
Tania mengirimkan pesan teks kepada Giska kalau misalkan hari ini dia nggak masuk sekolah karena badannya tidak. Awalnya Giska menawarkan untuk membawanya ke Puskesmas atau rumah sakit tapi karena menurutnya ini adalah hal biasa saja mungkin karena harus istirahat ya udah mungkin dua atau tiga hari tidak masuk sekolah atau bahkan hanya sehali. "Kenapa GIS?"
"Tania nggak masuk hari ini katanya dia nggak enak badan?" Giska menunjukkan pesan teks kepada Sekar, kalau misalkan ia tak masuk ke sekolah karena sakit.
"Ya ampun, ya udah deh nanti kalau misalkan kita pulang sekolah kita mampir aja yuk ke rumah dia buat ngejenguk." Mario menghampiri mereka berdua yang sedang asyik mengobrol di depan pintu kelas.
"Kok dari tadi nggak kelihatan sih emang dia ke mana ya?" Giska dan Sekar melintas di depannya lalu langsung saja ia memanggilnya dan bertanya kenapa tanya dari tadi tidak kelihatan batang hidungnya.
"Eh Tania aku nggak kelihatan emang dia di mana?"
"Dia gak sekolah hari ini, dia sakit." Jelasnya.
Mendengar kata sakit Mario pun langsung menaikkan alisnya sedikit naik ke atas. "Sakit apa?" Pertanyaan yang wajar terdengar dari mulut Mario.
"Ya udah kalau gitu kita ke kelas dulu ya bentar lagi kayaknya bakalan bel bunyi." Mario mengangguk paham dan mengucapkan terima kasih.
Bel pun berbunyi, pelajaran pun dimulai.
"Kira-kira Tania sakit apaan ya? Kok gak masuk sekolah apa gara-gara tamparan Vita kemarin yang keterlaluan?" Di sela penjelasan guru yang ada di depan. Kevin menyenggol Mario yang tidak fokus.
"Lo kenapa? Lagi mikirin apa sih sebenarnya?" Mario hanya bisa menggeleng pertanyaan dari Kevin. Kevin yakin sekali kalau misalkan Mario sudah mulai menaruh hati kepada Tania buktinya jadi kepikiran kenapa Tania nggak masuk hari ini.
***
Mario sebelum sampai di rumah Tania dia pun mampir di toko buah di pinggiran jalan untuk membawakan buah-buahan kepada Tania. "Bang buah-buahannya sepaket ya bang."
"Baik." Setelah bayar ia pun langsung saja pergi ke rumah Tania membawa buah-buahan yang akan diberikan nanti di sana.
Ia melihat pintu rumah Tania terbuka mana ada mamanya Tania yang sedang menyapu halaman. Ia mematikan motornya lalu turun.
"Assalamu'alaikum tante, Tania ada di dalam tante katanya lagi sakit ya?"
"Iya lagi nggak enak badan ya udah kamu duduk dulu ya."
"Mario?" Tania mendengar ada suara seseorang diluar sepertinya suara itu suara yang ia kenali yaitu suara Mario. Perlahan dia membangunkan badannya lalu keluar dari kamar dan menutup kembali pintu gagang kamar.
"Hei, sakit ya?". Senyum Mario.
Tania memundurkan badannya ke belakang sofa, ia duduk di pinggiran sofa terlihat badannya lemas. "Kok lo bisa ada di sini sih?"
"Katanya Giska lo sakit kan? Sakit apa? Perasaan kemarin sama sekali gak sakit? Sakit apa?"
"Gak enak badan aja makanya tadi nggak berangkat ke sekolah kenapa jadi ke sini?"
"Emang enggak boleh apa kalau misalkan gue ke sini?" Tania pun tersenyum. Mamanya Tania bubur dan menaruhnya di atas meja dengan sikapnya Maria langsung saja mengambil dan menawarkan diri untuk menyuapi ia awalnya kami menolak tapi lama-lama ia mengiyakan.
"Makanya jangan baperan dan jangan galau galau santai aja." Ucapnya sambil menyebabkan gugur tersebut ke mulut Tania. Ia mengunyah dengan pelan bubur yang masuk ke dalam mulutnya.
"Makanannya yang banyak biar cepet sembuh ntar siapa yang gue anterin pulang ke rumah?"
