Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 33. Di Kunci



"Apa gue kunci aja ya Tania di gudang? Gue dengar tadi Mario ngajakin dia jalan." Vita sengaja menaruh kertas kecil untuk janjian kepada Tania ke gudang.


Ia pun mengambil secarik kertas dan menuliskan di kertas itu untuk mengajak Tania menuju ke arah gudang. Kali ini Vita memberanikan diri mengatasnamakan Mario untuk ketemuan di gudang nantinya pas pulang jam sekolah.


"Kita ketemuan di gudangnya ada sesuatu hal yang pengen gue omongin sama lo! - Mario


Ia menaruh secarik kertas itu kebagian laci Tania. Setelah selesai ia pun keluar dari kelas Tania dan beranjak untuk ke kelasnya agar tidak ketahuan siapa pun bawa misalkan yang menaruh secarik kertas itu adalah dirinya Dania adalah pelaku misterius yang hanya dirinya saja yang mengetahui. "Semoga aja Tania masuk kedalam perangkap gue!"


***


"Kayaknya Mario nggak bakalan ke gudang deh ngajakin gue tumben banget yang ngajakin ke gudang biasanya ngajakin pulang bareng doang?" Tampak ragu, tapi berusaha untuk yakin.


Tania bingung kenapa tidak ada Mario menunggu di gudang awalnya ia ingin membalikan badan tapi ketika ingin membalikan badan sekitar 3 detik tiba-tiba ada seseorang yang mendorongnya masuk lalu menguncinya dengan begitu cepat. Tania membuka gagang pintu dengan cepat pula namun ternyata pintu itu dengan cepat juga dikunci dari orang yang ada di luar. "Mario kenapa lo kunciin gue maksud lo apa kayak gini!" Tania berprasangka kalau misalkan orang yang mengunci itu adalah Mario padahal belum tentu itu Mario tapi karena ketemuannya dengan Mario disini maka prasangka itu tertuju dengan nama Mario.


"Mario kenapa kejebak gue di dalam sini maksudnya apa kayak gitu bukain dong pintunya!" Orang itu perlahan mengundurkan diri lalu membiarkan Tania berteriak di dalam karena ia tidak peduli.


"Sumpah jahat banget sih Mario sama gue gue pikir dia udah berubah tapi kenapa dia malah ngunciin gue di gudang?" Perasaan tak menyangka tercetus di benak Tania. Kenapa bisa seperti ini sebenarnya awalnya tadi ia tampak ragu untuk mendatangi Mario di gudang tapi karena ia yakin Mario tidak berbuat macam-macam ia pun mau. Ternyata seperti ini kenyataannya. Ia berjanji apabila ketemu Mario ia akan menampar Mario dan minta penjelasan kenapa bisa melakukan hal seperti ini.


Tania mengetuk-ngetuk pintu gudang yang tiba-tiba terkunci ia ketakutan dan tidak bisa keluar. Ia mulai keringat dingin dan bingung harus keluar dari mana karena semua akses jendela itu dikunci dan rapat banget. Sedangkan jarak gudang dengan luar itu lumayan jauh jadi suara rentan untuk tidak terdengar. "Tolongggggg!" Teriaknya setipe daya untuk keluar dari gudang.


"Aduh gimana ini gue nggak bisa keluar dari gudang!" Gugupnya. Ia Tania terus saja berteriak yakin sekali masih ada orang diluar yang bisa menolongnya keluar dari gudang.


"Tolong......"


"Tolongggggg!"


Napasnya terdengar sekali ngos-ngosan karena setipu daya tidak ada yang menolong siapapun di luar.


Bruk...


"Di luar ada siapa tolongin gue gue nggak bisa keluar nih gue ada di dalam!" Suara itu begitu ciri khas sekali ternyata ketika mendekat Bagus mengenali suara tersebut dan menyebutkan nama orang tersebut yang ada di dalam.


"Tania?"


"Bagus!" Ucapnya dengan gemetar sekali ketika mendengar Bagus mendobrak pintu tersebut. Antusias terdengar sekali dari ucapan Tania. Bagus menyuruhnya untuk memundurkan dirinya ke belakang agar tidak terkena dari dobrakan pintu. Ia tak peduli kalau misalkan ada bu guru atau kepala sekolah yang marah karena merusak dari pintu gudang.


Dobrakan pertama gagal dan ketika dobrakan kedua pintu pun akhirnya terbuka ia melihat keringat dari pelipis Tania bercucuran. "Tania?" Benar itu Tania yang keluar dari gudang.


"Lo kenapa bisa ada di gudang sih kenapa tiba-tiba lo bisa ada di sini?" Tanya Bagus yang melihat kedua bola mata Tania begitu sayu sekali dan wajahnya terlihat sangat pucat.


"Lo bisa ada di sini? Ayo cerita sama gue buruan! Lo mau minum dulu bentar nih buat lo!" Bagus mengeluarkan air mineral yang belum ia sempat minum tadi ketika di kelas ia memberikan langsung kepada Tania agar bisa meredakan dahaganya yang kering pastinya. Terlihat sekali Tania begitu syok dan terkejut.


"Makasih banyak ya lo udah bukain tadi di gudang!"


"Kenapa lo bisa ada di sini kenapa tiba-tiba ada di gudang sih emang siapa yang nyuruh di gudang?"


"Gue dapatin surat kertas kecil gitu dan dia ngajakin gue ke gudang ketemuannya ternyata tiba-tiba pas gue datang gue didorong gitu aja sama seseorang dari belakang gue dan dia langsung aja mungkin gue, gue nggak tahu dia siapa!" Ia memberikan kertas kepada Bagus dan tertulis di situ Mario yang mengajak ketemuan. Bagus menyunggingkan bibirnya sedikit naik ke atas yakin sekali kalau misalkan ini semuanya bakalan runyam dan ini semua pasti ulah dari Mario tidak mungkin Mario suka dengan Tania dengan tulus dengan apa yang ia lakukan selama ini.


"Ya gue yakin banget kalau misalkan ini tuh semuanya dari Mario nggak mungkin lah ah dia baik sama lo dengan hati yang tulus pasti ada maunya dan sekarang udah terbukti kalau dikunci di gudang! Lo mending nggak usah lagi deh deket-deket sama Mario nggak usah langsung percaya gitu aja dengan apa yang dia omongin karena kita orang yang cupu kayak kita tuh bakalan nggak dihargain sama sekali dan terus diinjak-injak terus!" Tania mengangguk dengan ucapan dan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bagus.


"Ya udah kalau gitu gue setuju dan gue nggak mau dekat-dekat lagi sama Mario!" Bagus membangunkan Tania yang syok banget dengan kejadian ini.


"Ya udah kita pulang bareng aja yuk gue anterin lo sampai pulang ke rumah ya!"


"Jangan gue bisa pulang sendiri kok nggak apa-apa." Senyum Tania kepada Bagus ia tidak mau merepotkan Bagus sampai pulang ke rumah. Suara notifikasi terdengar dari ponselnya, itu dari Mario sama sekali tak membaca dan membiarkannya pesan itu bercentang dua abu-abu.


"Jangan dibales biarin aja semakin lo lo deket sama dia semakin dia yakin kalau dia ngerasa ganteng!" Tania dengan nasihat Bagus.