Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 7. Tugas Bareng



"Nah sebentar lagi kita bakalan sampai di rumah gue." Tunjuk Mario ke arah jalan menuju ke rumahnya.


"Ternyata jauh juga ya antara rumah lo menuju ke rumah gue pantesan aja lu pagi banget buat datangnya. Ternyata jauh banget."


Akhirnya mereka sampai juga di rumah Mario, ini adalah kali pertama Tania ke rumah Mario. Ia di persilahkan untuk duduk di ruang tamu. "Tunggu sini ya gue ganti baju dulu di kamar." Pamitnya sebentar untuk mengganti bajunya.


"Iya." Tania pun menunggu di ruang tamu sembari ia menunggu ia pun melihat dari sudut ke sudut ruangan rumah Mario. Rumahnya begitu besar sekali dan sangat rapi mungkin karena ada yang ngurus rumahnya yaitu asisten rumah tangga karena tak mungkin sekali rumah sebesar ini tak ada yang membantu kedua orang tua dari Mario. Dia melihat seorang gadis kecil seperti SMP keluar dari kamarnya. Tania yakin sekali kalau misalkan itu adalah adik Mario, tak kalah modis dengan kakaknya gadis kecil itu terlihat cantik dan elegan. Tania melempar senyum kepada gadis cantik itu namun sayangnya gadis cantik itu hanya bermuka datar mungkin bingung dengan keadaan yang ia lihat sekarang atau bahkan sosok asing yang berada di ruang tamu.


"Kayaknya dia adiknya Mario deh." Gumamnya dalam hati.


Tak berapa lama Mario pun keluar dari kamar namun sebelum itu Karen berbisik kepada Mario menanyakan siapa perempuan yang ada di ruang tamu itu. "Kak dia tuh siapa sih kok ada di ruang tamu rumah kita?"


"Dia teman satu sekolah satu angkatan gitu dia pintar makanya kakak minta ajarin sama dia. Kenapa?"


"Masih suka cuma teman satu angkatan di sekolah apa itu pacar kakak ya? Kak udah putus sama kak Vita? Kenapa bisa jadi turun pangkat gini sih kak selera kakak? Kayaknya kita cuma manfaatin dia deh dengan kepintarannya itu bentar lagi kan kakak mau ujian?"


"Apaan sih anak kecil nggak boleh ngomong kayak gitu." Memang benar tebakan Karen dia sebagai perempuan merasakan kalau misalkan kakaknya sedang berpura-pura berteman dengan orang yang tidak sepadan atau tidak sepadan dengannya.


"Sorry banget ya gue tadi agak lama ganti bajunya soalnya tadi gue ngobrol bentar sama Karen adik gue." Mario langsung saja membuka buku pelajaran PR yang sudah disuruh oleh guru di kelas. Sebenarnya ya males banget buat belajar padahal apabila Mario belajar ia pintar untuk mengerjakan soal-soal. Tapi karena berbaur dengan teman-temannya yang tidak belajar maka dari itu Mario ikut-ikutan dan mendapatkan nilai yang anjlok. Beberapa kali Mario keluar dari tempat lesnya karena benar-benar tidak bisa belajar dengan baik bahkan ia sempat dikeluarkan karena sering membolos.


"Nah caranya tuh kayak gini apabila penjumlahan atau pengurangan walaupun berada di sebelah kiri deret sebelah kiri maka yang harus didahulukan itu adalah pembagian atau perkalian dikarenakan magnetnya yang begitu besar dan ditandai dengan kurung. Jadi kalau misalkan mengerjakan sesuatu itu yang didahulukan adalah pembagian atau perkalian tidak boleh yang didahulukan itu penjumlahan atau pengurangan karena magnet yang sangat kecil tapi bukan berarti kita melupakan pengurangan dan penjumlahan itu sendiri tetap aja dibuat dan letaknya juga tempatnya sama."


"Bahasa lo jangan terlalu baku dong gue kagak ngerti nih!"


"Oke gue ulangin ya apabila penjumlahan dan pengurangan ada di antara perkalian atau pembagian maka yang didahulukan atau yang dikasih kurung itu adalah magnet yang paling besar."


"OK gue coba dulu ya untuk ngerjain."


