
Karna atas kesepakatan yang terjadi kemarin akhirnya mereka berdua sekarang di pihak Mario, mereka mengatakan kepada Tania kalau misalkan Mario pengen bener-bener serius sampai perkuliahan saja mementingkan agar Tania mau masuk nantinya di sana walaupun mungkin mereka masih di bangku SMA dan belum bener-bener lulus dengan ijazah yang belum ke sebar juga oleh siswa dan siswi yang masih menjadi angkatan. "Gue sama sekali bingung dengan hubungan kita berdua, setelah gue pikir-pikir ternyata hubungan kita berdua tuh kayak antara langit dan bumi gak bisa disatukan sampai kapanpun. Jadi sebenarnya gue pengen cerita sama kalian berdua kalau misalkan dia sama nyokapnya itu ke rumah pengen kasih tawaran buat gue kuliah satu kampus sama Mario. Ya kalau ditanya seneng sih senang banget ya siapa sih nggak mau sekolahnya atau kuliahnya dibayarin sama orang lain sama orang yang kita sayang, nyokap gue bilang apapun itu adalah jawaban yang terbaik dari gue. Tapi coba kalian pikir deh misalkan gue udah masuk kuliah nih dibayarin terus tiba-tiba aja kita itu ada percekcokan dan tiba-tiba juga putus gue takutnya nanti nggak bakalan dibayarin lagi yang gue bakalan putus di tengah jalan?"
Mereka berdua benar-benar enggak kepikiran sampai ke arah sana seperti matangnya pikiran Tania bahkan sepanjang apapun permasalahannya akan dipikirkan. "Bener juga sih apa yang lo bilang kita kan nggak tahu ke depannya kayak gimana lagian juga kita ini masih sebatas pacaran doang bukan kayak pasangan yang udah halal, tapi gue percaya sih kalau misalkan hubungan kalian berdua tuh benar-benar langgeng apalagi nyokapnya sendiri yang bilang untuk biayain kan ini bukan sesuatu hal yang kayak main-main kan?"
"Iya, kalau menurut gue sih nggak main-main apalagi nyokapnya udah bilang dan mau biayain apa aja keperluan lo nantinya. Tapi kalau gue bisa belajar di posisi lo sekarang gue yakin lo bakalan ngerasain kayak selalu ngerepotin kalau ada PR ada ini ada itu ada tugas pastinya membutuhkan biaya?"
Tania berdiri dan memegang gagang pagar yang setinggi dengan pinggangnya lalu menatap ke arah depan, andai saja ia terlahir sebagai anak orang kaya hatinya enggak terhalang seperti ini untuk menggapai sebuah cita-cita. "Gue sebenarnya juga pengen sih kuliah bahkan ke tingkat yang lebih tinggi tapi gimana gue nggak bisa orang tua gue itu ya kerjanya ya kayak gitu nggak bisa kayak berpikiran kita harus bangkit atau enggak."
Giska adalah salah satu teman yang berada ia pun menawarkan diri untuk membiayai perkuliahan Tania agar salah satu sahabatnya tidak merasa sedih dan kecewa dengan suatu keadaan yang benar-benar tidak bisa memaksakan ya karena emang keadaannya seperti itu. "Gue bakalan bantu kalau misalkan lo butuh gue yakin kok orang tua gue juga mau ngebantu lo buat kuliah. Gue yakin dan percaya kita semua bakalan sukses gue enggak mau salah satu di antara kita itu gagal dan juga ngerasa sedih cuma gara-gara kayak gini doang, gue tahu kok di posisi lo tuh kayak gimana."
"Banyak banget yang pengen ngerendahin kita ya gara-gara tingkat pendidikan kita tuh rendah padahal kita juga punya potensi buat sukses tapi karena kita nggak punya biaya makanya mereka semena-mena ngatain kayak gitu gue nggak mau. Udah cukup banget kita ngerasain sedih di saat kita direndahkan di sekolah bahkan kita selalu dicat menjadi orang yang gak berguna di sana padahal kita sama-sama sekolah kan?"
"Iya sih, gue pengen juga tapi gimana ya nanti deh gue pikirin lagi. Makasih banyak ya kalian peduli banget sama keadaan gue sekarang, gue sayang banget sama kalian berdua gue juga cinta banget sama kalian sampai kapan pun nggak akan pernah tergantikan deh kalian itu."