"Iya makasih ya udah baik banget sama gue." Sahutnya yang mengangguk. Ia pun cegukkan Mario pun air putih yang masih utuh lalu memberikan kepada Tania membantu untuk meminum.
"Udah kenyang?"
"Gak kok nggak basah."
"Gue boleh nanya sesuatu tentang hal kemarin gak, siapa sih sebenarnya yang ngunciin lo di gudang kalau boleh jujur gue sama sekali nggak nyuruh buat ketemuan sama gue di gudang!"
"Gak tau juga, udah biarin aja."
"Ini pasti Vita,"
"Udah lupain aja." Senyum Tania.
"Biasanya Tania enggak pernah sakit ya tapi kok sekarang tiba-tiba sakit? Apa gara-gara yang kemarin kepikiran mungkin?"
"Bisa jadi sih,"
Tak berapa lama kemudian Sekar dan Giska pun sudah dekat di rumah Tania ia melihat ada motor yang tak asing di sana, ternyata ketika mereka mendekat. Mereka terkejut sekali ketika Mario ada di samping Tania sedang memegang bungkus bubur. "Kalian kenapa bisa di sini kalian menjenguk Tania ya?"
"I---iya, Tan gimana keadaan udah baikan belum nggak ada lo di sekolah biasanya hampa banget?" Ucap Giska yang sedikit berlebihan kepada Tania yang membuat Sekar dan Mario mesam-mesem.
"Lo udah lama di sini?"
"Iya udah lumayan banget sih disini gue sengaja jengukkin Tania." Giska dan Sekar saling tatap satu sama lain melihat tingkah Mario yang semakin hari semakin dekat saja dengan Tania.
Mario mengambilkan obat yang ada di samping Tania selalu membukakan bungkus tersebut dan menaruh ke bagian telapak tangan kanan Tania agar diminum. Ia mengandalkan juga air yang belum ya tuang ke dalam gelas yang ada di dalam cirat. "Buruan di minum biar cepat sembuh enggak sakit-sakit lagi."
"Pokoknya jangan banyak pikiran deh lupain aja yang ada sekolah."
"Hahaha gue sakit bukan karena kepikiran di sekolah tapi karena ya gue sakit aja gitu mungkin udah jalannya gue sakit."
Mario melirik ke arah jam tangan yang melingkar di sebelah kirinya dan sepertinya ia harus pulang lebih dulu dari teman-teman Tania. "Kayaknya gue harus pulang duluan pamit dulu ya semoga lo cepat sembuh." Ketika Tania ingin berdiri Maria langsung saja menahan nya agar kita tetap duduk.
"Gak usah diantar sampai luar kok maklumin aja lo sakit. Cepat sembuh ya!"
"Ehem." Batuk sengaja Giska melihat keuwuan mereka. Mario memasang sepatunya lalu ia pamitan kepada mereka bertiga yang ada di ruang tamu.
Setelah Mario pergi seakan-akan Tania diintimidasi oleh kedua sahabatnya menanyakan kenapa Mario bisa dari sini kenapa bisa ada acara suap-suapan. Tania terlihat sekali seperti kagok dan deg-degan menceritakannya. Ia mengatur nafasnya agar bisa stabil. "Enggak kok tadi cuma jenguk doang ke sini jadi nggak ada hal yang spesial spesial kayak gimana menurut pikiran kalian."
"Hahaha oke deh. Oh iya ini gue bawain roti buat lo."
"Gue juga ini gue sama dibeliin buat lo!"
"Makasih banyak ya udah ngerepotin makasih loh udah dijenguk ke sini."
"Ternyata Mario sweet banget ya sama lo! Dia nyiapin lo makan gak? Andai aja gue gini yah? Kapan gue di giniin sama cowok ganteng seganteng Mario. Gue berubah pikiran kalau Mario itu emang baik orangnya cuma salah gaul aja sih menurut gue!" Ralat Giska yang selama ini berpikiran negatif terhadap Mario.
"Iya gue juga berpikiran negatif sama Mario ternyata dia udah pernah berubah ya jadi orang yang jauh lebih baik dan mau bergaul sama cewek-cewek cupu kayak kita." Sahut Sekar yang setuju dengan ucapan Giska.
"Oh iya kalian mau minum apa biar gue buatin?"
"Ah nggak usah nggak papa kok gue ngeliat lo udah mah sehat aja gue senang?"
"Sama gue juga."