Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 8. Tumpahan Sengaja



Hasil tugas kemarin pun dibagikan dan diberikan kepada nama-nama yang mereka baca. Ketika Mario membuka nilai yang ada di bukunya dia terkejut sekali. "Gak salah nih gue dapatkan nilai 75?" Hasil tugas kemarin di rumah baru dibagikan ketika mereka jam istirahat.


"Sumpah gue gak nyangka banget dapatin nilai 75, kenapa gue bisa sepintar ini ya?"


"Lo kenapa?"


"Gue tadi dapatin nilai 75 PR matematika. Lo tau sendiri kan gue gak pintar dan dapatin ranking mundur mulu."


"Dapatin nilai dari mana? Nyontek ya?"


"Gue sama sekali nggak pernah nyontek ya untuk urusan PR."


"Yakin nggak pernah nyontek sama siapapun sama si ranking 1 enggak pernah ngetik sama dia?"


"Maksud gue ini kali pertama gue nggak nyontek dia sisanya mah gue nyontek!" Ralat ucapannya dengan cepat.


"Hati-hati nanti beneran suka nanti sama dia dan gue bakalan menjadi pemenang."


"Gue tegaskan sama sekali gue nggak ada suka sama tuh orang dan gue ngedeketin dan mendapatkan nilai 75 ya karena gue pengen menjalankan misi gue supaya bisa dapetin hati dia terus ketika dia udah jatuh cinta sama gue, gue bakalan putusin dia itu kan syarat utama?"


"Kenapa sih lo pengen banget dia itu jatuh cinta sama gue? Padahal lo sendiri tahu kan bikin sakit hati orang itu jauh lebih sakit dan dampaknya bakalan ke diri sendiri? Tapi karena gua pengen dapetin hadiah jadi gue nggak peduli dengan sakit hati orang lain!"


"Ternyata lo ambisius juga ya orangnya."


***


Mario pun melihat Tania yang baru datang bersama kedua sahabatnya ia pun langsung berdiri dan menghampirinya mengajak untuk makan karena berkat dari Tania dia bisa ngedapetin nilai 75 yang tidak ia dapatkan selama ini. "Kalau bisa bareng makan bakso sama kita di sana?" Tunjuknya ke arah bangku Kevin dan Juan.


Tania, Sekar dan Giska terkejut sekali ketika Mario menghampiri mereka. Cowok keren seperti Mario bisa-bisanya mengajak Tania cewek cupu yang sangat dibully oleh semua. "Jadi gimana lo mau nggak makan bareng sama gue ke sana sama Juan sayang juga sama Kevin?"


"Kayaknya gue nggak bisa deh ya udah janji sama temen-temen gue buat makan di sini. Maaf banget ya."


"Ya udah kalau gitu gue makan di sini juga deh gue bayarin kalian bertiga gratis karena dia lagi baik hari ini. Pesan bakso dulu ya." Mario pun berdiri dan memesan bakso sama seperti menu makanan mereka bertiga.


"Makasih banyak ya lo udah bikin gue teman-teman gue nggak bayar makan bakso."


"Bener-bener ya Mario bikin gue dag dig dug. Yang sebenarnya rekor banget sih untuk mendapatkan perhatian dari Mario langsung cowok famous yang ada di sekolah kita." Ucap Sekar kepada Giska dan Tania hanya bisa diam saja menunduk kebawah mungkin dia grogi.


"Ini ucapan terima kasih gue karena lo udah bantuin gue buat ngerjain PR matematika dan gue dapetin hasil yang sangat memuaskan yaitu 75, ya walaupun menurut lo nilai segitu nggak ada apa-apanya sama nilai yang mau dapetin tapi gue senang banget. Dan sebagai tanda terima kasih gue ngajakin lo buat makan dan gratis."


"Sebenarnya ini terlalu berlebihan sih terlalu baik sama gue. Gue nggak ada niatan buat menaruh jasa sama lo."


