
Tatapan Mario begitu tajam sekali ke arah Bagus. Menurutnya Bagus terlihat sekali seperti orang yang sedang menantang ia pun langsung panas dan berdiri. Menghampiri Bagus yang ada di sana. "Mau kemana lo?" Ucap Juan yang melihat gerak-gerik Mario yang ingin mendekat ke arah Bagus.
"Ngapain sih berantem di kelas ntar malah ribut dan urusannya bakalan panjang." Mendengar hal itu Mario langsung saja mengundurkan diri dan ia mengambil tasnya lalu keluar dari kelas.
Ia melihat Tania keluar dari kelasnya. "Tania." Panggilnya dari depan kelas menyilangkan kedua kaki. Langkah Tania pun langsung terhenti ketika panggilan itu terdengar dari seseorang yang memanggilnya.
"Pulang bareng sama gue yuk?" Dengan cepatnya Tania menggeleng ia pun langsung saja melangkah keluar dari pintu gerbang. Tidak sampai di sana mereka pun langsung saja mengikutinya dia bergegas untuk membawa motornya keluar dan menyusul Tania yang berjalan kaki.
"Lo enggak denger apa gue ngomong apaan? Lo kenapa nggak mau pulang bareng sama gue kenapa sih lu susah banget buat maafin gue pada cuma gara-gara kecebur kemarin aja emang gak boleh apa temenan sama lo. Oh jadi presepsi loh kalau misalkan ada orang yang nolongin lo tiba-tiba benci gitu aja?"
"Kenapa malah diam jawab gue nanya ini sama lo. Lo nggak denger apa?" Ucapan Mario sedikit tinggi yang membuat Tania seakan-akan tidak peduli dengan siapa lawan bicaranya hari ini.
"Kalau bukan masalah itu kebakaran sama sekali nggak bakalan deketin lo cewek cupu?" Batinnya dalam hati yang terus berusaha untuk mendapatkan perhatian Tania kembali karena kalau misalnya ia menyerah maka semuanya bakalan gagal dan ia bakalan kalah dari taruhan tersebut.
"Hei lo nggak denger apa?"
"Lo kenapa sih maksa banget?"
"Ya gue pengen berteman sama lo masa nggak boleh sama sekali sih?" Alisnya sedikit naik ke atas. Dia menunggu Tania untuk duduk di belakang. Tania sama sekali menolak dia pun terus saja berjalan dan Mario pun juga tidak pantang menyerah untuk mengajak Tania untuk berboncengan dengannya.
***
Dan...
"Astaga maaf banget!" Mario langsung saja mematikan sepeda motornya dan turun melihat keadaan Tania yang tiba-tiba merasa sakit di bagian betisnya.
"Makanya kalau misalkan orang enggak mau enggak usah dipaksa. Cewek cupu kayaknya udah biasa kok pulang sendirian sampai rumah pun juga nggak apa-apa lo kenapa sih sekarang tuh berubah banget jadi tiba-tiba ngekang gue banget dan tiba-tiba lo perhatian banget. Apa sih yang lo mau dari gue gue tuh nggak punya apa-apa gue juga nggak cantik dan gue juga nggak menarik. Kenapa kamu mau temenan sama gue sampai-sampai lo kayak gini?" Mario langsung saja terdiam dengan ucapan Tania mungkin sebentar lagi Tania kan tahu kalau misalkan taruhan itu bisa diberitahukan kepada Tania maka kan ia katakan yang sebenar-benarnya dan mengakhiri semuanya karena ia sudah muak dengan semua ini tapi karena ego yang terlalu tinggi untuk menginginkan sesuatu maka Mario tetap meredam amarahnya dan berpura-pura perduli dan mau berteman baik dengan Tania.
"Lo jujur aja deh sama gue sekarang mau lo apa sih dari gue? Atau ada sesuatu hal yang lu pengin sama gue sampai-sampai lo kayak gini? Gue sakit banget pas lo pertama itu pura-pura baik sama gue gue nggak tahu ya pura-pura baik atau apa. Gue tahu banget kok benci banget sama gue dan temen-temen gue lo sering beli juga tapi kenapa sekarang lo tiba-tiba baik dan seakan-akan posesif banget pasti ada sesuatu hal yang lo sembunyiin dari gue kan?"
"Gue cuma pengen berteman sama lo gue pengen berubah menjadi lebih baik dan gue pengen perbaikan nilai-nilai gue supaya gue nanti lulus dengan baik juga nggak ada maksud apa-apa kok gue."
"Gue bukan siswa yang pintar di sekolah tapi gue belajar untuk dapetin sesuatu hal yang baik untuk dapetin nilai yang bagus. Kalau misalkan lo mau dapat nilai yang bagus ya lo belajar bukan karena gue tapi karena keinginan lo dan usah lo sendiri." Ucap Tania sambil memegangi betisnya yang masih terasa sakit. Maria pun dengan cepat langsung saja memegang kedua tangan Tania.
"Gue pengen berteman sama lo jangan larang-larang gue buat gak bisa temenan sama lo. Gue tahu gue salah tapi gue bisa perbaiki semuanya? Bisa pegang ucapan gue kan?" Suara itu berubah menjadi suara yang lebih lembut dan lebih rendah membuatkan ia tidak marah seperti tadi. Kejadian berubah menjadi 180° seakan-akan Tania lah yang memegang kendali. Biasanya dulu Mario yang memegang kendali sekarang tidak karena masalah taruhan itu.
Mario yakin banget kalau misalkan Tania diperlakukan dengan baik dengan lemah lembut maka rencananya untuk mendapatkan itu berpeluang besar. "Nggak usah dekat-dekat lagi ya sama Bagus. Gue nggak suka. Udah gue anterin pulang aja ya ntar kaki lo tambah sakit kalau jalan." Ia membantu Tania untuk berdiri.
"Apa lo suka sama gue?" Pertanyaan macam apa ini pertanyaan asal yang dilontarkan oleh Tania tidak mungkin tiba-tiba saja Maria suka dengan cewek cupu seperti dirinya sedangkan mantan-mantan dari Mario cantik-cantik yang berbanding terbalik.
Ia tertawa sebentar lalu meralat ucapannya kalau misalkan itu cuma pertanyaan konyol yang ia lontarkan. "Iya gue suka sama makanya gue deketin lo." Kedua mata Tania terbelalak ketika mendengar Mario mengatakan itu ia tidak salah dengar kah dengan ucapan ini? Apa ini adalah sebuah mimpi? Ia menepuk-nepuk kedua pipinya kanan dan kiri seakan ucapan itu hanya cuma sekedar halu dan khayalan belaka.
"Gimana udah percaya sama ucapan gue?"
"Gue nggak percaya sama ucapan loh mana mungkin cowok ganteng kaya lo cowok populer yang tiba-tiba suka sama gue nggak mungkin sama sekali. Oke gue terima permintaan maaf lo soal kemarin tapi kalau masalah suka atau enggaknya gue sama sekali enggak percaya."
Mario langsung saja terkekeh dia merasa tertantang dengan pertanyaan itu. "Oh jadi lo butuh bukti supaya lo percaya dengan ucapan gue? Asal lo tau ya gue enggak pernah yang namanya main-main dengan ucapan dua sendiri gue selalu serius kadang orang-orang aja yang gak percaya." Tegasnya yang menekankan setiap kata yang ia ucapkan. Mario pun menyalakan motornya untuk menyuruh Tania duduk di belakang.
"Ya udah jangan pakai gengsi gue anterin lo balik."