Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 71. Salah Tafsir



Tak menyangka kalau misalnya Tania menunggu Mario di depan kelasnya. Mario keluar begitu saja dari kelas menghampiri Tania. Melebarkan senyum dan bahagia banget ia berharap kalau misalnya Tania bakalan suka dan bakalan senang. "Tumben banget lo ke sini? Kangen sama gue ya? Atau lo udah sadar kalau misalnya gue orang yang baik dan sudah berubah?"


"Gue pengen ngomong sesuatu sama lo kira-kira boleh enggak ngomong empat mata?" Mario mengangguk dan mereka pun melipir ke pinggiran sekolah mengatakan hal ini.


"Gue mau minta permintaan sama lo kira lo nggak wujudkan itu semua? Gue pengen kalau misalkan lo harus bilang iya?"


"Oke, gue siap apapun yang lo mau gue bakalan ngelakuin! Asal demi kebahagiaan kita."


Tania mengaitkan tangan Mario kepada dirinya. "Lo harus balikan sama Vita, jangan bikin dia kecewa lagi jangan bikin dia sedih lagi Dan intinya lo harus balikan sama dia. Bisa?" Perempuan mana yang bakalan kayak begini sebaik Tania? Dia bukan malaikat dan bukan juga peri yang baik banget.


"Hah? Maksud lo apa? Kok malah ngomong begitu sih gue nggak bisa oh jadi lo ngomong begini sama gue pengen ngomong gue balikan sama Vita? Sejak kapan lo bilang kalau misalkan lo pengen gue balikan sama dia tuh disuruh ya sama dia?" Tebakan Mario kali ini benar kalau misalnya Tania ia ingin Mario balikan kepada Vita. Tapi Mario menolaknya.


"Gue sama sekali enggak mau kalau misalkan balikan. Sejak kapan sih lo tega banget nyuruh gue balikan sama orang lain padahal hati lo sendiri terluka?"


"Terluka? Terluka karna apa? Karna cinta?"


"Gak dong gak sama sekali, ayo dong Mario lo balikan sama dia kasihan dia. Lo bakalan nyesel deh kalau misalkan nggak balikan sama dia kasihan banget dia tahu nggak sih dia tuh sayang banget sama lo dia tuh peduli banget sama lo sampai dia sakit masa tega sih di sisa umurnya yang sekarang?"


Mendengar kata sakit Mario langsung saja terdiam sejenak tanpa seribu bahasa. "Hah? Sejak kapan? Kok dia enggak pernah cerita sih sama lo? Sejak kapan? Lo kata siapa kalau misalkan dia lagi sakit perasaan selama ini dia baik-baik aja deh?"


"Makanya lo peduli sama dia kasih perhatian lebih jadi nggak usah berpikiran yang enggak-enggak tentang masa lalu ya udah terima aja. Lo mau kan bikin di sisa hidupnya bahagia?" Agak sedikit berat dan agak sedikit mensinkronkan suasana lebih rumit karena ini adalah masalah perasaan masalah hati yang nggak bisa ditentukan oleh suatu keadaan.


"Udahlah buang ego jauh-jauh jangan bikin semuanya terlambat karena dia juga pantas bahagia dan sampai kapanpun kalau adalah orang yang paling bisa bikin dia bahagia karena dia tuh cinta banget sama lo kalo misalkan elu nggak deketin lagi dia dan bikin dia kecewa bahkan sedih maka hidupnya nggak akan pernah ngerasain bahagia dan selalu saja digandrungi dengan rasa penasaran lo mau di gentayangin?" Mario terdiam sejenak lalu perlahan-lahan ia mencerna apa yang diucapkan oleh Tania dan ia pun mengiyakan untuk membuka kembali dan memberi kesempatan Vita untuk masuk ke dalam kehidupannya walaupun sedikit Berat menerima hal ini karena hatinya sudah tertuju kepada perempuan lain.


