Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 51. Iri



Mario menarikkan bangku kosong untuk duduki Tania ia mempersilahkan Tania duduk dan menawarkan Tania ingin apa di kantin maksudnya mau makan apa. "Nasi goreng sama minum air putih aja deh!" Mario mengangguk dan memesankan kepada ibu kantin yang ada di depan Tania menatap kearah kedua sahabatnya yang memperhatikannya di seberang ia hanya sekedar memberikan kode supaya mereka tidak tersinggung dan tetap mau ke kantin bareng nanti bareng dirinya.


"Gue boleh minta satu permintaan nggak sama lo?" Pinta dengan menatapnya begitu sekali namun membuat hati kami bergetar kali ini mereka ke kantin berdua melupakan teman-temannya atau sahabat-sahabatnya. Tania males sekali diperhatikan seperti ini kayaknya orang benar-benar pacaran.


"Maksudnya?" Ia mengatur duduknya lebih baik lagi.


"Gak usah pakai lo gue lagi tapi aku kamu dimulai dari sekarang bagi siapapun yang melakukan atau melanggarnya dia harus memberikan kesempatan untuk melakukan apapun satu kali dan itu pun harus dipenuhi ngerti?" Permintaan macam apa ini yang membuat Tania seolah-olah tak mau melakukannya dan menolak sangat keras dengan menggelengkan kepalanya.


"Kok pakai aku kamu kan lebih sopan?"


"Ya tapi kan?" Tanpa basa-basi sama sekali Mario menyuruh Tania untuk menyebut aku kamu dengannya. Ia menelan ludahnya dengan cepat ternyata pacaran sama nyari posesif juga ya.


Giska melihat ke arah Mario dan Tania begitu sulit sekali bahkan pas istirahat aja Mario nyamperin ke kelas untuk ngajakin Tania ke kantin pada satu kantin yang sama juga. Ia melihat kearah Tania dan Mario tapi Juan malah seakan-akan senyum membuatnya tersipu malu dan membuang muka kearah lain. "Apaan sih sok kegantengan banget jadi cowok? Apa dia suka ya sama gue tapi kalau suka kenapa dia ngajakin gue?"


"Hei kenapa sih ke arah sana mulu emang ada apa arah mata lo kayaknya ngelihat tinjuan deh?" Tanya skor yang membuat Giska seakan panik tidak sengaja ia menumpahkan cabe ke lantai.


"Astaga? Lo kenapa sih malam yang gue cabe yang nggak salah apa-apa lo lagi mikirin apa lagi bengong atau lagi ngelamun?" Ia mengambil serbet yang ada di atas meja lalu membersihkan lantai dengan begitu cepat sembari mengambil air untuk sedikit lebih kering nantinya. Sekar pun ikut membantu membersihkan cabai yang terjatuh ke lantai.


"Makanya hati-hati lo sih bengong aja dari tadi?" Giska pun hanya diam saja ketika Sekar menasehati. Akhirnya bel pun berbunyi Giska dan Sekar berjalan lebih dulu kearah kelas meninggalkan Tania yang masih duduk bersama Mario. Langkahnya cepat sekali.


"Ya Allah buruan pengen sampai kelas ntar kita dimarahin sama bu guru lama banget sih lu jalannya!" Sekar membiarkan Giska berjalan lebih cepat di depan ia bingung ada apa dengan Giska kenapa iya pas di kantin aneh banget. Ia langsung duduk di kelas dengan nada yang ngos-ngosan, lalu tak berapa lama Tania pun datang diantar oleh Mario. Tania seperti putri yang harus sampai dengan selamat ke tempatnya, lalu yang aneh ini adalah entah sesuatu yang berlebihan atau apa Mario melambaikan tangan kepada Tania dia menunjuk jempolnya kearah kelas akan akan ia juga akan ke kelas.


"Ya ampun alay banget sih pacaran kalian?" Ucap Sekar kepada Tania yang terlalu berlebihan perasaan kalau misalkan pacaran beberapa hari enggak kayak gitu banget romantisnya ini terkesan berlebihan banget kayak sekolahnya tuh jauh banget buat dijemput dan buat dianterin padahal disekitaran situ juga.


***


Sebagai pacar yang baik Mario pun menunggu di depan kelas Tania mereka akan pulang bareng hari ini padahal Tania belum keluar dari kelas dan masih merapikan buku-buku yang ada di atas meja. Ia pamitan kepada Giska dan Sekar kalau misalkan ia pulang duluan. Bagus hanya melihat dari kejauhan antara tanah dan Mario yang begitu dekat sekali. "Rasain lo yang ngalahin gue jangan mimpi deh loh? Gue yakin kalau misalkan lo naruh hati kan sama pacar gue sekarang?" Gumam Mario dalam hati melihat Bagus dari kejauhan memperhatikan mereka berdua tapi ia seolah-olah tidak peduli dan tidak memperlihatkan kalau misalkan mereka sedang jalan berdua untuk pulang ke rumah. Mario memasangkan helm kepada Tania dan menyuruh Tania untuk menunggu di depan gerbang karena ia akan membawa motornya ke depan agar lebih cepat dan lebih simpel. Vita sama sekali tak menyangka kalau misalkan hubungan ini akan berlanjut kepada hubungan pacaran antara Mario dan Tania tapi dan namun sebelum janur kuning melengkung semua akan bisa teratasi dan semua bisa ia dapatkan secepat mungkin seperti membalikkan telapak tangan. Vita mendekat kearah Bagus ia mengatakan dan mengompori seakan-akan Tania tidak berhak untuk mendapatkan cowok seperti Mario. Namun Bagus malah membela Tan iya iya malah memburuk-burukkan Mario kalau misalkan Mario yang tidak pantas mendapatkan Tamiya bukan malah sebaliknya. Mereka saling beradu cekcok satu sama lain seolah-olah membela apa yang ada dipikiran mereka masing-masing. Vita mengajukan kembali perjanjian kepada Bagus untuk bisa memisahkan mereka berdua, dengan cara memutar balikkan cerita seolah-olah kalau misalkan taruhan ini akan membuatnya sakit hati dan Bagus teringat tentang hal itu benar juga kalau misalkan Tania jatuh cinta dan cinta banget dengan Mario bisa jadi semuanya bakalan berubah dan bikin Tania drop dan sebagai teman atau sesama cupu ia tak mau ada cewek cupu yang dikhianati oleh cowok yang tidak bertanggung jawab tentang perasaan. "Kayaknya Bagus udah terperangkapnya sama gue? Bagus! Dan cepat atau lambat gue bakalan mendapatkan Mario lagi dan gue bakalan bisa bahagia dengan Mario tanpa putus lagi kayak kemarin!"


"Hei kenapa sih pacaran kita nggak seru banget nggak kayak orang-orang jangan pulang dulu kali ke rumah ya misalkan jalan-jalan atau foto-foto gitu biar lebih seru dan bisa lebih romantis? Masa pulang sekolah langsung pulang aja sih ke rumah?"


"Ya maunya kemana jalan-jalannya? Siang bolong juga masa harus mampir dulu ke tempat lain? Kecuali hari libur atau dimana hari kita bisa meluangkan waktu lebih banyak lagi jangan pulang sekolah capek soalnya belum makan juga!"


"Ya tapi kan gue pengen bareng sama lo terus?"


Gombalnya dengan begitu cepat sekali merayu Tania tapikan ia tidak semudah itu mengiyakan ucapan dari Mario atau ajakan dari Mario dia tetap dengan pendiriannya langsung pulang ke rumah kalau misalkan Mario tetap memaksakan untuk melipir ke arah lain Tania yang akan turun dari motornya.