Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 32. Mario Bingung



Di dalam kelas, sebentar lagi bel pulang sekolah akan berbunyi. Vita berencana untuk berdiri di depan kelas Bagus, ia ingin mengatakan sesuatu kepada Bagus. Sedari tadi sama sekali tak pernah berkedip sedikitpun melihat kearah pintu kelasnya yang terbuka. "Duh lama banget sih jam pulang sekolah!"


Tak berapa lama bel sekolah pun berbunyi ya pulang saja merapikan buku-buku yang ada di meja dan siap-siap untuk bertemu dengan Bagus.


Tami ngajak Vita pulang bareng tapi ternyata


Vita menolaknya. "Kita pulang bareng yuk mau nggak kita jalan-jalan ke mall?"


"Ah gue nggak bisa deh mending lu pulang duluan aja nggak papa kan ntar besok besok aja deh gue ada urusan soalnya!" Cengirnya.


"Ah kok lo gitu sih sama gue nggak asik lah!"


"Haha jangan ngambek dong gue kan cuma nggak mau aja hari ini besok deh gue janji bakalan pulang bareng sama lo oke?" Vita merangkul Tami agar temannya itu tidak ngambek. Tami pun pulang ke rumah ah sendirian dengan memanyunkan kedua bibirnya.


Ia pun menunggu di depan kelas dari Bagus sampai keluar untungnya Mario dan teman-teman sudah pulang duluan. "Bagus." Panggilnya seperti itu. Langkahnya langsung saja terhenti mendengar siapa yang memanggilnya itu.


"Lo udah mau pulang ya? Boleh minta waktunya sebentar untuk ngomong sesuatu sama lo?"


"Boleh?" Vita yakin sekali kalau Bagus ini tipe orang yang susah untuk diajak ngobrol maka dari itu ia membuat segala macam cara agar Bagus bisa masuk ke dalam perangkap dan membantunya untuk bisa dekat balik lagi sama Mario.


Vita mengajak Bagus ke pinggiran kelas setelah sepi. "Lo ngomong apa sama gue? Waktu gue nggak sebentar kok?" Ucap Bagus yang gemetar melihat kedua mata Vita.


"Gue pengen kerja sama, sama lo boleh kan?"


"Kerja sama?" Alisnya sedikit naik ke atas.


"Lo naksir kan sama Tania? Ayo ngaku lo!" Tunjuknya dengan asal, Bagus terlihat seperti tersipu malu dengan pertanyaan Vita.


"Nah sebenarnya maksud lo apa sih gue nggak ngerti sama sekali apa ada sesuatu hal yang pengen lo mau dari gue?" Bagus menaikkan alisnya sedikit naik ke atas. Vita mengangguk dengan ucapan yang tersebut seolah mengingatkan dari jawaban Bagus.


"Gue pengen lo pacaran sama Tania?"


"Hah? Maksud lo apa sih? Gue gak mau berantem sama Mario. Gue cowok cupu jadi gue nggak mau berurusan sama cowok kayak Mario!" Vita menepuk bahu Bayu agar ia percaya diri dan yakin dengan apa yang ia ucapkan.


"Jadi gimana? Lo mau gak sama Tania?"


"Gue nggak tahu. Ya udah kalau gitu gue pulang dulu ya!" Vita langsung saja menahannya seolah tidak puas dengan jawaban dari Bagus.


"Aduh gimana nih si Bagus kayaknya ragu deh dengan apa yang diucapkan pokoknya gue harus bisa bikin mereka dekat berdua jadi Mario nggak bisa deket lagi sama Tania!" Batinnya mengatakan dengan itu membiarkan Bagus keluar dari sekolah atau pintu gerbang.


***


"Hei mau ke mana kamu rapi bener pakaiannya?" Mario adiknya yang begitu rapi sekali seperti orang yang ingin jalan.


Langkahnya langsung terhenti begitu saja ketika Mario mempertanyakan ia ingin ke mana. "Aku mau ketemuan sama kak Vita, kak Mario mau ikutan?"


"Ya tumben banget kan ketemuan sama Vita? Ada apa nih?"


Karen tak menjawab sama sekali ia pun langsung saja berpamitan pergi membiarkan Mario bingung dan berpikir. "Ya udah ya kalau gitu aku berangkat dulu sampai ketemu lagi nanti pas pulang!"