Mamanya Mario begitu cantik sekali walau sepertinya seusia dengan mamanya Tania. Tapi ini lebih modis karna perawatan. "Tumben banget kamu belajar bareng sama temen kamu?"


"Iya nih ada tugas dari sekolah dan kebetulan dia ini salah satu siswi pintar ya walaupun kita gak satu kelas tapi sama mah tugasnya."


"Ya udah kalau gitu lanjutin aja belajarnya mama mau ke kamar dulu mau istirahat baru pulang dari arisan." Tania dan Mario pun mengangguk ketika mamanya ingin masuk ke dalam kamar.


"Kalau misalkan cewek tadi itu ada gue namanya Karen dia masih SMP tapi udah nyinyir banget udah centil."


"Oh gitu ya, udah selesai belum Ini udah jam 5.30 gue harus buru-buru pulang ke rumah soalnya gue tadi ngomong sama nyokap bentaran doang ke rumah teman."


"Ya udah bentar lagi gue selesai kok."


Notifikasi ponsel Mario tergeletak di atas meja ada panggilan telepon dari Kevin. Mario dengan cepat mematikannya dia tak mau berbicara di depan Tania bisa-bisa obrolan itu mengarah ke arah taruhan dan membuat semuanya hancur tiba-tiba. "Gue pengen fokus belajar gue nggak mau diganggu mau di ganggu!"


"Gue senang banget deh bisa temenan sama wa yang pinter kayak gini nggak sama kayak kedua temen gue yang enggak bisa diajak pintar bareng gimana generasi mau maju!"


"Yang ditinggal lulus bukan gue tapi karena kegigihannya sendiri dalam belajar usaha lo sendiri gue cuma jembatan atau perantara supaya lo bisa nggak dapat dinilai itu yang menentukan itu adalah dirinya sendiri dan usaha lo karena hasil tidak pernah menghianati usaha. Walaupun gue nyuruh lo buat belajar dengan giat tapi keinginan lo nggak ada ya tetep aja gue nggak akan pernah bisa ngerubah dari cara lo selama ini dalam belajar."


"Iya sih bener juga pantesan aja di kelas pada pintar kerangka mereka belajar!"


"Gue ketinggalan jauh sama mereka dan gue sama sekali enggak ngejar ketinggalan itu gue malah nyantai dan nongkrong-nongkrong sama temen-temen gue dan itu membuang-buang waktu banget!"


"Ada 4 soal lagi nih yang bakalan mau kerjain."


"Oke semangat ya gue pengen baca buku dulu!"


***


Akhirnya selesai juga tugas sekolah Tania pun merapikan barang-barang yang tergeletak di atas meja ke dalam tas.


Hujan pun turun begitu saja tanpa harus di prediksi atau di suruh sama sekali. "Yah kok hujan sih? Gimana nih pulangnya?"


"Ya udah tungguin aja sampai hujannya reda nanti kalau misalkan gak reda gue anterin mau balik pakai mobil."


"Lo bisa bawa mobil?"


"Ya bisalah gue bawa mobil. Lo belum pernah lihat gue bawa mobilkan pasti keren banget?"


Mamanya Mario pun keluar dan berdiri di samping Mario. "Kalian kenapa masih di sini ayo buruan anterin temen kamu naik mobil aja!"


"Tante punya payung enggak?"


"Jangan bilang lo mau pulang pakai payung?"


"Jangan, jangan pulang bawa payung. Biar Mario yang nganterin Kamu naik mobil."


"Nah itu baru ide yang bagus." Mario pun masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil dan menghantarkan kami pulang ke rumah.


------


Akhirnya sampai juga ke rumah dan dalam keadaan hujan untung aja Mario punya mobil kalau nggak bisa-bisa kehujanan sampai saat ini.


"Lo pulangnya hati-hati ya jangan ngebut-ngebut soalnya jalanan licin. Jangan lupa untuk berdoa sebelum berjalan. Makasih banyak ya udah anterin gue balik!"


"Sama-sama makasih juga udah ngajarin gue tadi semoga nilai gue memuaskan ya nanti di sekolah."


Mereka melambaikan tangan masing-masing Tania masuk ke dalam rumah dan mobil Mario melaju untuk pulang ke rumah.