
Akhirnya hari tunggu-tunggu terjadi juga dan membuat mereka semua bersedih hati karena mereka akan menjalani kelulusan dan juga bakalan berpisah dengan teman-teman yang lain dan juga guru-guru yang mengajar mereka selama 3 tahun ke belakang. Kalau ditanya sedih bakalan sedih banget apalagi udah bareng-bareng nggak kerasa harus berpisah mengejar sebuah cita-cita di masa depan, yang namanya hidup pasti yang namanya bergulir dan terus bergulir tapi mau kayak gimana lagi semua harus terjalani dan semuanya telah menuntut untuk melangkah maju.
Hubungan mereka berdua nggak kerasa banget dari pahit, manis dan juga asam selalu dijalani bersama. "Aku sama sekali nggak nyangka deh akhirnya kita bisa ngelewatin semuanya walaupun mungkin awalnya aku jadiin kamu bahan taruhan tapi entah kenapa aku ngerasa hidup aku tuh bener-bener baik dan lurus nggak kayak dulu lagi yang selalu berpikiran hal negatif."
"Aku tahu kok semuanya bakalan berbuat apa adanya dan juga berbuah manis sesuai dengan ekspektasi kita yang paling penting adalah kita bisa menjalani hubungan sampai kapanpun bahkan mungkin kita ke jenjang yang serius."
Vita hanya bisa melihat dari kejauhan tidak terima dengan keromantisan antara Mario dan Tania benar-benar ia tidak mau mereka bersatu lagi tapi mungkin usahanya sudah berhenti sampai disini setipu daya sudah ia lakukan tapi tetap saja hasilnya nihil. "Udahlah semuanya bakalan baik-baik aja kok dan lo juga perempuan yang cantik banyak banget cowok di luaran sana yang ngantri sama lo."
"Gue itu cintanya sama Mario bukan sama laki-laki yang ada di luaran sana gue males banget deh kalau misalkan punya sahabat kayak lo yang nggak ngertiin banget sama perasaan gue?"
"Ah elah, dari dulu sampai sekarang lo nggak akan pernah berubah kalau misalkan lo masih mencintai orang yang sama tapi dia nggak cinta lagi sama lo? Seharusnya lo itu sadar dia udah punya Tania yang jelas-jelas dia cinta yang mungkin awalnya dia sayang banget sama lo, tapi kan kalau menurut gue kita itu kayak roda kadang kita bisa di atas dan kadang juga kita bisa di bawah kita nggak bisa ngatur perasaan orang lain apalagi ini masalah perasaan guys?" tatapan itu sangat tajam sekali hingga membuat Vita seakan bingung harus menjawab apa.
Kata sambutan pun satu persatu diucapkan oleh guru-guru yang bergantian mengucapkan selamat kepada anak-anak murid yang telah lulus di angkatan tahun ini yang pastinya semuanya lulus 100%, membuat semuanya berlinang dengan air mata dan juga keharuan namun dibalik itu semua pastinya ada kebahagiaan yang terbersit yang selalu ada dalam satu situasi dan keadaan.
Bahkan setiap perpisahan setiap tahunnya akan membuat kenangan dan momen yang berbeda-beda di hati masing-masing.
"Gue sama sekali nggak nyangka kita bakalan berpisah apalagi semua akan cepat berlalu. Kenapa semua ini berjalan begitu sangat cepat banget ya gue sama sekali nggak nyangka tahu nggak sih?"
***
Setelah selesai Tania dibawa kerumah Mario untuk berkunjung dan memberikan kalau misalkan mereka sudah lulus sebagai tamatan SMA, mereka rencananya mau masuk ke jenjang perkuliahan atau kampus tapi ada hal yang bikin Tania seakan nggak bisa berkata-kata. Soalnya ketika berada di rumah Tania mendapatkan kabar kalau misalkan ia tidak bisa masuk ke jenjang mahasiswi karena masalah perekonomian yang tidak stabil dan bahkan biaya nantinya sedikit yang harus membutuhkan uang yang banyak agar bisa kuliah. "Kamu tenang aja kita bakalan satu universitas dan satu kampus juga kok semuanya bakal ditanggung sama orang tuaku?"
Karna merasa sedih Mario pun menggenggam tangan Tania dengan sangat erat banget ia mengatakan semuanya bakalan terjalani dengan baik apabila mereka berdua mau sama-sama berjuang ke depan. Namun bagi seorang perempuan tidak semudah itu untuk mendapatkan suatu genggaman masa depan apalagi sebuah gelar dan juga masuk ke dalam perkuliahan, tidak semudah itu untuk menjalani apalagi biaya yang seperti yang ia pikirkan sebelumnya kedua orang tuanya udah bilang kalau misalkan nggak bisa.
"Udahlah jangan terlalu dipikirin hal-hal nggak penting karena menurut aku ya udah semuanya baik-baik aja, ya udah kalau gitu kamu mau minum apa biar aku buatin di dapur ya."
Tania pun mengangguk dan paham. "Kenapa?"
"Ini Mah, katanya Tania nggak bisa buat ngelanjutin ke fase kuliah soalnya katanya kedua orang tuanya nggak bisa biayain apalagi nanti katanya biaya kuliah mahal. Aku nggak mau kalau misalkan nggak satu kuliah sama dia, aku pengen banget 1 kuliah sama dia dan juga aku pengen banget nanti bisa bareng sama dia aku takut dia diambil sama yang lain."
"Kalau misalkan dia pengen kuliah Mama dan Papah bisa kau biayain, Mama yakin dia pasti pintar dan dapatin gelar di sana. Kamu beneran mau satu kampung sama dia emang gaya pacaran kalian terlalu posesif itu?"
"Aku sebenarnya juga nggak tahu, apa yang harus aku lakuin dan aku juga bingung gimana caranya buat aku terus bareng-bareng sama dia mungkin aku sebutin itu sama perempuan. Dan perasaan baru sekarang sih ngerasain seperti ini perasaan dulu biasa aja apa karena mungkin dia terlalu baik sama aku makanya aku terlalu cinta sama dia?"
Mario menaruh minuman di atas meja mempersilahkan Tania untuk meminum untuk tamu yang sangat spesial buat hidupnya. "Tadi aku udah cerita sama Mama ternyata Mama setuju aja sih sama hubungan kita dan Mama juga bersedia buat membiayai kuliah kamu," ucapnya sangat begitu sangat tegas.
"Aku nggak mau ngerepotin keluarga kamu aku nggak mau memaksakan keadaan yang gak bisa aku jalani, kayaknya aku enggak bisa deh kuliah aku enggak mau ke babanin, aku minum dulu ya makasih udah ajakin aku ke rumah kamu."
Mario tetap yakin banget apakah bisa kuliah bareng nanti dan nggak mau kehilangan. "Sampai kapanpun aku nggak mau ninggalin kamu dan sampai kapanpun aku juga nggak mau ngelepas kamu dari siapapun," batinnya dalam hati mengatakan dan bertekad untuk tidak mau kehilangan Tania untuk kesekian kalinya bahkan banyak banget orang yang pengen deket sama dia karena orang ini sangat positif.