"Ya udah kalau gitu gue pamit dulu ya makasih lo udah kasih kesempatan buat Vita mendapatkan kebahagiaannya dari sisi lo. Dan terima kasih lo udah berlapang dada untuk membuat orang-orang yang ada disekitar loh selalu bahagia."


"Soal apa?" Tatapan itu adalah tatapan yang paling menyedihkan dan tatapan berharap pun sangat tinggi sekali singkatan ia tak mampu menatap kedua mata Mario lebih lama.


"Kenapa sih lo enggak mau membuka hati lo sama gue padahal gue udah berusaha buat menjadi manusia lebih baik dan melupakan hal-hal di masa lalu. Apakah kesempatan itu udah nggak ada lagi buat gue? Dan apakah semuanya udah terlambat dan apakah kesempatan itu tidak terbuka lebar?"


Tania hanya diam tersenyum lalu menepuk pundak Mario mengatakan hal yang paling terenyuh. "Bukan masalah kesempatan terlambat atau kesempatan yang tidak terbuka lebar melainkan Ini masalah kepercayaan yang udah nggak ada lagi gue tahu kalau misalkan lu udah banyak berubah tapi bukan karena gue ya karena diri lo sendiri yang pengen berubah sampai kapanpun kalau misalkan gue kasih tahu berubahnya itu karena diri gue, gue bakalan berubah tapi kalau misalkan perubahan itu karena orang lain kalau misalkan sampai kapan pun gak akan pernah berubah makanya gue takut perubahan itu karena diri orang lain bukan karena diri gue sendiri sama halnya kayak diri lo jadi rubahlah diri lo menjadi lebih baik ya karena diri lo sendiri bukan karena siapapun. Kalau ditanya sayang gue bakalan sayang bohong banget kalo misalnya gue nggak sayang sama lo, lo baik orangnya, mungkin kita bertemu tidak di waktu yang tepat melainkan di waktu yang tidak tepat makanya kita bakalan kita kayak gini mungkin kalau misalkan suatu saat nanti kita bakalan ditakdirkan untuk sama-sama bareng ya udah kita bakalan bareng. Namun apabila kita emang takdirnya buat barang sampai kapanpun kita bakalan ditakdirkan bareng. Ya udah tugas lo sekarang adalah bahagian Vita bikin dia bahagia di dalam sisa umurnya ini untuk hubungan kita kayak gimana ke depannya kita mengalir aja toh nanti bakalan ada jalan juga. Gitu aja sih, gue pulang dulu ya jangan lupa terus berbuat baik sama orang lain dan sama diri lo juga."


Begitu panjang lebar banget apa yang diucapkan oleh Tania membuatnya semakin sadar kalau misalkan hidup itu pasti akan berwarna. "Iya makasih banyak ya lo banyak banget kasih pencerahan di diri gue."


"Sama-sama."


Mario menghubungi Vita untuk mengajaknya ketemuan. "Gue pengen ketemu sama lo. Sekarang bisa nggak ketemuannya gue pengen sesuatu yang pengen gue omongin sama lo?"


***


Vita sama sekali tidak menyangka kalau misalkan Mario bakalan ke rumah karena pertemuan ini lama banget baru aja ketemu dan setelah tujuh purnama ternyata baru aja ketemu. "Hei apa kabar?"


"Baik, ada sesuatu hal yang pengen gue brolin sama lo."


Jantungnya berdegup lebih kencang dari perasaan sebelumnya ia yakin banget kalau misalkan Mario bakalan ngajakin balikan. Tapi ia berpura-pura tidak tahu dan berpura-pura seakan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Mario ke sini atau ke rumahnya. "Bentar ya gue buatin minuman dulu di dapur. Lo tungguin di sini aja dulu." Mario mengangguk.


Dengan gerak cepat ia menuju ke dapur dan membuatkan minuman kepada Mario. "Gue yakin banget kalo misalkan dia pengen balikan sama gue. Ah seneng banget manjur juga apa yang di kata oleh Tami waktu itu hahaha." Ia mengingat kembali ide gila dari Tami.