
"Astaga? Ini apaan?" Kisruh kelas begitu berkecambuk sekali. Ia lebih fokus ke arah Mario yang begitu tegang menatap tulisan yang ada di bawah lacinya ia mengintimidasi satu persatu orang yang ada di kelas siapa pelakunya yang memberanikan diri untuk menaruh tulisan ini di bawah laci mereka masing-masing. Walaupun Mario tak tahu kalau misalkan dirinyalah yang pelakunya tapi ia berusaha untuk santai dan tidak grogi karena bisa-bisa Mario bisa menuduhnya dengan cepat.
"Siapa yang berani melakukan hal ini? Jangan bikin sesuatu yang fitnah ya? Kalau kalian sampai ketahuan gue bakalan gak kasih ampun!" Mario cepat sekali mengatakan hal ini kepada orang-orang yang ada di kelas. Mereka juga bingung apa yang sebenarnya terjadi mereka terkejut sekali karena kalau bisa terjadi seperti ini bahkan kenapa tiba-tiba dari kertas yang bertulisan kalau misalkan Mario yang memanfaatkan Tania sebagai bahan taruhan.
"Lo pada diam semua sih ayo ngaku siapa yang ngelakuin ini semua?" Bentaknya sama sekali tak ada yang menjawab bukannya tak berani tapi emang mereka bukannya melakukan. Perasaan yang selama ini melakukan adalah Mario, Kevin dan Juan saja yang tahu semuanya nggak ada yang lain terkecuali salah satu diantara mereka berdua yang membocorkan taruhan ini. Mario keduanya seakan-akan ia sedang menuduh kalau misalkan salah satu diantara mereka berhianat dan cerita ke orang lain tanpa seizinnya.
"Bukan gue. Gue nggak tahu apa-apa jadi jangan salahkan gue dan lo jangan mantap gue tajam banget kayak gitu seolah-olah gue yang ngelakuin itu semua padahal gue nggak sama sekali tahu!" Ada salah satu diantara mereka yang menyeletuk kepada Mario kalau misalkan apa yang dilakukan oleh Mario ini adalah sesuatu hal yang salah dan Mario dipandang rendah karena rupanya dan perasaannya atau hatinya tidak tampan wajahnya. Ia berharap agar Tania tidak mengetahuinya kalau sampai Tania tau bisa-bisa semuanya gagal dan berantakan sekali.
"Aduh gimana nih? Gimana kalau misalkan Tania tahu ya gue cuma manfaatin dia jadi bahan taruhan aduh kenapa jadi berantakan begini sih pasti ada yang cerita antara Kevin sama Juan?" Batinnya. Mario berinisiatif untuk ke kelas Tania, menanyakan apakah dia sudah tahu atau belum.
Sesampainya di kelas Tania. Tania hanya tersenyum simpul biasa. "Lo...."
"Gue tau kok, nggak usah dekat-dekat sama gue lagi ya. Ternyata lo kalau misalkan sahabatan sama gue temenan sama gue nggak tulus. Mending pergi deh dari sini." Ketika Mario ingin mendekat Giska langsung saja menahannya.
"Udah cukup!" Tahannya. Mereka membawa masuk Tania ke dalam kelas dan arah duduk mereka ke arah lain. Mario pun beranjak ke kelasnya. Ia kecolongan siapa sih pelakunya.
Bagus merasa senang dengan apa yang ia lakukan rasa lega pun menurun drastis dengan apa yang ia lihat dari Mario yakin kalau misalkan Tania sudah tidak respect lagi dan hilang respect terhadapnya. "Ah lo berdua kanan cerita atau lo berdua yang norhin sumpah ya gue nggak nyangka banget deh sama kalian kenapa bisa nusuk dari belakang?"
Ketika Kevin ingin mendekat tiba-tiba saja Mario langsung menolak dan menyuruhnya untuk mengundurkan diri ke belakang. Ia harus mencari siapa pelakunya yang sebenarnya. "Gue nggak percaya sama kalian!" Karna tidak merasa melakukan Kevin pun mengambil kertas tersebut dan memperlihatkan kepada Mario kalau misalkan tulisan yang ada di kertas tersebut itu bukan tulisannya tulisannya kau di buku atau di bandingkan sama sekali beda tulisan yang di secarik kertas itu sedikit lebih rapi dan lebih besar sedangkan tulisan yang ada di bukunya jauh lebih kecil dan acak-acakan. Namun Mario sama sekali tidak percaya begitu saja tanpa bukti yang jelas ia yakin antara Kevin atau jualah yang melakukan tidak mungkin karena hanya mereka yang tahu rencana dan cerita ini tidak ada yang lain.
Mario sengaja datang kembali kerumah Tania membawa sebuket bunga dan coklat. Ia melihat Tania begitu datar sekali dalam menyambut tapi tidak ada kemarahan namun Mario merasa kalau misalkan sikap Tania kepadanya itu sikap marah bukan sikap yang seperti biasanya. "Lo kenapa sih kok ke rumah gue apalagi yang lo tutupin? Gue tahu kalau misalkan hanya bahan taruhan doang kan?"
"Ini apa maksudnya?" Ia sambil melirik ke arah sebuket bunga dan coklat yang tergeletak di atas meja ia sama sekali tidak gr-an atau mabuk kepayang tapi cara mari untuk mendekatinya dengan cara yang salah untuk apalagi ia berpura-pura sok romantis padahal Ia hanya sekedar bahan taruhan dan tidak masuk akal.
Mario menarik napas sejenak untuk memberitahukan kalau misalkan semuanya adalah salah paham. "Gue boleh ngomong sebentar sama lo biar gue jelasin dari awal sampai akhir!"
"Gak perlu sama sekali dijelasin gue tahu gue cukup tapi enggak seharusnya juga gak jadiin gue bahan taruhan gue nggak gila hormat kok tapi gue patut dihargai karena semua orang harus dihargai satu sama lain biarlah bisa dihargain balik juga sama orang tersebut jangan kayak gini dong." Tegas Tania.
"Tapi gue sama sekali nggak ngerti."
"Mending lo bawa balik aja sebuket bunga ini dan coklat lo kasihin ke cewek lain. Gue nggak butuh ini semua aku cuma butuh ketulusan dan kebaikan orang yang pengen berteman sama gue, gue selalu bilangkan sama lo gue paling nggak suka cowok yang bohong nggak usah cari alasan apapun itu. Dan yang harus lo ketahui adalah jangan pernah mempermainkan perasaan orang lain. Karna cepat atau lambat lo bakal nemuin karmanya sendiri enggak dari gue tapi bisa jadi orang lain!" Tania permisi masuk ke dalam rumah membiarkan Mario duduk di teras dan tak menyuruhnya untuk masuk ke dalam untungnya di rumah tidak ada orang sama sekali jadi jangan bebaskan ia masuk kedalam rumah biasanya kalau misalkan ada mah susah sekali untuk mengusir orang karena katanya itu adalah etika kita menyambut tamu walaupun tamu itu kurang baik tapi tetap saja disambut dengan baik.
"Maaf." Sahut Tania. Mario menunduk ini nih hal yang paling ditakuti oleh Mario karena Tania marah, ternyata kejadian ini kejadian semuanya gagal dan semuanya brutal gara-gara yang terjadi di kelasnya. Ia pun menaruh bunga dan cokelat di atas meja teras rumah Tania, lalu pergi meninggalkan rumah Tania.
"Gue bakalan gak menyerah, gue harus bisa balikin semua ke tempat semula ceritanya. Gue belum kalah dan gue masih ada punya kesempatan untuk bisa merubah semuanya."