
Ia merebahkan kepalanya ke tempat tidur untuk dia istirahat sejenak karena tadi baru aja minum obat untuk kelangsungan kesembuhannya.
"Ya ampun tumben banget sih hubungin gue? Lama-lama gue kok suka ya sama dia ya sikap dia yang terlalu menggebu-gebu dan terlalu nggak bisa ditolak permintaannya." Tanpa basa-basi Tania langsung saja menggeser layar tombol berwarna hijau ke atas karena Mario telah memvideo call nya mungkin menanyakan bagaimana kabarnya hari ini apakah sudah membaik atau tidak padahal tadi pas pulang sekolah ia sudah ke rumah tapi ternyata malam-malam video call lagi atau kembali. "Iya hallo tumben banget video call untuk pertama kalinya kenapa?"
Mario
"Emang gue nggak boleh video call loh harus gitu ada larangan atau apa ya kan bebas aja buat video call atau kayak gimana ya nggak sih? Gimana keadaanlah udah mulai baikan belum udah minum obatnya belum?"
"Udah minum kok obatnya alhamdulillah badan gue udah mulai mendingan udah mulai membaik intinya."
Mario
"Bagus deh kalau kayak gitu semoga cepat sembuh ya semoga bisa masuk sekolah lagi dan gue yakin kita semakin dekat."
"Haha lo kenapa sih akhir-akhir ini tuh suka banget ngebucin sama gue gue itu cewek cupu bukan cewek cantik kayak mantan-mantan lo dahulu." Ucap Tania yang apa adanya sekali menjawab dari gombalan Mario bukannya ia malah tersipu atau malah kegeeran tapi ia malah aneh.
Mario
"Lo itu ya tipenya curigaan banget sama orang."
"Hahaha enggak, makasih banyak ya kemarin udah nyobain gue sarapan bubur. Bukan sarapan juga sih namanya udah kesiangan."
Mario
"Iya sama-sama pokoknya aku harus cepat sehat ya. Besok udah bisa masuk belum sekolah?"
"Gue juga nggak tahu pokoknya kalau misalkan udah mendingan gue bakalan masuk ke sekolah."
Mario
"Ya udah deh kalau gitu aku tidur ya gue juga mau tidur nih udah ngantuk banget jadi kalau misalkan lo mau masuk sekolah lo jangan lupa hubungin gue ya gue bakalan jemput lo lebih pagi biar udaranya masih sejuk, oke?"
"Iya bawel!" Sahut Tania sambil menjulurkan lidahnya tanda ia mengejek Mario. Ia mematikan hanya lalu memejamkan kedua matanya yang sudah mulai ngantuk padahal ini masih sekitar jam 9.30 malam.
***
Pagi sekali Tania menghubungi Mario kalau misalkan hari ini ia bisa masuk ke sekolah, Mario dengan gesit menjawab iya tanpa panjang lebar dan tanpa menolak. Tania hari ini nggak dibolehin sama mamah untuk mandi biasanya banyaknya ke badannya dan tak lupa juga ia memakai banyak parfum ke bagian tubuh agar tidak bau.
Tak berapa lama Mario pun datang, "Hai udah bisa masuk hari ini ya kok nggak dipakai jaketnya?"
"Oh ya sebentar gue ambil dulu di kamar hampir aja lupa." Angguk Mario.
"Iya tante."
Mario tidak terlalu cepat-cepat membawa motor karna anginnya kencang walaupun di pagi hari ini. "Kalau misalnya takut jatuh pegangan aja sama gue nggak papa kok." Mario melihat di kaca spion kalau misalkan Tania seakan-akan canggung ia pun berdehem.
"Ya kalau misalnya malu ya udah pegang jaket gue aja kenceng-kenceng tapi jangan terlalu kencang juga ntar gue nggak bisa napas lagi!" Tania hanya tersenyum dengan guyon dari Mario.
***
Banyak sekali siswa atau siswi yang sudah berdatangan atau bertengger di lapangan atau kelas mereka Tania tiba-tiba merasa malu banget untuk masuk berdua ke dalam pintu gerbang atau parkiran bersama Mario ia lebih memilih untuk turun di samping sekolah yang tidak terlihat begitu banyak pasang mata. Namun, Mario menolaknya ia malah menyuruh Tania tetap duduk dan mereka akan masuk ke dalam berdua bersama-sama. "Ya ampun gue itu malu udah di sini aja. Gue masih sanggup kok masuk ke dalam."
Mario hanya menggeleng dengan ucapan Tania tak menggubrisnya.
Pasang mata melihat kedekatan mereka berdua karena Mario mengantarkan ke kelas Tania terlebih dahulu tanpa ia masuk kedalam kelasnya padahal kelasnya yang terlebih dahulu ketika masuk ke dalam sekolah. Ia sama sekali tak perduli Tania pun merasa risih dan membiarkan dirinya masuk sendiri tapi ternyata Mario malah mengikutinya di belakang seakan-akan dia menjaga. Tania disambut oleh Sekar dan Giska. "Ya ampun akhirnya lu masuk juga ke sekolah walaupun mau kalau udah mulai mendingan sih daripada kemarin yang pucat banget."
"Hahaha bisa aja sih, ya udah deh gue tinggal dulu ya nanti kalau misalkan ada apa-apa lo manggil gue aja ya walaupun gue nggak bisa nolong banget juga." Ketawa Mario.
"Hahaha."
Mario pun kembali ke kelasnya. Kevin hanya menggeleng dengan sikap Mario yang semakin hari semakin sulit atau semakin romantis. Ia menepuk bahu Mario ia salut membuktikan ucapannya kalau misalkan ketua geng sadar. "Ya ampun ternyata ya!"
"Gue tuh orangnya nggak pernah bohong gue selalu buktiin apa yang diucapin terbukti kan sekarang udah?"
"Tapi ada satu hal nih yang belum lengkap belum nembak dia kan?" Tantang Kevin kembali yang membuat Mario kikuk terdiam.
"Ini masalah hati loh Kevin kalau misalkan mau lu bener-bener suka sama Tania kayak gimana? Rasa suka kan ada karena terbiasa. Gue takut aja kalau misalkan Mario benar-benar suka dan menaruh rasa sama Tania ya walaupun Tania bukan levelnya ya bisa aja suka gitu? Ngerti kan maksud gue apaan?" Senyum Juan. Karna ia yakin ketika laki-laki dan perempuan terus-terusan berdua maka pasti salah satunya ada yang menyimpan rasa.
"Gak lah mana mungkin gue suka sama cewek cupu lagi begitu. Santai gue bukan cowok yang mudah baperan kok sama cewek di santai aja. Gue bisa membedakan mana yang taruhan mana yang cinta beneran?" Tuntasnya.
"Hahaha iya deh kalau gitu bagus!"
Di kelas Tania
"Cie dianterin sampai kelas nih sama Mario aduh seneng banget deh hatiku!" Ejek Giska kepada Tania yang mulai mendukung.
"Gue juga pengen dong ya salah satu diantara sahabatnya Mario juga boleh, gue pengen deh sama Kevin."
"Gue sama Juan aja deh." Ucap Giska yang mengatakan Juan. Karna sebelumnya ia pernah mengobrol singkat dengan Juan waktu itu di suatu acara tapi sampai sekarang dia tidak pernah bercerita kepada kedua sahabatnya bisa-bisa dibully dan bisa-bisa diketawain.
"Haha kenapa sih kita tak seberuntung banget sekarang bisa deket sama cowok-cowok keren di sekolah ini mimpi apa ya gitu ya apa mereka udah pada sadar?"