Mereka sebagai perempuan-perempuan tangguh saling berpelukan satu sama lain memperjuangkan masa depan dan memperjuangkan apa aja yang harus dipertahankan dan apa saja yang harus dihilangkan.
"Kita berdua yakin banget lu bisa kok ikutan kuliah belajar apalagi lo pintar menjadi manusia yang mungkin menurut orang kaya ah nggak mungkin tapi kalau misalnya kita berusaha bakalan terjadi." Sekar tidak henti-hentinya memberikan dukungan kepada Tania agar apapun yang terjadi dalam hidupnya jangan sedih terus dan juga jangan terluka terus.
"Ya udah kalau gitu gue pamit dulu ya gue pengen ngedate dulu sama Kevin, gue pengen ketemu sama orang tuanya dia ngajakin gue buat ketemu apalagi katanya orang tuanya pengen kenal sama gue, gue gue gugup banget tau nggak sih."
"Ya ampun, cie bahagia banget gue yakin banget deh pasti hubungan kalian berdua itu bakalan direstuin dan sampai kapanpun dia bakalan sayang banget sama lo." Sekar langsung saja berpamitan kepada mereka berdua tidak henti-hentinya ia merasa bahagia setiap hari dengan laki-laki yang mungkin awalnya nggak suka juga dan salah satu geng yang paling populer di sekolah.
"Iya, sebentar lagi aku bakalan ke sana ini sekarang aku udah ada dalam mobil." Sekar mematikan ponselnya dan ketemuan di tempat yang sudah mereka janjikan.
Kedua orang tua Sekar akhir-akhir ini sukses banget bahkan usaha yang mereka geluti akhirnya terjalani dengan baik dan juga semakin sukses karena keuntungan yang diraup cukup lumayan besar. Apalagi mobil yang mengantarkannya ketemu sama Kevin ini adalah hasil keuntungan yang diraup, banyak sekali lika-liku yang terjadi dalam kehidupan tapi karena berusaha untuk sabar dan santai maka dari itu terjalin dengan baik juga.
"Kamu udah datang aja, ma'af tadi macet."
Ada sebuah bunga diatas meja yang sangat segar dan juga warnanya merah tua. "Coba kamu baca tulisan itu aku yakin banget kamu bakalan bahagia banget ngeliat itu." Setelah dibuka ada kata-kata yang sangat romantis banget.
"Kamu adalah alasan kenapa aku tetap bertahan dengan semua kegelisahan yang ada dalam hidupku, dan kamu adalah alasan kenapa aku bisa bahagia dan mampu menjalani semuanya."
"Ya ampun, tulisan kamu kok bagus. Tumben banget romantis kayak begini makasih banyak ya aku nggak nyangka kamu ternyata bisa romantis juga. Kenapa?"
"Kok kenapa?"
"Aku cuma pengen kasih ini doang sama kamu masak kamu nanya kenapa sih? "Aku emang dari dulu orang romantis tapi nggak bilang-bilang aja, kamu bahagia banget kan dapat ini aku juga bahagia banget bisa bareng sama kamu terus."
Kenapa bisa seromantis dan segombal ini? "Ya udah, makasih banyak ya." Obrolan mereka tidak sampai sana saja bahkan mereka berdua masih mengkhawatirkan Mario dan Tania yang masih belum bersatu.
"Mario kalau nggak salah tadi malam dia cerita galau banget karena katanya tadi enggak mau buat kuliah barang dan juga dibiayain sama orang tuanya. Emang Tania ada cerita enggak sih sama kamu kalau misalkan dia nggak mau dibiayain kuliahnya?"
"Tania cerita sama aku kalau dia sebenarnya pengen kuliah tapi nggak mau ngerepotin apalagi nantinya dia berpikir kalau misalkan nih putus hubungan mereka berdua pasti masalah biaya itu akan berdampak juga 'kan nah itu yang dihadirkan oleh Tania."
"Bener juga sih. Tapi gak mungkin Mario ninggalin kami akan dia beneran cinta."
"Aku kalau misalkan di posisi Tania juga bakalan ngerasain kayak begitu, nggak mau kuliah kita tuh selalu dibiayain sama orang lain bukan karena usaha kita sendiri."
Obrolan semakin panjang dan semakin rumit mereka berdua memberikan solusi agar ke .depannya antara Mario dan Tania tetap selalu berjalan tanpa ada yang memisahkan walaupun itu keadaan atau siapapun.