Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 90. Melamar Pekerjaan



Mungkin ini adalah pilihan yang sangat berat ketika Tania telah menulis surat lamaran pekerjaan sudah ia selidiki sebelumnya agar ia nanti bisa menghasilkan uang di sana.


Meminta restu orang tua adalah hal yang paling penting apalagi mendapatkan dukungan agar bisa membiayai keluarga dan menjadi tulang punggung.


"Semoga aja bisa diterima kerja di sini soalnya nggak mau beban keluarga dan nggak mau bikin mereka susah karna uang dan gak ada uang." Ia pun duduk di teriknya matahari.


"Hei kamu yang tadi di dalam itu ya buat ngelamar pekerjaan?" Seorang laki-laki mendekat kepada Tania yang baru saja keluar dari tempat di mana tanya melamar tadi dengan cepat ia pun mengangguk dengan tatapan sangat bingung tapi ia berusaha untuk senyum.


"Jangan panggil saya bapak anggap aja kita saling kenal udah lama ya mungkin kayaknya kita berdua seperti udah kenal satu sama lain deh aja ya."


"Oh iya ya udah kalau gitu kalau misalkan pengen di panggil nama aja soalnya takutnya nggak sopan kalau misalkan manggil nama kalau boleh tahu namanya siapa nama saya Tania?"


"Saya Roni manager yang ada di tempat perusahaan ini, udah nggak usah terlalu kaku banget anggap aja kita berteman udah lama ngomong-ngomong kamu udah makan siang belum?"


"Saya belum makan sih tapi nanti mungkin mampir ke pinggiran jalan buat makan, kenapa ya Pak kalau boleh tahu?"


"Perkenalkan nama saya Roni jangan panggil saya bapak kesannya saya tua banget anggap aja kita itu udah lama kenal oke ya udah kalau gitu kita makan dulu yuk bareng-bareng saya sendiri nih makannya males kalau makan sendiri. Gimana kalau misalkan kita bareng aja buat makan bareng di pinggiran sana makanannya enak dan juga harganya bisa terjangkau banget. Ya udah nggak usah pikir panjang kita makan aja di pinggiran sana."


Akhirnya mereka pun untuk pertama kalinya makan barang yang tak jauh dari tempat kerja yang mungkin bisa dimasuki oleh Tania. Roni pun memesan makanan terlebih dahulu dan ia pun memesankan pesanan juga kepadatannya orangnya sangat humble dan ramah banget kepada siapapun. "Kok kamu ngelamar pekerjaan di tempat ini sih kenapa apa kamu udah berhenti di pekerjaan kamu sebelumnya? Ya?"


"Em gimana ya jawabnya. Jadi sebenarnya saya itu udah lulus atau baru aja lulus sih makanya saya melamar pekerjaan terlebih dahulu. Untuk banting tulang melamar pekerjaan ya untuk menafkahi keluarga lah istilahnya gitu, tapi nggak kenapa-napa sih santai aja dia bawa enjoy kan happy aja nggak usah terlalu gimana-gimana."


"Saya boleh nanya sesuatu nggak sama kamu tapi saya harap kamu jangan kayak menganggap saya gimana-gimana ya, saya pengen nanya deh sama kamu kamu udah punya pacar apa belum? Ya cuma nanya doang sih soalnya ya saya selama ini cari pacar buat saya seriusin bukan hanya sekedar biasa-biasa doang."


Tania langsung saya terkejut dengan pertanyaan tersebut jantungnya seketika berdetak lebih kencang dari sebelumnya ada seorang laki-laki yang baru pertama kali ia temuin tapi sudah berani banget menanyakan hal pribadi. Ia harus menjawab dengan sangat sopan lalu Tan ia mengatakan kalau misalkan ia sudah memiliki seorang pacar dan rencananya pacarnya tersebut mau masuk kuliah dan membuat Roni seketika langsung mengangguk dan langsung juga meminta ma'af kepada Tania karena sudah lancang menanyakan hal pribadinya untuk pertama kali.


"Gak kenapa-napa kok santai aja lagian juga hubungan kita bukan hubungan yang keterlaluan serius dan kita masih panjang banget ke depannya kayak gimana terus di rumah saya depannya kayak gimana masih santai aja gitu!"


Roni dengan cepat melahap makanan yang sudah datang karena perutnya sangat lapar banget di terik matahari yang sangat menyengat. Suara ponsel pun tiba-tiba saja berdering dengan cepat ia mengangkat dan ternyata itu adalah dari atasannya yang merupakan sahabatnya sendiri ia disuruh untuk segera masuk ke dalam kantor karena jam makan siang sudah selesai. "Iya sebentar lagi gue bakalan kesana kok gue lagi makan nih bentar lagi bakalan habis oke deh kalau gitu!"


"Biasalah saya lagi nelpon katanya biar cepet cepet masuk dalam kantor soal jam istirahat udah selesai biasa lah dia orangnya rada gudeg juga dan juga terlalu kaku!"


***


"Gimana ya?"


"Soalnya saya gak suka yang namanya penolakan ya udah buruan naik sebanyak pikir." Roni pun membukakan pintu dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam mobil.


"Rumah saya agak jauh ya, ma'af terlalu berkelok-kelok."


"Haha santai aja, santai aja gak papa kok."


"Udah balas aja chat dari pacar kamu."


"Hahaha iya, dia nyuruh saya buat masuk ke kampus jadi mahasiswi baru tapi saya gak mau."


"Kenapa?"


"Eh kayaknya sebentar lagi bakalan sampai deh itu rumah saya!" Tania sengaja tidak menjawab pertanyaan tersebut ia pun menunjuk rumah yang ada dihadapannya.


Mobil pun terhenti di depan halaman.


"Makasih banyaknya udah anterin saya ke rumah ma'af kalau misalkan rumahnya tidak terlalu bagus soalnya saya ini bukan terlahir menjadi anak orang kaya."


"Iya nggak kenapa-napa kok santai aja saya juga bukan anak orang kaya saya anak orang biasa juga yang sama-sama makan nasi ya udah kalau gitu saya pulang dulu ya nanti kapan-kapan saya boleh 'kan jemput kamu buat berangkat bareng sama saya?"


Dan ia hanya tersenyum saja tidak menjawab apa-apa dan Tania langsung masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sangat happy banget duduk di ruang tamu. "Gimana apakah kamu diterima kerjaan? Alhamdulillah sekali kalau misalnya diterima."


"Aku udah taruh beberapa lamaran di beberapa kantor sih semoga aja aku diterima kerjaan di sana ya Insya Allah kalau emang jalannya emang udah takdirnya nanti bakalan dipanggil juga kok buat interview."


"Alhamdulillah kalau gitu ya udah kalau gitu kamu ganti baju dulu deh nggak baikan kalau masuk dalam rumah dalam keadaan masih baju kerja."


"Ya udah kalau gitu aku masuk ke dalam kamar dulu ya buat ganti baju soalnya emang rada gerah juga sih baju yang aku pakai hari ini!"