
Setelah kejadian yang kemarin Giska dan Juan terlihat salah tingkah satu sama lain tapi mereka tidak pernah menunjukkan itu berdua karena masih terlalu muda untuk memberitahukan kalau misalkan mereka mulai dekat. Pandangan Giska dialihkan oleh Sekar yang tiba-tiba meninggalkan pandangan nya secara nggak langsung.
"Lo kenapa sih kok masih di situ?" Tarik Sekar yang melihat Giska yang sedang berdiri di posisinya. Giska pun kelabakan dengan ucapan dari Sekar ia pun menjalankan langkahnya dan mengikuti Sekar yang ada di depan.
"Sebenarnya siapa sih yang lo liatin? Ayo lo ngaku naksir ya sama Juan?" Tunjuk Sekar yang langsung ditutup mulutnya oleh Giska karena ia tidak mau terdengar oleh siapapun walaupun benar ia suka ia hanya ingin orang-orang yang terdekatnya saja yang tahu.
"Apaan sih, siapa yang naksir sama Juan? Lo jangan ngadi-ngadi ya!" Tolak Giska yang menolak pernyataan hal tersebut.
Mario menepuk bahu Juan seakan-akan ingin mengejeknya. "Lo kenapa jadi bengong begini sih? Tumben banget ada apa nih?"
"Apaan sih gue sama sekali nggak bengong lo kenapa sih tiba-tiba ngagetin gue kan jadi kaget banget!" Kejutnya.
Mario tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya atau temannya yang terkejut sekali.
"Oh iya gue boleh nanya sesuatu nggak sama lo kenapa sih sampai sekarang lo belum nembak-nembak Tania juga?"
"Ya santai lah nggak usah terlalu terburu-buru itu anak orang bukan burung yang harus ditembak jadi harus santai aja dulu ya nggak sih?"
"Haha gue tahu kok alasannya kenapa lo enggak nembak-nembak Tania kan udah nyaman kan dengan posisi ini dan lu enggak mau mengakhiri ini semua padahal bentar lagi waktunya bakalan selesai ya nggak sih?"
"Kenapa bikin gue emosi aja ya nggak kayak gitu juga kali!" Emosinya sedikit memuncak.
***
Bagus melihat Mario yang mulai mendekat ia pun melangkahkan kakinya lebih cepat. "Hei kenapa sih ih ngeliatin Tania gitu mulu emang lo siapa sebenarnya sok ganteng banget?"
"Ya siapa sih yang sok ganteng lo kali yang sok ganteng gue mah tuh sukanya sama orang lain." Bagus mulai berani dengan Mario.
Bagus pun mulai berani kepada Mario seolah-olah Mario tidak terima karena orang yang populer dan orang yang paling berani itu adalah dirinya sendiri bukan orang lain. "Udah ngapain lo jangan bikin cari ribut di sini kalau misalkan pengen ribut di luar nggak usah di sini?"
"Apaan sih? Siapa coba yang cari ribut sama lo, lo aja yang ngerasa gue cari ribut sama lo?" Mario sudah mengepal kedua tangannya ingin menghantam wajahnya dengan cepat tapi ia sadar kalau misalkan ini masih di sekolah jadi harus menahan emosinya agar tidak terjadi dan bisa sesuatu itu berurusan panjang.
Setelah Mario pergi Vita langsung saja menghampirinya. "Kenapa? Kenapa lo kayak marah-marah gak jelas juga. Kenapa? Ayo cerita aja sama gue!" Ajak Vita kepada Mario.
Menatap dengan datar. "Gue pengen ngajak lo buat kerja sama?"
Vita pun berbisik di telinga Bagus, tentang sebuah rencana ia melihat ekspresi Bagus begitu tegang sekali dan tidak menyangka. "Gimana lo mau gak? Kalau emang lo suka sama Tania ya udah lo ikutin aja kemauan gue apaan gue bakalan bantuin lo dan lo juga harus bantuin gue nantinya! Gimana deal?" Vita menjulurkan tangannya untuk persepakatan dengan Bagus.
"Jadi gimana?"
"Gak bisa gue sama sekali nggak suka sama Tania gue cuma pengen berteman baik sama Tania itu aja gak lebih kok. Kalau lo mau ya udah lo aja gue gak mau ikutan!" Sahut Bagus begitu saja yang langsung saja pergi meninggalkan Vita. Karna belum merasa puas Vita pun langsung saja mendekat dan menahan Bagus agar ia mau mengikuti kemauannya karena ia yakin kalau misalkan mereka bekerja sama otomatis mereka bisa merencanakan semuanya dengan baik dan benar karena mereka bekerja sama.
"Jadi gimana? Tunggu dulu! Gue bakalan kasih waktu kalau untuk bisa wujudin semuanya gue yakin semua bakalan terwujud kalau misalkan lo mau bekerja sama dengan gue!"
Bagus pun tetap tidak ingin.
***
Melihat kejadian tadi Mario langsung berpikir sepertinya Bagus ingin mendekat kepada Tania. Ia tak mau kalau misalkan cowok cupu yang ada di kelasnya dekat-dekat dengan Tania dan bisa menghancurkan semua rencana yang terjadi bahkan ia tidak mau juga kalau misalkan ya kalah dari taruhan gara-gara Bagus. "Kenapa?"
"Gak papa. Gue pengen kasih tau lo kalau misalkan lu nggak usah deket-deket lagi sama Bagus!"
"Bagus? Kenapa jadi Bagus? Dia selama ini baik sama gue?" Mario hanya diam saja, menikmati udara yang tidak begitu bagus karena cuacanya begitu panas sekali. Tania berpikir ada hal yang aneh di diri Mario kenapa tiba-tiba ia malah melarang untuk dekat dengan Bagus padahal itu sama sekali tidak ada hubungannya dan mereka juga semuanya berteman dengan baik.
"Udah ikutin aja kemauan gue enggak usah banyak ngebantah ntar gue juga yang repot nantinya udah syukur-syukur gue udah mulai baik sama lo!" Sahut Mario dengan begitu cepat sekali.
"Mau nanya boleh? Juan itu tipenya kayak gimana sih orangnya gue pengen nanya deh?"
"Kenapa lo malah nanya tentang Juan? Lo suka sama Juan?" Malah salah sangka.
"Apaan sih, ya enggaklah. Gue cuma mau nanya doang emang ada yang salah dengan apa yang gue tanya? Ya gue cuma pengen nanya doang aja kok. Jadi gimana?"
"Jadi tipe dia itu yang cantik dan yang pastinya menarik karena kan seperti yang kita tahu Juan itu cowok yang ganteng dan cowok yang cukup lumayan pintar di antara kita berdua jadi cewek yang cukup baik untuk biaya adalah cewek yang sepadan sama dia!"
"Oh gitu ya, contoh cewek cantik menurut Juan itu kayak gimana sih yang ada di sekolah kita aja enggak usah jauh-jauh?" Pancing Tania kepada Mario.
"Ya kalau urusan kayak siapa di sekolah juga gue juga nggak tahu sih soalnya gue jarang juga nanya sama dia, dia masalah cewek atau masalah asmara gitu dia sosok yang agak sedikit tertutup jadi gue nggak bisa nanya-nanya gitu. Emang kenapa sih lo malah tanya-tanya tentang dia? Emang lo naksir ya sama dia?"
Tania menyangkalnya dan memastikan kalau misalnya apa yang ditanyakan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Kevin. "Intinya gak ada hubungannya sama sekali."