"Ya udah makasih banyak ya gue makan dulu laper." Mereka sama-sama menyantap makanan yang ada di hadapan mereka. Seakan-akan ini menjadi tontonan antara Sekar dan Giska mereka hanya bisa diam dan saling tatap satu sama lain mendengar obrolan Mario dan Tania.


Dari ujung sana Vita berjalan dan menumpahkan tumpahan bakso sengaja di rok panjang Tania. "Astaga apaan sih lo ngelakuin apa Vita?"


"Gue nggak sengaja maaf banget ya." Dengan pedenya ia langsung pergi begitu saja tanpa minta maaf. Padahal pasang mata melihatnya melakukan ini dengan sengaja bukan karena tidak sengaja jelas-jelas mangkuk bakso itu sengaja ia tumpahkan ke area rok panjang Tania dan membuat rok panjang seragam sekolahnya itu kotor dengan tumpahan bakso yang sudah tersisa hampir habis.


Tania mengambil tisu yang ada di atas meja dengan cepat mengelap mengelapnya agar tumpahan bakso itu bersih. Walaupun tidak bersih seutuhnya tapi paling tidak terlihat lebih bersih kalau dibersihkan. "Ya udah yuk kita ke kelas aja." Ajak Sekar kepada Tania, yang hanya bisa melirik Mario yang terdiam kaku dalam pikirannya yakin Mario sudah bekerja sama dengan Vita.


"Ya udah yuk kita ke kelas aja. Nanti juga bakalan kering kok." Tania tidak berucap sama sekali ia langsung saja berdiri dan meninggalkan Mario.


Karena tak terima dengan sikap Vita tadi ia bergerak cepat untuk meminta pertanggungjawaban apa yang dilakukan Vita kepada Tania. Ia berteriak agar Vita berhenti dari langkahnya menuju ke arah kelas. "Vitaaaa, lo bisa berhenti sebentar nggak?"


"Iya kenapa?" Semudah itu menanyakan iya kenapa kepada Mario yang membuatnya hanya bisa menggeleng geleng kepala dengan sifat dari Vita yang sudah keterlaluan sekali.


"Lupa sama apa yang lo lakukan tadi sama Tania? Lo udah bikin rok dia itu kotor lupa ya? Lo harus minta maaf sama dia kalau misalkan lo nggak sengaja numpahin bekas bakso yang udah hampir habis tadi!"


"Kok masalah itu, dia ngadu-ngadu ya sama lo?"


"Tanpa dia ngadu-ngadu gue juga ngelihat dari mata kepala gue sendiri kalo tuh sengaja numpahin itu ke dia."


Mario pergi meninggalkan Vita dan ia pun mengarah kearah kelas karena kelas dirinya dan Tania hanya bersebelahan saja.


Ia memberanikan diri untuk masuk ke kelas Tania. "Tisu tambahan buat lo. Gue atas nama Vita meminta maaf ya mungkin ini gara-gara gue dia ngelakuin kayak gini?"


"Makasih banyak ya."


"Ya udah kalau gitu gue ke kelas dulu habis dari sekolah langsung dicuci ya." Senyumnya yang membuat mereka yang melihatnya memeleh dan dibikin baper.


"Coba lo pegang jantung gue Tania yang digituin gue yang deg-degan?" Iya benar jantung Sekar begitu berdebar lebih kencang dari sebelumnya yang standar atau normal.


"Gue takut nanti lo ditembak lagi sama Mario?"


"Hus jangan ngomong kayak gitu ucapan adalah doa! Gue cuma ngasih ini buat rasa bersalahnya mungkin gara-gara gue deket sama dia terus Vita berani buat melempar tumpahan bakso ke rok gue."


"Iya gue tahu kok gue kan bercanda! Jadi santai aja!"


Tania mengambil tisu yang diberikan Mario tadi lalu ia membersihkan kembali bekas tumpahan bakso ke rok panjang punya punya punya atau mengeluarkan air yang ada di dalam air yang ada di dalam botol minum yang ia tumpahkan sedikit demi sedikit untuk menghilangkan aroma bakso dan bekas tumpahan itu.