
Bu guru menyuruh Tania untuk membelikan tisu di kantin. Tania mengangguk dan paham. Ia berjalan keluar dan menutup kembali kelas. Ia tercengang ketika ada seorang laki-laki berdiri di lapangan. "Mario? Kok ada di tengah-tengah lapangan?" Batin Tania yang melihat Mario berada di tengah-tengah lapangan berdiri dan hormat.
"Kenapa?"
"Lagi di hukum." Keringat yang bercucuran sekali turun ke bagian pelipis kanan dan kirinya.
"Oh ya udah." Angguk Tania yang ingin ke arah kantin karna tadi di suruh untuk membeli tisu oleh guru yang mengajar di kelas. Mario menahannya dengan sebentar, ia menunjuk ke arah tisu yang ada di dalam saku bajunya.
"Oh ini." Karna peka ia pun langsung memberikan hal ini kepada Mario.
"Ya ampun baik banget sih jadi orang makasih banyak ya kayaknya udah mulai perhatian deh sama gue dan kayaknya lo udah mulai suka sama gue bener kan?" Dengan percaya dirinya Mario mengatakan hal itu kepada Tania yang membuat geli Tania.
"Ini berdasarkan kemanusiaan doang kok nggak ada maksud yang lebih dan yang lain sudah kalau gitu gue ke kantin dulu ya!" Maria mengangguk lalu sebelum mengangguk ia berbisik kepada Tania yang membuat telinga Tania seakan-akan geli mendengarnya.
"Lo jangan gengsi lagi ya kalau deket sama gue semakin lo gengsi sih semakin gue kejar jadi Lo jangan macam-macam sama gue!" Ia tertawa dan membuat Tania hanya bisa menggelengkan kepala.
Ia memegangi jantungnya tiba-tiba berdebar begitu saja ada apa ini kenapa semakin hari semakin selalu saja berdebar apakah ia sudah mulai jatuh cinta? Ya benar kalau misalkan selama ini Tania pernah menaruh rasa dan bahkan perasaan itu belum berubah sampai sekarang. Tapi biar sadar banget kalau misalkan tak mungkin Mario suka dan bahkan tulus dengan ya pasti ada sesuatu hal yang ia sembunyikan dan ada sesuatu hal yang pengen ia mau dari sosok Tania ini? "Beli tisu ini ya Bu!"
Ia melintas dan Mario masih di posisi yang sama yaitu hormat kepada tiang bendera. Ia menunduk kebawah dan marah. "Hei kok tiba-tiba nyuekin gue gini melintas gitu aja nggak sopan banget menyapa gue lagi?"
"Ada apa?" Singkatnya.
"Lo kenapa? Udah beli di kantin ya? Nanti pulang bareng ya dan jangan lupa juga mampir ke rumah gue soalnya gue pengen minta ajarin nih soal matematika sama lo boleh kan?"
"Insya Allah ya gue nggak janji!"
"Gak papa gue sama sekali nggak bikin lo tertekan kok deket sama gue tapi kalau misalkan udah ngejauh ya gue nggak deket lah!" Godanya lagi.
Tania masuk ke dalam kelas dan memberikan tisu suruhan dari bu guru tadi lalu ia duduk.
***
"Mario!" Obrolan Tania dan Mario pun langsung terhenti karna Vita memanggilnya.
"Kenapa?"
"Gue boleh nanya sesuatu nggak mau bawain tempat makan gue nggak yang waktu nasi goreng itu?"
Vita melirik ke arah Tania yang ada di samping Mario memperhatikan obrolan mereka. "Lo pulang bareng siapa boleh enggak gue ikutan?"
"Gue udah pulang bareng sama Tania gue udah janji sama dia ntar mungkin lain kali ya kita pulang bareng!"
"Yah padahal gue pengen nebeng di motor loh tapi ternyata udah ada orang lain gue sakit perut banget nih boleh nggak gue numpang di motor lo?"
