
Ketika Tania sudah menerima hadiah dari Mario ia langsung saja mengucapkan terima kasih kepada Mario karena sudah repot-repot memberikan hadiah kepadanya padahal sama sekali tak ada terpikir sedikitpun untuk mendapatkan hadiah dari seseorang yang mungkin ia kagumi dari lama di dalam doanya ia selalu berdoa untuk bisa suatu hari nanti bisa ketemu sama seseorang yang ia kagumi itu Mario ternyata detik ini dikabulkan sungguh di luar dugaan sekali.
Dalam hitungan 1,2 dan 3 kado pun dibuka dan ternyata isinya adalah sebuah buku yang diberikan Mario kepada Tania.
"Cie dapatin buku, sweet banget sih Mario. Kasih resep dong biar gue nukar juga sama Juan." Ups Giska keceplosan dengan apa yang ia katakan saat ini. Sontak membuat Sekar dan Tania terkejut bahkan mereka mencie-ciekan Giska. Ada apa dengan Giska dan Juan?
"Kenapa jadi Juan?"
"Ya enggak. Keceplosan aja emang gak boleh sama sekali?" Ia menaikkan alisnya sedikit naik ke atas ketika sudah tertangkap basah karena dengan kejadian kemarin membuat Giska terngiang oleh nama itu di pikirannya.
"Oh kali aja gitu lo diam-diam suka sama Juan? Ya kalau menurut gue sih naksir sih boleh tapi memiliki jangan."
"Loh kenapa kok enggak boleh memiliki jangan? Kalau menurut gue selagi dia belum punya pacar dan selagi dia belum menikah ya bebas-bebas aja kita buat deket sama siapapun? Gitu nggak sih konsepnya?" Giska terima dengan ucapan Tania yang seakan-akan menyuruhnya untuk tidak dekat-dekat kepada Juan sedangkan dirinya sendiri dekat-dekat dengan Mario terkesan egois banget.
"Udah udah jangan berantem kalian cuma salah paham doang kok lagian mau dekat sama siapapun kalau misalkan orang yang dekat sama kita atau tulus dan apa adanya. Ya udah jalanin aja. Toh semuanya bakalan mengalir apa adanya kok." Sekar mengaitkan kedua tangannya ke bahu mereka berdua agar lebih santai dan tidak menggebu-gebu dalam menanggapi satu sama lain.
"Tapi nggak papa juga sih kalau misalkan lo sama Juan soalnya Juan sama Mario tuh beda banget sifat dan karakternya kalau selama ini gue lihat. Juan kayaknya orangnya suka baca gitu sedangkan Mario kan lebih kaya fashion banget orangnya jadi cocok deh kalau misalkan sama lo gis." Labil sekali ucapan dari Tania baru saja ia yang melarang untuk Giska dekat dengan Juan sekarang malah dia menyuruh jika boleh bersama Juan.
"Haduh gimana sih kalian ini. Kenapa jadi diam aja kenapa gak nanggepin apa yang gue ucapin?"
"Kau sendiri jadi orang labil banget tadi nyuruh gue buat nggak deket-deket sama Juan sekarang lo malah peduli gue sama Juan gimana sih? Jadi menurut lo gue harus kayak gimana sih harus deket sama Juan atau enggak jauh dari Juan?"
"Emang kenapa tiba-tiba lo bahas Juan?" Sekar mendekat ke arah Giska selalu mempertanyakan pertanyaan yang begitu menohok sekali ingin membuat Giska tersenyum malu-malu dan tak dapat berkata apa-apa lagi karena sudah skakmat.
Kania mengeluarkan jaket yang ia pinjam kemarin kepada Giska lalu mengembalikannya. "Makasih banyak ya guys kalau bukan jaket lo mungkin rok gue bikin gue malu sepanjang jalan." Senyumnya kepada Giska.
"Ya sama-sama kok. Ternyata ada untungnya juga ya gue bawa jaket setiap hari ke sekolah."
"Ya jelas lah lo kan orangnya putih banget, kalau enggak pakai jaket lo bakalan iteman. Gue aja sama kulit lo jauh banget bedanya antara langit sama bumi."
"Gue juga apalagi gue yang item banget kayak begini Giska mah cantik, putih dan tinggi lagi nggak kayak kita butek." Sekar mengakui kalau misalkan Giska adalah cewek yang cantik tapi nggak bisa dandan aja makanya selama ini dikata-katain cewek cupu.
"Apaan sih kalian bikin baju gue gede aja."
***
"Ya udah deh kalau gitu gue sama Sekar pulang duluan ya kalian hati-hati. Bye."
"Dadah kalian, kalian juga hati-hati ya pulangnya langsung pulang lo habis ini jangan ke mana-mana keluyuran."
"Iya ibu kos jangan marah-marah ya sama kita kita langsung pulang ke rumah."
Vita selalu saja melihat kemesraan atau kedekatan antara Tania dan Mario yang semakin hari semakin dekat saja. "Dasarnya cewek cupu itu ternyata kemarin sama sekali enggak jelas banget gue nggak deket-deket sama Mario, baru aja tadi Mario kasih hadiah buat Tania. Emang sepenting itukah cewek kayak Tania apa gara-gara dia frustasi putus sama gue ya terus beralih ke cewek haluan kayak gitu? Atau gue terlalu cantik makanya dia minder buat jadiin gue pacarnya dia?" Dengan pedenya Vita mengatakan itu kepada dirinya sendiri bahkan ia sangat yakin kalau misalkan Mario menyesal memutuskannya.
"Oh iya kemarin waktu sampai di rumah langsung mandi ya?" Pertanyaan ambigu terlontar dari Mario kepada Tania yang membuat ia seakan-akan tiba-tiba bingung dengan pertanyaan tersebut.
"Maksud lo apaan gue nggak ngerti?"
"Kan kemarin menstruasi atau PMS nah lo habis dari motor gue lo langsung pulang kerumah itu langsung mandi?"
"Oh iya langsung mandi tapi ganti baju dulu sih."
"Tapi gue anehnya lo bohong deh sama gue?"
"Kenapa jadi bohong lo kan nggak lihat?"
"Ya udah deh nggak usah nggak penting juga ngapain dibahas. Udah naik motor gue ntar panas lagi mataharinya." Tania pun mengangguk suruhan dari Mario yang sudah tak ada topik lagi pembahasan yang tidak penting ini.
"Makin lama ternyata lo posesif juga." Batin Tania yang merasa kalau misalkan Mario sering banget ngomel-ngomel gak jelas padahal mereka tidak ada status sama sekali. Awalnya sempat ragu kenapa mereka seperti ini tapi lama-kelamaan sifat Mario membuatnya suka. Rupa-rupanya Mario melihat Tania yang senyum-senyum dari kaca spionnya. Ia berdeham ringan nggak tanya merubah arah pandangnya ke arah kiri yang asal mula ke arah kanan.
"Kalau salah tingkah tuh bilang aja nggak usah sok-sokan merubah pandangan ke arah lain. Gue kebutin baru taruh tau rasa."
"Oh ya by the way makasih banyak ya bukunya."
"Jangan lupa nanti dibaca ya di rumah."
"Lo tahu dari mana kalau misalkan gue ulang tahun hari ini?"
Mario hanya diam dan menikmati suasana di siang hari yang panas terik ini. "Ya iyalah gue tahu gue kan cowok populer gampang banget tapi informasi kayak gitu."