Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 60. Introgasi



Juan memberitahukan kalau misalkan hari ini bakalan menembak Giska dan Mario langsung terbelalak dengan ucapannya tersebut. "Gue pengen nembak Giska kira-kira menurut lo dia bahkan terima gue nggak?"


"Hah?" Mario belum mudeng dengan ucapan dari Juan.


"Tapi setahu gue sih dia udah suka sama gue ya doain aja deh semoga dia bisa nerima gue jadi pacarnya dia!" Juan menjelaskan kedekatannya antara dirinya dan Giska selalu percaya sekali dengan apa yang dia lakukan nanti untuk menembak dari Giska.


"Lo yakin bakalan di terima?" Pertanyaan Mario membuatnya sama sekali tak gentar untuk menyatakan perasaannya kepada Giska.


"Yakin dong hahaha. Sumpah gue sama sekali gak nyangka tau gak sih. Apa ini gak terlalu cepat untuk buat lo bikin ramai hari ini?" Menurut Mario ini terlalu cepat sekali untuk mengatakan sesuatu kepada Giska nantinya yang pastinya membuatnya bingung dan membuatnya kaget parah pastinya.


"Ya udah kalau misalnya yakin ya yakin aja lo mau gak buat semuanya beda hahaha."


"Ya udah lo bantuin gue dong biar bisa deket sama Giska."


"Pertanyaan gue cuma satu lo beneran suka sama dia hah? Ya ampun lo ya!" Sahut Mario yang tertawa terbahak-bahak dengan ucapan dari Juan.


"Ya udah."


Juan pun mempersiapkan mental untuk bisa menyatakan perasaannya dan menyiapkan kata-kata kepada Giska agar bisa diterima cintanya.


***


Ya waktunya tiba.


Juan berusaha untuk menyatakan perasaannya kepada Giska, perempuan itu begitu terkejut sekali ketika Juan menyatakan perasaan dihadapannya padahal ia sama sekali tidak menyangka bisa sejauh ini bisa dekat dengan Juan. "Giska gue pengen ngomong sesuatu sama lo boleh kan deket gue sebentar!"


Juan membawanya ke tengah-tengah lapangan yang membuat Giska bingung kenapa banyak sekali orang yang ada disekitarnya tertuju kepadanya. "Lo mau ngomong apa kok banyak orang kaya gini sih ada apa sebenarnya Juan?"


"Gue pengen ngomong sesuatu sama lo penting banget!" Bibirnya gemetar ketika mengatakan ini kepada Giska, ia takut kalau misalkan Giska menolaknya sebagai pacar.


"Penting? Soal apa? Buruan cerita! Gue malu nih!" Giska memiliki traumatik dan rasa gugup yang begitu tinggi sampai tangannya dingin dan kakinya juga gemetar di depan orang banyak ya sama sekali demam panggung apalagi diperhatikan oleh orang-orang yang tertuju kepada tatapannya.


"Hah? Kok tiba-tiba menanyakan perasaan gini sih ke gue ada apa? Apa gue nggak salah denger nih ngedenger ucapan lo?" Giska membuka helaian rambut apakah yang diucapkan oleh Jun itu benar atau tidak karena seolah-olah apa yang didengarnya itu sebuah mimpi dan sebuah haluan belaka jadi ia minta ulangin kembali pertanyaan dari Juan.


"Gue serius ngomong kayak gini kau tinggal aja tinggal jawab!" Dan ternyata benar apa yang diucapkan oleh Juan.


Lalu ia menjawab dengan rasa gugup. "Ya tapi lo kok lo tiba-tiba menyatakan perasaan lo sih sama gue? Emang lo beneran suka sama gue, gue sama sekali nggak nyangka lo menyatakan perasaannya ke gue kenapa bisa secepat itu?"


"Ya karena gue suka aja sama lo masa gue nggak boleh sih suka sama lo sih? Gue serius suka sama lo nggak main-main ngomongnya."


"Terima aja dia serius suka sama lo kok." Sambar Mario yang tak kalah dengan ucapan dari Juan. Tania berada di samping seakan diam saja dengan ucapan tersebut. Giska pun diam saja dari ucapan dari Juan. Ia bingung harus menjawab apa karena ini seakan-akan mendadak sekali untuk mempertanyakan perasaannya. Ia takut Juan hanya mempermainkan perasaan dan hatinya mentang-mentang udah cantik baru dia bisa mendekati. Giska minta bukti supaya dia bisa yakin dengan apa yang diucapkan oleh Juan.


Ucapan terima teman-taman sekolah bergurau gemes sekali menunggu jawaban dari Giska untuk menjawab pertanyaan dari Juan. "Hei kenapa lo bengong aja sih dari tadi kenapa nggak jawab dari ucapan gue atau pertanyaan dari gue?"


Giska langsung saja pergi meninggalkan Juan ia sama sekali belum siap untuk menerima Juan sebagai pacarnya. Teriakkan pun berubah menjadi diam Juan sama sekali tak menyangka kalau misalkan Giska tidak menerimanya sebagai pacar. Mario dan Kevin pun mendekat menepuk bahu dari Juan agar lebih sabar dan jangan putus semangat untuk menyatakan perasaannya kepada Giska. "Udah tenang aja dia bakalan terima lo kok cuman dia kaget doang aja kalau misalkan tiba-tiba lo menyatakan perasaan gitu kalian kan baru deket aja dia nggak bisa secepat itu untuk menyatakan perasaan dan ngedapetin hasilnya!" Juan mengangguk paham ucapan dari Mario saya juga tahu ini terlalu cepat untuk menyatakan perasaannya kepada Giska.


"Yah kok malah ditolak sih kalau gue mah terima aja langsung!" Salah satu penonton kecewa sekali dengan sikap di sekolah yang menolak Juan yang salah satu cowok ganteng yang ada di sekolah yang tak kalah dengan Mario.


"Gue kecewa banget sih sama dia kenapa dia malah nolak Juan padahal kalau misalkan gue mah mau banget sama Juan Juan kan juga ganteng gak kalah sama Mario cowok hits pula di sekolah!" Ada pro dan kontra dari apa yang dilakukan oleh Juan dan Giska kali ini.


***


Terlihat sekali kecanggungan antara Juan dan Giska. Giska masuk ke dalam mobil tanpa melirik ke arah Juan sama sekali bingung apa yang harus ia lakukan dan jantungnya berpacu lebih kencang daripada sebelum-sebelumnya. Juan awalnya ingin menanyakan lagi kembali namun karena si Giska sudah masuk ke dalam mobil ia mengurungkan niatnya untuk mempertanyakan hal ini mungkin keesokannya masih banyak waktu untuk mereka bisa ngobrol bareng lagi. Giska melirik ke arah kaca spion mobil dan melihat Juan yang masih mematung melihat ke arah mobil yang terus berjalan. "Ada apa non?"


"Enggak kok pak gak ada apa-apa. Ya udah jalan aja." Sahutnya yang menyuruh untuk berjalan saja.


"Baik non." Sahutnya dengan cepat.


"Kenapa sih Juan bersikap kayak gini sih ke gue ini nih gue takutin kalo gue deket sama cowok pasti cowok ngungkapin perasaannya!" Giska melihat kearah kaca yang seakan-akan berjalan dedaunan dan pepohonan.


"Aduh kenapa jadi gue begini sih susah banget buat ngejalaninnya apa gue terima aja ya nanti ya Juan jadi pacar gue?" Giska semakin bingung dan semakin frustasi apakah yang ia lakukan ini sudah menjadi sesuatu hal yang benar atau menjadi sesuatu hal yang salah.