Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 10. Bohong & Menghindar



Vita mengajak Tami berangkat lebih dulu ke sekolah untuk melakukan akal bulus nya. Tapi sebelum mereka ke sekolah Vita membeli permen karet yang sengaja ia beli dan ia taruh di bangku Tania. "Udah buruan cepet. Entar kita terlambat kita bakalan telat nantinya keburu banyak orang di sekolah."


Vita dan Tami langsung saja masuk ke dalam mobil untuk menuju ke sekolah. "Pokoknya lo harus ngelakuin ini dan jangan sampai ketahuan siapapun di luar sana oke?"


"Tenang aja gue bakalan ngelakuin apapun yang lo suruh dan pokoknya kita bakalan senang banget si cewek itu ngejauh dari mantan pacar lo."


"Banget sih Vita berangkatnya pagi?"


Tanya sopir Vita yang setiap hari mengantarkan ke sekolah.


"Ada tugas dari sekolah pak makanya berangkatnya agak pagi."


 


Diam-diam Vita dan Tami menaruh permen karet kebagian bangku Tania. "Buruan entar dia datang!"


"Iya sebentar lagi selesai kok."


"Udah ah udah selesai." Vita dan Tami pun keluar dari kelas, mereka memutuskan untuk menuju ke arah kantin agar tidak ketahuan mereka berada dalam kelas dan bisa-bisa tuduhan itu akan melayang ke arah mereka. Mereka berlari ke kantin untuk menghilangkan jejak mereka yang seolah-olah permen karet itu sudah ada di bangku Tania.


Di kantin,


"Kira-kira yang bakalan kaget gak sih ada bekas permen karet di rok dia?"


"Gue yakin banget dia bakalan kaget dan malu dan gak mau pulang bareng sama Mario."


"Tapi kalau misalkan Mario masih mau pulang sama dia gimana?"


"Ya nggak akan mungkin lah palingan dia pulang sama kedua temannya yang cupu juga."


***


"Lo kenapa kok tiba-tiba kayak kelengketan gitu?"


"Coba lo berdiri deh?" Ketika hendak berdiri baru saja ketahuan ada bekas permen karet yang menempel di rok Tania pantas saja ia merasa tak nyaman tadi.


"Astaga ada bekas permen karet yang nempel di rok lo. Siapa sih yang jelek banget kayak gini bisa-bisanya ngelakuin kayak gini tega banget."


"Lo mau apa biar dibeliin deh ke kantin?"


"Beliin gue air minum ya gue harus banget nih." Sekar dan Giska pun mengangguk mengikuti kemauan dari Tania.


Sekar dan Giska benar-benar mengomel dengan sikap seseorang yang sengaja menaruh permen karet di bangku Tania padahal Tania tidak pernah berbuat salah kepada siapapun. "Gue yakin banget pasti ada orang yang jahil ngelakuin ini nggak mungkin tiba-tiba permen karet ada di bangku Tania nggak sih menurut lo ini ada hubungannya sama yang dilakukan Vita kemarin nggak?"


"Iya sih bener buktinya aja dia nggak suka kelihatannya kalau Tania deket-deket sama Mario padahalkan Mario sendiri yang deket-deket sama Tania."


"Susah ya kalau misalkan ada cewek yang susah move on!"


Mario, Kevin dan Juan sudah ada di kantin. "Pacar lo yang cupu ini?"


"Gue juga nggak ngurus dia dimana? Emang urusan gue buat ngurus cewek cupu kayak gitu?"


"Itu mah menurut versi lo kalau gue mah suka orang yang enggak mudah jatuh cinta sama orang. Tapi kalau udah jatuh cinta banget gue nggak akan pernah lepasin orang tapi harusnya selevel juga sama gue yang kayak, yang populer dan yang pastinya adalah yang sederajat sama gue bukan cewek yang lo bilang lagi itu mah cuma mendapatkan apa yang gue mau doang!" Dengan tegas Mario mengatakan hal itu kepada Kevin agar temannya satu ini tidak mengolok-ngolok atau mengejeknya.


