setelah mencium aroma tersebut ia pun menatap kedua mata Mario dia bingung apa yang dimaksud Mario.


"Kelihatannya dia tegar, kelihatannya dia tak akan pernah layu namun tanpa kita sadari dia juga punya memiliki hal yang paling menyedihkan. Seburuk-buruknya orang bakalan kembali menjadi orang yang lebih baik lagi sama halnya kayak mau marah ketika dia berusaha untuk tegar dia juga pernah berusaha untuk tak bisa membendung kepedihannya tapi ketika semuanya sudah terjadi dia akan kembali tumbuh menjadi sosok yang baru."


"Manusia dan tumbuhan itu beda nggak bisa disamaratakan mungkin maksudnya sama dan mungkin tujuannya sama bisa mendengarkan satu sama lain. Namun tumbuhan akan terus berkembang karena dia tidak memiliki perasaan dan pikiran namun manusia memiliki pikiran dan perasaan manusia bisa berpikir apa yang dilakukan manusia lain kepadanya dan manusia punya perasaan campur aduk ketika ucapan-ucapan mereka yang menyakitinya. Mungkin maksudnya benar kenapa apa manusia harus setegar bunga mawar, tapi manusia dan tumbuhan memang berbeda mereka diciptakan memiliki hal-hal yang gak bisa disamakan. Manusia bisa rontok bahkan hatinya sangat rapuh yang tak akan pernah mungkin kembali lagi seperti semula karena semua di pengaruhi oleh otaknya sendiri, tapi tumbuhan dia selalu saja berkembang selalu saja tumbuh entah itu ada orang yang menyakitinya orang itu ada yang merawatnya mereka tetap saja seperti itu karena memang hakikatnya dan hakikatnya seperti itu. Makanya gue selalu bertahan dengan diri gue walaupun banyak orang yang nggak suka dengan penampilan gue yang norak katanya tapi gue bersyukur diciptakan oleh Tuhan dengan keadaan sempurna. Melihat anak kecil itu gue semakin sadar bahwa hidup tidak selamanya harus ceria terus ada saatnya kita harus benar-benar menerima ketidaksukaan orang lain."


Mario terdiam dengan ucapan Tania yang begitu panjang sekali. Ternyata ajakan jalan hari ini begitu dalam. Ia tak bisa berkata apa-apa mungkin terbersit di hatinya merasa bersalah dengan taruhan tersebut ternyata Tania memendam rasa sakit yang begitu dalam di bully dengan teman-teman sekolahnya. "Lo mu mau minum? Gue ngajak lo ke sini buat seneng bukan bikin lo sedih. Ternyata dalam juga ya ucapkan loh!" Mario pun permisi membelikan minum kepada Tania.


-------


Masih bingung kelanjutannya seperti apa? Jangan lupa pantengin terus di bab selanjutnya!