Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 82. Memohon



Mario sampai benar-benar kepikiran kalau misalkan mereka berdua tidak bisa disatukan maka ia juga akan tidak mau untuk menjadi orang yang sukses hanya sekedar sendirian, tapi Mario pengen sukses bareng-bareng sama pasangan yang sudah menemaninya di waktu SMA.


Waktu berjalan begitu cepat. "Kenapa gue malah kepikiran kalau misalkan dia itu diambil sama yang lain? Gue bener-bener sama sekali nggak mau kalau misalkan gue kehilangan dia, dan gue juga nggak mau kalau misalkan ada orang yang genit-genit sama dia." Pikiran Mario sudah merebak ke sana kemari bahkan membuatnya sampai hampir tidak bisa tidur semalaman ini karena kepikiran kalau misalkan dia nggak bisa satu universitas dengan Tania maka sampai kapanpun ia tidak bisa mema'afkan dirinya sendiri, tapi kalau misalkan dipikir-pikir cinta itu emang bener-bener rumit dan merasa aneh di saat kita sudah ngerasa dia itu adalah orang yang paling tepat dan orang yang paling bikin kita nyaman maka Sampai kapanpun kita nggak akan pernah berpaling walaupun mungkin di luaran sana banyak yang jauh lebih cantik atau lebih tampan.


Dengan cepat ia pun mengambil ponselnya lalu menghubunginya. Ini adalah salah satu cara jitu untuk mendapatkan sesuatu yang ada di dalam pikirannya yaitu bisa bercengkrama atau berkomunikasi kepada Tania. "Kamu kenapa sih aku terus yang video call dan chatting kamu sekali-kali kamu kek kelihatan banget deh kalau misalkan aku terlalu ngarep sama kamu?"


"Kamu kenapa sih malah posesif dan merasa aneh banget dalam beberapa waktu belakangan, gimana kamu udah nemuin belum universitas yang nanti bakalan kamu daftar? Pokoknya apapun yang terbaik buat kamu aku selalu dukung dibelakang dan juga aku akan nemenin kamu sibuk mungkin dan aku juga bakalan yakin banget kalau misalkan kamu ke terima di sana."


Seketika wajah Mario langsung memanyunkan bibirnya ia merasa tidak terima dengan ucapan tersebut dari Tania, yang ia harapkan adalah agar bisa satu universitas dan satu kampus yang sama bahkan bisa sama-sama satu kelas nantinya di sana. Eh ternyata dirinya jauh lebih bucin dari pada Tania yang marah biasa aja dan mendukungnya dari belakang walaupun mereka tidak satu tempat.


Dengan cepat pula Mario mematikan ponselnya lalu turun ke bawah atau lebih tepatnya ke ruang tamu melihat Mama yang sedang asyik menonton drakor di ponselnya. Semenjak mama jadi orang yang udah pensiun beliau selalu menghabiskan waktunya dengan cara berkebun atau nonton drakor. "Mah," ucapnya yang menghentikan Mama mematikan layar ponselnya dan mendengarkan apa yang dirasakan oleh Mario, wajahnya seakan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Mario tapi ia sangat paham kalau misalkan Mario pengen ngomong sesuatu hal yang sangat penting dengan cepat ia pun menaruh ponsel tersebut di atas meja.


"Iya udah kalau gitu mama bisa kok biayain sekolah kalian berdua di tempat universitas yang sama kalau misalkan pacar kamu tuh emang bener-bener mau belajar di sana."


Mario bener-bener terbelalak sekali dengan jawaban tersebut walaupun mungkin ia tidak menjelaskan secara detail rupanya Mama sangat mengerti sekali apa yang dimaksud oleh Mario.


Dengan kecupan singkat Mario pun kembali ke dalam kamarnya yang belum sekitar 20 menitan dengan cepat pula ia mengambil baju secara acak di dalam lemari dengan raut wajah yang sangat bahagia. "Gue yakin banget kalau misalkan kita berdua nggak akan pernah terpisahkan!"


Ketika berada di dalam mobil tidak henti-hentinya Mario selalu mengucapkan terima kasih kepada Mama karena sudah mendukung apapun yang dilakukan oleh anaknya selagi itu positif dan baik.


Singkat cerita akhirnya mereka pun sampai di rumah Tania sekitaran nya tampak sepi tapi sepertinya ada di rumah dan sedang duduk di ruang tamu biasanya kalau misalkan Mario datang berkunjung atau bertamu.


"Maksud Tante?" jawab Tania yang benar-benar kaget banget dia yakin banget kalau misalkan Mario yang menceritakan dia tidak bisa masuk ke universitas karena biaya yang sangat mahal, Mario hanya memberikan kode dengan menaikkan alisnya sedikit naik ke atas.


Tania bingung banget kenapa tiba-tiba Mario datang ke rumah bersama seseorang yang sangat penting di dalam hidupnya, Mario mengatakan kalau misalkan kedua orang tuanya mau membiayai perkuliahan Tania dan mereka harus satu kampus bareng. Dan anehnya Mama setuju dengan ide aneh tersebut karena bakalan panjang dan berjasa banget. Di dalam hati Tania sangat menolak banget karena enggak mau merepotkan siapa pun dan nggak mau sekolah atau perkuliahan menjadi beban hanya karena keinginan atau cita-cita yang sangat tinggi.


"Aku sama sekali enggak bisa Tante soalnya kedua orang tuaku nggak bisa biayain aku buat kuliah aku memutuskan untuk bekerja saja karena buat beban juga kalau misalkan terus, makasih banyak atas tawarannya udah berbaik banget sama keluarga kita juga."


Karna merasa tidak terima Mario pun mencoba untuk menampiknya, mengatakan kalau misalkan dia pengen banget bisa sama-sama terus bahkan hampir setiap waktu yang bikin kadang hubungan itu toxic dan membingungkan. "Kamu kenapa sih nggak mau satu universitas dan juga 1 kelas nanti di kampus soalnya kan aku tuh pengen banget kalau misalnya kita itu bareng-bareng terus belajar bareng dan juga semuanya serba bareng masa kamu nggak mau sih?"


Tampak sulit untuk mengatakan kalau misalkan nggak mau ngerepotin siapapun bahkan rencananya sudah melamar pekerjaan kepada orang yang membutuhkan ijazah SMA ya walaupun mungkin ijazah SMA belum keluar secara resmi tapi duplikatnya sudah keluar.


Setipu daya Mario tetap saja memaksakan karena kalau dia sudah cinta sama orang dan udah sayang sama orang maka sampai kapanpun orang itu menolak ia akan tetap terus saja mengejarnya, dan Tania sudah sadar akan hal itu.


***


Tania merebahkan kepalanya ke tempat tidur dengan menyilangkan 2 tangan di belakang kepala menatap ke arah langit-langit kamar yang sudah keropos dan juga berlubang. Tapi ia sangat merasa bahagia banget hari ini karena ternyata Mario bener-bener sayang dan cinta bahkan rela berkorban tentang apapun dan masa depan mereka ke depannya nanti.


Bahkan ketika tadi Mario pulang ia mengatakan ia akan tetap memperjuangkan hubungan mereka berdua walaupun mungkin nanti mendapatkan jawaban yang tidak enak hati.


Membuat Tania sedikit tersenyum dengan kata-kata tersebut ternyata ada seorang laki-laki yang dulunya membenci banget bahkan nggak suka ternyata sekarang udah berubah menjadi sosok yang sangat bucin dan sangat peduli atas masa depannya ke depan nanti kayak gimana walaupun mungkin mereka berdua belum tentu berjodoh.