***


Dari tadi Mario terus saja mengecek jam tangannya ia tidak kelihatan Tania keluar dari kelas. Tak mungkin Tania keluar gue yakin banget pasti ada orang yang jahil ngelakuin lebih dulu padahal kelas yang lebih dulu keluar adalah dirinya seharusnya tapi tidak melihat sama sekali. "Kenapa dia nggak keluar-keluar ya sampai sekarang?"


"Apa dia udah pulang duluan? Ya udah deh gue samperin aja ke kelas dia kali aja dia masih di dalam kelas." Ide yang bagus Mario pun langsung saja ke kelas dan melihat apakah Tania ada di dalamnya.


Mario melihat Tania, Sekar dan Giska ada di kelas yang seharusnya mereka sudah pulang ke rumah karena ini jam pulang waktu ke rumah. Tania memberikan kode kepada Sekar dan Giska agar tidak mengatakan sesuatu apapun kepada Mario. "Kok lo nggak pulang ke rumah sih? Kenapa masih ada disini?"


"Nggak papa kok lo pulang aja. Maaf banget ya gue hari ini nggak bisa pulang bareng sama lo."


"Ngusir gue sih? Gue kan pengen pulang bareng sama lo biasanya kita juga pulang bareng? Kenapa lo tiba-tiba kayak gini?"


"Nggak papa kok pengen bareng sama mereka aja." Senyum Tania yang tidak sempurna Mario merasa ini ada hubungannya atau ada kaitannya dengan tumpahan bakso waktu itu di kantin bisa saja Tania ngambek atau marah dengannya karena mungkin ini gara-gara Mario.


"Apa gara-gara tumpahan bakso kemarin yang bikin lo marah sama gue?" Sebenarnya ini tidak ada kaitannya sama sekali namun kemarin langsung saja ke arah sana karena kebetulan juga kejadian itu terjadi.


"Nggak kok nggak ada hubungannya sama sekali hari ini gue emang udah janjian aja sama mereka berdua."


"Emang benar kalian udah janjian sama Tania?"


"Iya."


"Ya udah deh kalau gitu gue pulang aja langsung." Ucap Mario yang mengiyakan ketidakmauan dari Tania.


Sekar mengintip melihat apakah Mario sudah keluar dari pintu gerbang tersebut.


"Ya udah lo pakai jaket gue aja supaya nutupin permen karet itu."


"Gue pinjem punya lo ya nanti gue cuci di rumah." Hampir setiap hari Giska memakai jaket ke sekolah.


Tania pun mengikatkan jaket tersebut ke bagian pinggangnya untuk menutupi bekas permen karet yang ada di belakang itu agar tidak membuatnya malu ketika nanti pulang ke rumah. Mereka lebih dulu berjalan di depan dan Tania di belakang agar tidak malu sebagian siswa atau siswi sudah bertebaran keluar dari sekolah hanya beberapa bagian saja yang tersisa. "Kata lo Mario nggak ada di situ kok bisa ada di sini sih?"


"Gue tadi ngelihat dia tuh nggak ada di sini? Kenapa tiba-tiba ada dia di sini ya?"


Dengan terpaksa mereka harus melewati di mana Mario berdiri karena hanya itu jalan utamanya tidak ada jalan yang lain. Mario melihat jelas sangat jelas sekali Tania memakai jaket di pinggangnya tak biasanya seperti itu ia pikirkan ia sedang PMS dan tembus makanya Tania malu buat pulang bareng itulah pikirnya.


"Kok ada jaket di pinggang sih?"


"Lo lagi PMS ya?"


"I---iya gue pms."


"Ya udah pulang bareng sama gue aja biar sampai cepet."


"Jangan, jangan, jangan nanti motor lo bakalan kotor kena darah menstruasi gue. Gue nggak papa kok pulang sendiri beneran!"


"Mau darah itu jauh keluarnya banyak? Karena gue jalan kaki? Ya udah gue anterin aja ntar gue bersihin bisa kok lagian cepet juga pulangnya naik motor dari pada jalan kaki tambah bikin malu gimana?"