Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 42. Pertemuan Bagus & Vita



Selangkah lebih maju langkah Vita untuk meyakinkan Bagus.


"Gue langsung aja ya blak-blakan kalau misalkan lo tau nggak sih Mario itu menjadikan Tania cuma hanya dari bahan taruhan doang." Mendengar bahan taruhan Bagus terkejut sekali dengan ucapan Vita kenapa malah orang baik seperti Tania yang dijadikan cewek taruhan kenapa tidak cewek yang lain aja yang bener-bener sama dengan Mario.


"Loh kok bisa sejahat itu sih sama orang emang Tania salah apaan? Sumpah bego banget gue nggak nyangka tau nggak sih kalau misalkan Mario kayak gitu aku udah nyangka banget kalau misalkan tuh dia nggak baik berteman dengan Tania nggak mungkin banget dia tulus kok tau dari mana kalau misalkan Maria cuma ngejadiin Tania cewek taruhan?" Bagus tak mau percaya begitu saja ucapan dari Vita, ia ingin perempuan yang ada dihadapan yang sekarang ini tidak berbohong dan tidak berdusta sama sekali dia tidak mau dikalah bui oleh hal-hal yang tidak penting.


"Gue gak bukti sama sekali, karna waktu itu HP gue lowbat jadi nggak bisa kasih bukti lo sekarang tapi gue janji dan gue bakalan kasih tahu loh kalau misalkan apa yang kau ucapkan ini bukan sesuatu hal yang bercanda tapi sesuatu hal yang serius!" Tegas dengan penekanan nada suara yang begitu tegas dan tanpa bergetar sama sekali menunjukkan kalau misalkan apa yang dia ucapkan itu adalah sesuatu hal yang benar tidak dibuat-buat dan tidak berbohong sama sekali.


"Tapi apa yang lo bilang ini adalah sesuatu hal yang seriuskan, gue tekankan sekali lagi karena gue belum percaya sama lo 100% Vita. Lo tahu sendiri kan gue sering bully gue dulu jadi gue belum percaya 100% sama lo?"


Vita tertawa dengan ucapan dari Bagus. "Ya manusia kapanpun bisa berubah kenapa lo nggak percayaan banget sama gue? Emang gue seekstrim itu apa enggak bisa berubah sama sekali menjadi orang yang jauh lebih baik? Emang gue alien?"


"Ya udah gue mau untuk ngebantuin lo deket sama Mario lagi dan gue bakalan deketin Tania gue nggak mau kalau misalkan Tania disakitin ya walaupun gue nggak suka sama dia tapi seenggaknya gue juga sama-sama punya hati cewek dan cowok cupu yang harus dihargai juga." Jawab Bagus yang sudah berubah pikiran.


"Oke!" Vita julurkan tangannya untuk bersalaman kepada Bagus sebagai tanda deal mereka mereka bekerja sama satu sama lain agar saling menguntungkan.


"Ya udah nomor kemarin tuh disimpan aja ya jangan mempertanyakan dapat dari mana gue nomor lo!"


Tertebaklah ternyata kalau misalkan orang yang mengirimkan pesan teks tersebut itu adalah Vita, pantes aja kecurigaan Bagus benar dan tidak meleset kalau misalkan itu Vita.


***


Karna sudah termakan dengan ucapan Vita ia pun sengaja untuk merapikan bukunya dengan cepat dan keluar dari kelas menghampiri langsung saja kelasnya Tania ia melihat Mario masih mengobrol dengan kedua sahabatnya di kelas maka dari itu ia harus mencuri start terlebih dahulu.


Bagus memanggil Tania yang baru saja keluar dari kelas ia baru saja selesai mengobrol dengan Sekar dan Giska. "Hei pulang duluan ya kalian hati-hati pulangnya!"


"Iya lo ha-----" Giska menunjuk seseorang yang sedang menunggu di depan kelasnya siapa lagi kalau bukan Bagus orang kedua setelah Mario yang menunggu Tania di depan kelas.


"Kita pulang bareng yuk gue pengen ngajakin lah buat sharing-sharing gitu atau kerja kelompok itu mau nggak ya walaupun kita enggak satu kelas?" Bagus seakan aneh untuk mengucapkan hal ini kepada Tania.


