Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 50. Resmi Pacaran



Untungnya jam pelajaran sudah selesai kini saatnya mereka nongkrong-nongkrong di kelas dan ngobrol-ngobrol ala-ala anak SMA pada umumnya. Tercetuklah pertanyaan singkat dari mulut Kevin kepada Mario.


"Cie yang udah pacaran sama Tania bentar lagi semuanya bakalan berakhir deh." Ucap dari Kevin yang mengejek Mario, hari ini Mario terlihat sekali begitu bahagia dan mood banget untuk diajakin bercanda.


"Iya santai aja semuanya akan berjalan dengan baik kok dan gue bakal netapin kalau misalkan gue kalah gue bakalan kasih hadiah apapun yang lo mau tapi kalau misalkan gue yang menang lo harus kasih hadiah apapun yang gue mau!"


"Haha tenang aja semua bakalan sesuai dengan rencana kok nggak bakalan neko-neko juga dan lo harus ingat waktu lo tinggal sebentar lagi untuk mendapatkan hati Tania setelah dia jatuh cinta lo harus putusin dia kalo lo yang jatuh cinta itu tandanya lo kalah?" Ucap Kevin yang begitu tegas sekali kepada Mario.


"Iya gue tahu kok gak usah dikasih tahu juga gue juga tahu!" Ucap Mario yang menjawab dengan ketus ucapan dari Kevin entah kenapa hari hari atau beberapa minggu yang lalu semenjak iya menerima tantangan atau taruhan dari Kevin, Mario terus-terusan ditekan oleh Kevin padahal mereka bersahabat dan satu geng istilahnya seperti itu.


"Kenapa sih Tania malah terima Mario jadi pacarnya pada udah gue kasih tahu kalau misalkan Mario itu cuma manfaatin dia bukan karena dia cinta beneran sama dia kenapa sih susah banget untuk ngilangin image ganteng dari Mario seakan-akan cowok ganteng itu nggak ada salahnya sama sekali!" Geram Bagus yang kesal sekali melihat Mario dan teman-temannya yang sok ganteng dan sok berkuasa seenak jidatnya untuk memperlakukan yang seharusnya tidak mereka lakukan.


"Ya udah kalau misalnya dia bakalan nyakitin Tania gue nggak segan-segan untuk maju ngebelain Tania gue nggak mau Tania seenak jidatnya digituin biar tahu rasa tuh orang!" Ucapnya dalam hati yang sudah gedek banget.


Mereka yang awalnya merasa aneh dan merasa kaget banget dengan Tania dan Mario kedekatan mereka perlahan berubah menjadi hal yang biasa karena yang selalu mencoba dekat kepada Tania. Dan dia pun awalnya bingung kenapa Mario bingung bisa mendekatinya tapi lama-lama ia sudah mulai terbiasa dengan kedekatannya dengan Mario, mungkin ada sedikit keraguan kenapa Mario bisa mendekat sapi dengan kegigihan Mario akhirnya hanya yakin dengan Mario kalau ia adalah cowok yang serius, dan disela-sela itu ada orang yang memberi tahu kalau misalkan Mario hanya memanfaatkannya saja melainkan ia sebagai orang yang jadikan bahan taruhan mungkin dan ia sempat mundur dan mempertanyakan ini langsung kepada Mario dan ia terkelabui kembali dikarenakan mungkin perasaannya dan hatinya yakin kalau misalkan Mario bener-bener setia dan bisa dipegang janjinya. Dan hari ini adalah hari kedua mereka menjalani hubungan sebagai status orang pacaran. "Hei lo kenapa kok tegang banget mukanya lo belum percaya kalau misalkan kita udah pacaran?"


"Iya gue masih belum nyangka kalau misalkan kita udah pacaran lo sebenernya serius enggak sih sama gue?" Pertanyaan yang sering sekali Tania lontarkan kepada Mario dan Mario selalu saja menjawab hal yang sama ia serius dengan Tania. Ia memegang tangan Tania keduanya untuk meyakinkan Tania kalau misalkan apa yang ia lakukan ini adalah sesuatu hal yang serius bukan main-main walaupun di dalam hatinya bilang kalau misalkan ya nggak akan pernah mungkin juga jatuh cinta kepada Tania karena ini semua hanya karena taruhan bukan karena cinta yang sebenar-benarnya. Ia tahu kalau misalkan sesuatu yang ia lakukan ini adalah sesuatu hal yang salah menyakiti perasaan orang lain disaat orang lain sudah mulai jatuh cinta dan menaruh harapan. Tapi antara keegoisan dan keinginan jauh lebih besar keinginan dan menutupi semua kebaikan yang dilakukan oleh Tania selama ini hingga membuat nilai-nilainya bagus dan membuat pola pikirnya menjadi lebih dewasa dan tidak kekanak-kanakan atau merasa dirinya itu adalah orang yang paling hebat di sekolah padahal masih ada orang hebat dibelakangnya yang mungkin belum ia ketahui.


"Bagus yang kasih tahu gue kalau misalkan lo jadiin gue bahan taruhan!" Kedua mata Mario langsung terbelalak ketika mendengar nama itu terlontar dari mulut Tania.


"Hah? Dia kasih tahu lo ya?"


"Iya dia kasih tahu gue kalau misalkan lo jadiin gue bahan taruhan sebenernya gue mau terima kasih sama dia tapi gue bakalan ngucapin terima kasih lagi kalau misalkan lo jujur sama gue." Tania menyinggung Mario dengan cara yang halus.


"Oh emang bener-bener ya tuh cowok cupu suka banget ngadu domba orang." Kesal Mario yang secara tidak langsung Bagus telah ikut campur dengan urusannya bisa-bisa yang selama ini naruh kertas di bawah laci teman-teman sekelasnya itu juga bagus begitu saja di pikiran Mario.


"Trus orang yang dihadapan lo ini juga cupu kenapa lo malah nembak gue udah tahu gue cupu?"


"Ini bukan urusannya lo cewek dan dia cowok lo ngerti kan maksud gue apaan? Ah kenapa kita malah berantem gara-gara dia baru juga jadian masa harus putus cepat juga sih. Gue janji bakalan bikin lo nyesel ngomong kayak gini gue bakalan bahagiain lo, dan gue juga janji apapun yang terjadi gue bakalan bikin lo nyesel kalau suatu saat ninggalin gue." Dengan pedenya Mario mengatakan hal itu kepada Tania. Tania sudah biasa dengan ucapan-ucapan Mario yang sedikit meninggi sombong dan angkuh ya walaupun setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan yang tidak bisa di kurang-kurangin dan tidak bisa juga dilebih-lebihkan.


"Ya udah deh kalau gitu gue pegang aja ucapan lo gue nggak nuntut tapi lo harus buktikan aja kalau emang bener apa yang lo ucapkan!"