Vita masuk ke dalam mobil karena hari ini kebetulan ia diantar oleh supir karena ia masih SMP jadi harus masih dalam pengawasan sebenarnya Karen risih diperlakukan seperti ini tapi daripada ia tidak diperbolehkan keluar rumah sudah ikutin saja syarat dan ketentuan dari orang rumah atau orang tuanya.


"Iya nggak papa kok kak silakan duduk."


Karen pun mempersilahkan duduk untuk Vita karena makanan dan minuman sudah dipesankan.


"Tumben banget nih ngajak ketemuan ada apa?"


"Kak aku boleh nanya nggak sama kakak soalnya ini penting banget!"


"Boleh kamu mau nanya apa?"


"Sebenarnya di sekolah itu di sekolah itu kayak gimana sih apa dekat sama cewek?"


Vita tersenyum. "Ya ada sih cewek tapi cupu banget nggak secantik aku haha." Dengan videonya Vita mengatakan dirinya cantik di depan Karen.


"Iya benar kak Vita mah enggak ada lawan. Tapi kak Mario kemarin atau beberapa hari yang lalu bawa cewek ke rumah tapi ceweknya cupu banget!"


"Tania? Dia bawa Tania ke rumah kamu?"


"Aku sih enggak tahu siapa nama perempuan itu tapi kayaknya bener deh apa yang kamu bilang tadi kalau misalkan cewek cupu itu namanya Tania aku juga nggak tahu sih kak aku pengennya kak kita sama kamar itu sama-sama nggak kayak sekarang yang pisah-pisah aku pengennya kalian tuh bareng terus." Vita memeluk Karen begitu berat karena kedekatan mereka begitu dekat sekali hanya saja seperti sekarang yang berubah.


"Mereka tuh sama sekali nggak cocok banget seharusnya kak Mario itu sama cewek yang cantik seperti orang yang ada di depan aku." Puji Karen sambil tersenyum.


"Hahaha kamu paling bisa deh muji kakak. Eh Gimana sekolah kamu kamu bentar lagi masuk SMA kan?"


"Iya kak bentar lagi aku masuk SMA kok paling beberapa minggu lagi aku bakalan ujian gitu. Do'ain aku masuk di sekolah kakak ya, ya biar sama-sama alumni kita nantinya!"


Karna saking banyaknya ngobrol makanan dan minuman pun terbengkalai. "Ya udah kita makan aja yuk dari tadi kita ngobrol terus nggak nyentuh sama sekali makanan yang ada di depan kita mubazir nantinya." Suasana yang sejuk membuat mereka seakan-akan menikmati sore hari ini.


Jam menunjukkan pukul jam 5.30 sore. Karen tak kunjung datang Mario pun terus saja menghubunginya tak diangkat sama sekali. Mama panik dan memarahi Mario karena tidak mendampingi Karen di sampingnya. "Kamu itu gimana sih? Kok adik kamu mau tinggalin sendirian sih ketemu sama Vita?"


"Dia tadi diantar sama sopir mah jadi ya udah aku nggak khawatir tapi ternyata sekarang dia nggak pulang-pulang dan dia juga enggak ngangkat telepon aku sama chattingan di WA."


"Hallo assalamu'alaikum."


"Nah ini dia orangnya dia tuh bakalan pulang juga mah nggak usah terlalu dikhawatirkan kayak anak kecil lagi." Wajah Mario dan mama begitu tegang sekali sedangkan Karen begitu semringah.


"Ada apa sih kok mukanya pada tegang?"


"Kamu tadi dijemput sama sopir kenapa malah nyuruh sopir balik ke rumah?"


"Aku tadi dianterin sama ka Vita aku sama kak Vita kok enggak sama yang lain gitu cuma nongkrong-nongkrong biasa doang emang enggak boleh aku kan udah gede?"


Mama hanya bisa menggeleng dengan sikap dan tingkah laku Karen yang sudah mulai ngelunjak karena mungkin dia lagi puber jadi banyak maunya. "Ya udah kalau gitu kamu jangan kayak gini lagi ya harus kasih kabar dan angkat telepon dari kakak kamu. Kamu itu anak perempuan jadi harus diawasin terus kamu paham kan maksud dari mama?"


Karen mengangguk.


"Dia sebenarnya ngapain sih sama Vita kok lama banget apa ada hubungannya dengan Tania ya?"