"Oke deh." Tania akhirnya mau, tapi perjalanan mereka tidak semulus itu tiba-tiba saja Mario mendekat dan melihat kenapa ada Bagus di kelas atau di depan kelas Tania.


"Hei kenapa lo ada di sini Tania pulang sama gue ya bukan sama lo!" Tak terima kalau misalkan ada seseorang yang mendahuluinya padahal biasanya ia yang sering bareng sama Tania.


"Lo kenapa sih jadi cewek tuh perempuan banget sama cowok ini mau sama cowok itu mau ya nggak bisa kayak gitu lah harus komitmen satu sama lain paham nggak sih maksud gue apa?" Tuntasnya yang emosi.


"Lo tahu kan kalau misalkan kita itu lagi pdkt kenapa lo malah sama cowok yang lain bukan sama gue? Gak bisa pokoknya lo harus sama gue pulangnya harus sama gue jangan sama cowok ini lu nggak bakalan malu kalau misalkan pulang sama gue karena gue jauh lebih keren daripada dia?" Tunjuk Mario yang blak-blakan menunjuk ke arah Bagus, sama sekali tak perduli kalau misalkan cowok yang ada di samping Tania itu tersinggung.


"Udah kalian jangan berantem deh gue nggak pantas untuk direbutin, dan dengerin ya Mario lo itu bukan pacar gue jadi lo nggak berhak untuk ngatur-ngatur hidup gue mau pulang sama siapa dan dengan siapa?"


"Sial, sok cantik banget cewek yang ada di depan gue sekarang! Lo pikir gue suka sama lo ya nggak lah gue cuma taruhan doang nggak jadi nggak buat jadi bahan taruhan bukan gue suka beneran mau lo sama siapa sih kek gue nggak peduli sama sekali!" Batin Mario yang gedek sekali dengan ucapan Tania, ia juga sama sekali nggak suka dengan sosok Tania apalagi penampilannya enggak yang oke banget. Sabar dulu, sabar! Semua akan berakhir ketika 30 hari dan mendapatkan hadiah yang ia inginkan tapi sabar dulu nggak bisa semuanya ini meledak begitu saja untuk ia ungkapkan kepada Tania bisa-bisa ia gagal dan Kevinlah yang ngedapetin hadiahnya nanti.


"Oke, lo tinggal pilih aja gue atau Mario?" Tania terdiam sejenak atas pertanyaan dari Bagus, ia bingung harus memilih siapa padahal ia bukan tipe cewek yang harus memilih salah satu. Ia tak mau ada pertengkaran diantara mereka berdua mereka harus berteman karena mereka satu sekolah dan seangkatan gak boleh ada yang namanya perselisihan atau pertengkaran.


Dari kejauhan Vita hanya melihat yang seolah-olah seperti pertunjukan.


"Loh kok mereka pada ngerebutin Tania sih sok iya banget tuh orang cantik juga enggak?" Tapi pertunjukan ini seolah-olah membikinnya candu dan terus memperhatikannya. Mario dengan gesit menarik tangan Tania untuk pergi karena ini nggak penting banget untuk direbutin karena ialah yang pemenangnya karena ia yang lebih dulu mengambil Tania atau mendekati Tania bukan bagus yang baru-baru sekarang baru deket.


"Udah pulang aja sama gue karena gue bisa kasih kebahagiaan buat lo!" Tegas Bagus, ia menyenggol bahu Bagus dengan cepat ia yakin ia tidak takut dengan siapapun yang mendekati apapun itu.


"Ah kenapa gue nggak bilang aja ya kalau misalkan Mario ngedeketin dia karena taruhan?" Pikirnya, ia jelas sekali kalau misalkan iya katakan ini kepada Tania maka Tania akan menjauh dari Mario karena ia dekat bukan karena tulus tapi dekat karena sesuatu. Ia melihat langkah Tania dan Mario semakin jauh dari langkahnya.


"Makanya jadi cewek tuh jangan plin-plan kalau misalkan sama gue ya gue aja nggak usah sama cowok yang lain ngerti kan maksud gue apa?" Mario menggenggam tangan Tania begitu erat sekali sampaikan ia tidak bisa melepaskan itu dengan waktu singkat.