"Gak papa kok kalau misalkan mau nebeng sama Mario gue bisa pulang sendiri jalan kaki."
Mario memberikan kode kepada Tania agar ia tetap bersamanya.
"Gak nanti aja ya gue udah janji sama dia."
"Tania..." Panggil seseorang dari belakang ternyata itu adalah Bagus. Bagus menghampiri mereka bertiga seolah-olah mereka dua pasangan yang sedang saling mengobrol satu sama lain.
"Kenapa?"
"Lo pulang sama siapa bareng sama gue yuk pulangnya mau nggak?"
Pas banget nih kebetulan dan akhirnya Tania pun mengiyakan ajakan dari Bagus. "Ya udah ah ayo kita pulang bareng kayaknya semalam ada beberapa hari yang lalu obrolan kita kurang panjang deh. Ya enggak sih?"
Mario menahan tangan Tania kenapa bisa seperti ini bukankah ketika tadi pas dia dihukum Tania mengiyakannya? "Kenapa sih kok malah pulang sama dia sih bukan sama gue?"
Vita pun menyambar ucapan dari Mario seolah-olah ia mendukung Tania dan Bagus. "Biarin aja kali kalau misalkan mereka pulang bareng kan mereka sama-sama jalan kaki dan gue juga pengen banget numpang sama lo hari ini gue sakit perut nih masa lo tega sih sama temen sendiri sama mantan tempatnya?"
"Lah emang urusan gue ini kan urusan lo sendiri bukan urusan gue sakit perutnya sakit perut lo sendiri bukan urusan gue emang gue siapanya lo?" Vita terdiam seakan Mario sedang membentak dan berkata kasar.
"Kalau gitu gue duluan ya! Yuk Gus!" Mereka berdua pun meninggalkan mereka dan mereka pulang bareng akhirnya. Wajah Mario pun sedikit manyun dan tidak terima ia pun dengan terpaksa membawa Vita pulang bareng dan membawanya pulang ke rumahnya Vita.
"Yes ternyata gue oke banget sih hari ini pulang bareng lagi sama Mario dan mudah-mudahan gue ke depannya bisa balikan sama Mario karena gue masih cinta banget sama dia. Dan kayaknya mereka berdua udah mulai saling suka deh antara bagus dan Vita oke bakal bantu mereka untuk dekat dan bikin mereka pacaran!" Rencananya ucap dalam hati.
Vita duduk di bangku belakang motor. Ya canggung masih ada diantara mereka tapi ia berusaha untuk tetap santai dan tetap tegar seakan-akan seperti biasa aja ketika mereka masih pacaran. Ya walaupun rasa itu sudah berubah menjadi status mantan tapi sampai saat ini dia masih berharap untuk bisa balikan dengan Mario. Balikan sama mantan bukan sesuatu hal yang gengsi gengsian tapi ketika orang udah jatuh cinta banget dan susah untuk melupakan apa salahnya untuk bisa balikan? Itu adalah prinsip dari Vita.
"Langsung pulang aja kan?"
Mario melihat Bagus dan Tania begitu akrab sekali berjalan kaki pulang ke rumah masing-masing. Ya walaupun mereka tidak sejalur tapi seakan-akan membuatnya ingin memisahkan mereka bisa-bisa mereka bisa cilok dan semuanya bakalan runyam dan gagal banget untuk rencana taruhan. Bukan Vita namanya kalau bukan untuk memanas manasi Mario. "Ya ampun mereka cocok banget ya sama-sama frekuensi sama-sama bisa bareng-bareng berdua semoga aja mereka cepat pacaran pengen deh ngeliat kaum jomblo udah nggak jomblo lagi ya walaupun gue juga jomblo mudah-mudahan aja gue bisa balikan sama mantan!" Mario hanya melihat dari kaca spion dan namanya dan bibirnya seolah tidak mengaminkan dari ucapan Vita.