Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 107. Istimewa



Suara klakson terdengar dari sangat nyaring banget ketika Tania sudah memakai baju yang diberikan oleh Leo yang cukup lumayan mahal dan sangat mudah sekali untuk ia kenakan apalagi hanya sekedar bertamu ke rumahnya tersebut.


Ia dengan cepat menarik nafas lalu keluar dari kamar dan orang-orang yang ada di rumah benar-benar sangat pangling banget dengan penampilannya hari ini.


Leo pun masuk ke dalam rumah dengan meminta izin kepada kedua orang tua untuk membawa Tania sebentar untuk mampir ke rumahnya dan ternyata diperbolehkan untuk ke rumah.


Leo membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Tania yang termasuk ke dalam mobil. "Kamu kalau misalkan masuk ke dalam rumah saya dan dilontarkan apapun pertanyaan sama mama saya kamu langsung mengangguk aja ya dan jangan ada penjelasan yang kayak gimana soalnya nanti bakalan kerja kalau misalkan kayak begitu!"


"Iya Pak, pokoknya saya sesuai dengan anjuran pak Leo aja!" angguk Tania.


Tania tampak malu-malu sekali ketika ingin masuk ke dalam rumah Leo. Rumah yang sangat begitu besar untuk kesekian kalinya melihat orang-orang kaya yang masuk dengan gampangnya ke dalam rumah mungkin karena mereka sudah sangat terbiasa sekali ketika masuk rumah mereka sendiri jadi tidak ada merasa kagum seperti orang yang baru saja menginjakkan pertama kali.


Akhirnya sampai juga di rumah Leo yang sangat besar sekali ia pun dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah ketika satpam sudah membukakan pintu gerbang dengan sangat lebar karena ada suara mobil yang masuk. Sebelum masuk ke dalam rumah lewat sudah mewanti-wanti Tania agar tidak mencurigakan nanti ketika berada di dalam rumah.


"Ya udah kalau gitu silakan masuk aja nggak usah malu-malu dan nggak usah bingung-bingung saya udah bilang kan sama kamu kamu jangan ngerasa orang lain anggap aja kita ini udah pacaran dari lama dan ini udah rahasia kita berdua aja oke!" Leo pun memanggil kedua orangtuanya yang ada di dalam kamar atas dengan cepat ia menaiki anak tangga dan juga mengetuk ketika kedua orangtuanya turun dari dalam kamar jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelum-sebelumnya karena rasanya deg-degan banget.


Mereka pun melebarkan senyum ketika Tania sudah berdiri menyambut mereka sang tuan rumah yang baru saja keluar dari kamar, dengan cepat salah satu orangtua Leo mendekat kepada Tania dan sangat bahagia banget ketika Tania datang ke rumahnya walaupun penampilannya sangat elegan tapi sederhana banget.


"Oh iya kamu ini adalah pacarnya Leo bukan sih?"


Jadi sebenarnya Tania juga pernah ke rumah lewat tapi hanya sebentar tidak mengobrol seperti sekarang yang sedikit agak intens dan sedikit agak lebih dekat, Leo yakin banget kalau misalkan ini adalah hal yang paling baik untuk bisa menghindar dari mantan pacar yaitu Sarah yang sudah membuatnya sakit hati dan bahkan trauma tentang percintaannya. Mereka saling mengobrol satu sama lain membuat Tania berusaha untuk bersandiwara sebisa mungkin agar menjadi situasi yang sangat benar-benar nyata padahal ini hanyalah sederhana yang di rekayasa.


Kedua matanya benar-benar sangat membulat sekali ketika mendengar Leo mengatakan mereka berdua sebentar lagi akan bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. "Ya ampun kenapa tiba-tiba kayak begini ya? Kok gue malah disuruh buat segera menikah sih ya ampun kenapa tiba-tiba kayak begini? Gimana kalau tiba-tiba aja Mario tahu kalau misalkan masalah begini?"


Asisten rumah tangga membuatkan minuman di dapur untuk tamu yang sengaja datang ke rumah dan tamu spesial itu adalah tamu spesial.


"Ya ampun kalian berdua ngomongin apa sih kok kayaknya serius banget!"


"Jadi Mama tuh pengen banget kalau misalkan kalian tuh segera untuk tunangan biar pacar kamu ini nggak lari kemana-mana dan cari laki-laki yang pengen serius sama dia!"


"Hah? Kok bisa secepat itu sih dalam menentukan ini kan kita baru menjalin hubungan kenapa langsung tiba-tiba mau menikah aja udah mau tunangan aja nggak bisa kayak begitu lah!" Leo juga sangat terkejut banget padahal rencananya selama ini untuk menghindari sebuah pertanyaan-pertanyaan dari kedua orang tua dan juga keluarga kenapa malah seperti ini dan semakin rumit.


"Sudahlah santai aja dan gak usah berpikiran yang kayak gimana intinya adalah kalian itu tenang aja sebentar lagi mau bakalan telepon orang yang bakalan ngurusin ***** bengek kalian berdua oke!" Dengan cepat ia pun pergi dan meninggalkan mereka berdua lalu mengobrol di panggilan telepon dan membuat Tania dengan cepat pula menanyakan hal ini kepada Leo apakah sudah direncanakan atau tidak.


"Saya sebenarnya juga nggak tahu kenapa tiba-tiba aja mama ngomong kayak begitu sama kamu dan sama saya," ucapnya udah bener merasa terkejut sekali ketika Mama mengatakan hal itu kepadanya. Ia pun dengan cepat menghampiri Mama yang masih menelpon seseorang yang tidak ia ketahui tapi mama malah menyuruhnya untuk menjauh dan memberikan kode dengan tangan tepat di wajahnya agar tidak ikut campur dengan rencananya hari ini dan Leo pun kembali kepada Tania yang sedang duduk di ruang tamu dengan tangan yang sangat gemetar dan pikiran sudah ke mana-mana.


"Kenapa mama jadi gabah kayak begini sih kenapa jadi kayak begitu ya ampun!" Akhirnya mama selesai juga mengobrol kepada orang yang ada di panggilan telpon tersebut lalu ikut bergabung dengan mereka berdua dengan menampilkan aura tersenyum dari wajahnya.


"Alhamdulillah semuanya sudah lancar dan sudah baik-baik aja jadi kalian tenang aja ya kita bakalan percepat acara nanti kalian berdua!"


"Loh kok Mama malah mengambil keputusan kayak begitu sih ya ampun yang menikahkan bukan Mama tapi kami berdua?"


"Menikah Pak?"


"Lah kalian ini lucu sekali sih sebentar lagi kan kalian bakal menikah kenapa kamu malah memanggil Pak? Panggil sayang atau Mas saja ya. Gak sopan dan gak enak kedengarannya kayak begitu!"


"Em, soalnya saya belum terbiasa tante makanya kayak begitu deh," ujar Tania dengan mengaitkan kedua tangannya dan juga tangan yang sangat gemetar sekali untuk menjawab ketidak pura-puraan ini yang seakan bener-bener nyata.


"Ah santai aja nggak usah grogi grogi anggap aja kayak rumah sendiri dan nanti 'kan kalian bakal tinggal di rumah ini juga!" Leo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan sikap mama yang bener-bener ambisius banget kalau dirinya akan segera menikah.